Remah Harian

MASUK LUBANG JARUM

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 16 Agustus 2022, Selasa Pekan Biasa XX
Bacaan: Yeh. 28:1-10; MT Ul. 32:26-27ab,27cd-28,30,35cd-36dMat. 19:23-30.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

(Matius 19: 23 – 24)

Apakah Yesus sungguh-sungguh menentang kekayaan (Mt 19: 23)? Mengapa ia menyampaikan peringatan keras kepada orang kaya (juga kepada kita yang ingin menjadi kaya)? Kita tahu bahwa Yesus tidak menentang kekayaan, Ia juga tidak menentang orang-orang kaya. Banyak di antara pengikut-Nya yang kaya, termasuk para pemungut cukai. Bahkan salah seorang pemungut cukai menjadi rasul-Nya! Apa yang disampaikan Yesus menggemakan kebijaksanaan Perjanjian Lama: “Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya,” (Amsal 28: 6); “Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik,” (Mzm 37: 16); “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini,” (Amsal 23: 4).

Akan tetapi, mengapa Ia mengatakan “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”? Unta dipandang sebagai binatang yang terbesar di Palestina. Sedangkan “lubang jarum” dapat dipahami baik secara harafiah maupun secara figuratif menggambarkan gerbang yang rendah dan sempit pada dinding kota, yang digunakan ketika gerbang utama sudah ditutup dan dikunci pada waktu malam. Orang harus menunduk ketika melewati gerbang kecil dan sempit itu. Unta harus merangkak dan melepaskan beban-bebannya untuk memasukinya.

Demikianlah, di hadapan Allah, kita harus “berlutut” dan “merangkak” merendahkan diri, melepaskah ego kita serta mengakui kebutuhan dan ketergantungan total kepada-Nya. Tanpa merendahkan diri di hadapan-Nya kita tidak akan mendapatkan damai, rasa aman dan kebahagiaan yang sejati. Hanya Allah saja yang dapat memuaskan kebutuhan dan kerinduan kita yang terdalam.

St. Agustinus pernah berkata:

“Meskipun engkau berkelimpahan, engkau tetap miskin. Engkau berkelimpahan akan barang milik yang sementara, sedangkan engkau membutuhkan yang abadi. Engkau memperhatikan kebutuhan pengemis, sendangkan engkau sendiri adalah seorang pengemis di hadapan Allah. Apa yang kau perbuat terhadap mereka yang mengemis kepadamu, itulah yang akan dilakukan Allah kepadamu…. Penuhi kekosongan sesamamu dari kepenuhanmu, agar kekosonganmu diiisi oleh kepenuhan Allah.”

(Kotbah 56, 9)

Tuhan telah membuka hati kita bagi kekayaan surgawi. Semoga Ia selalu menjadi kekayaan dan kegembiraan kita dan semoga tiada hal-hal lain yang menghalangi kita untuk mempersembahkan segalanya kepada-Nya.

Author

Write A Comment