Sabda Hidup
Kamis, 27 Juni 2024, Kamis Pekan Biasa XII
Bacaan: 2Raj 24:8-17; Mzm 79:1-2.3-5.8.9; Mat 7:21-29.
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
MAT 7: 21
Seorang penginjil sedang berkotbah berapi-api, berbicara tentang kasih. “Kalau kita punya baju hendaknya kita beri kepada orang yang tidak punya. Kalau kita punya makanan di kulkas, bagikanlah kepada orang yang lapar. Kalau kita punya uang di dompet sedekahkanlah kepada mereka yang miskin!”
Keesokan harinya penginjil itu marah-marah. “Lho… di mana makanan yang saya simpan di kulkas tadi malam? Jasku yang kemarin tergantung di lemari sekarang ada di mana? Dan uang di dompetku juga berkurang tiga ratus ribu!” Mendengar kemarahannya itu anaknya menjawab: “Ayah, saya sudah berikan semuanya itu kepada orang miskin sesuai dengan kotbah ayah.” Penginjil itu berteriak: “Oh my God! Kotbah itu bukan untuk kita, tetapi untuk merekaaa….!!!”
Akhirnya kita sampai pada bagian penutup Khotbah di Bukit. Pelajaran hari ini memiliki dampak yang sangat jelas. Pada akhirnya, ini semua adalah perihal melakukan, mempraktikkan, dan menghidupi ajaran Yesus.
Jika dengan Injil kemarin kita merenungkan buah yang diperlukan untuk mendukung atau membuktikan nilai kita, pelajaran Injil hari ini lebih konkret lagi. Kita sering mengatakan, “buah, bukan akar.” Hari ini kita berkata, “perbuatan, bukan perkataan.”
Perbuatanlah yang lebih berarti. Perbuatanlah yang menjamin fondasi yang kuat dan kokoh dalam hidup kita. Perbuatan memastikan bahwa kita tidak terjebak hanya dengan niat baik dan cita-cita mulia. Dengan melakukan, segala sesuatu diterjemahkan menjadi kenyataan, diselesaikan hingga tuntas, dan membuahkan hasil.
Kebalikan dari semua itu adalah bencana dan malapetaka. Secara metaforis, ini bahkan lebih buruk daripada gempa bumi dan topan, kapal yang terbalik, dan jalan-jalan yang dilanda banjir. Kata-kata yang diucapkan menjadi sia-sia atau tidak ada artinya. Sungguh sangat disayangkan!
Tentu saja, Yesus adalah teladan dan guru kita dalam hal ini. Dia tahu betul nilai dari sebuah perkataan, dan Dia tidak ragu-ragu untuk berbicara dan mengajar. Tetapi yang lebih penting lagi, Dia memberikan kesaksian atas perkataan-Nya sendiri. Dia mendukungnya dengan perbuatan nyata berupa cinta dan belas kasihan, pengampunan dan penyembuhan. Oleh karena itu, kita dapat memahami dan menghargai ayat terakhir dengan lebih baik: “Orang banyak itu takjub mendengar perkataan-Nya, karena Ia mengajar mereka sebagai orang yang mempunyai kuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”
Kita yang melayani, khususnya dalam pelayanan pengajaran dan khotbah, sebaiknya memeriksa dan bertanya pada diri sendiri: Apakah saya hanya menjadi “ahli Taurat” bagi orang lain? Atau apakah kita seperti Yesus bagi mereka?
Paus Fransiskus berkata: “Let us all remember this: one cannot proclaim the Gospel of Jesus without the tangible witness of one’s life. Ingatlah akan hal ini: seseorang tidak dapat mewartakan Injil Yesus tanpa kesaksian nyata dalam hidupnya.”
Tuhan, bantu aku agar tidak hanya menjadi pendengar sabda, tetapi melaksanakannya. Bantu aku untuk menyatakan dalam tindakan apa yang aku katakan. Amin.
