Sabda Hidup
Rabu 1 Januari 2025, Hari Raya Maria Bunda Allah, Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian
Bacaan: Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.
Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk 2: 16 – 19)
Nama “Januari” berasal dari nama dewa Romawi Janus, dewa dengan dua wajah, satu memandang ke masa lalu dan yang lain melihat ke masa depan. Saat ini memang waktu untuk melihat kembali tahun yang baru saja berakhir dan memandang tahun yang baru di depan kita. Bagaimana saya menggunakan satu tahun hidup saya yang baru saja berlalu? Apakah saya menggunakannya untuk mencapai tujuan dan sasaran saya dalam kehidupan? Apakah saya menggunakannya untuk meningkatkan tujuan keberadaan saya? Apakah saya menggunakan waktu saya dengan baik tahun lalu, antara tuntutan pekerjaan, keluarga, sahabat, masyarakat, dan tuntutan kehidupan rohani saya? Hal-hal apa yang saya capai tahun lalu dan apa yang gagal saya capai? Bagaimana saya bisa mengkonsolidasikan pencapaian tahun lalu sambil mengusahakan yang lebih baik di tahun baru ini? Pertanyaan-pertanyaan ini mengarahkan kita pada resolusi kita di tahun yang baru.
Mungkin ada yang mengatakan kepada Anda bahwa tidak ada gunanya membuat resolusi tahun baru. Tetapi, kita perlu menetapkan tujuan dan membuat resolusi sebagai kesimpulan yang diperlukan untuk meninjau kehidupan kita tahun lalu. Dan kita perlu meninjau kehidupan kita dari tahun ke tahun karena, seperti kata Socrates, “kehidupan yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani.”
Injil hari ini menghadirkan Maria kepada kita sebagai model kehidupan baru di dalam Kristus yang kita semua harapkan untuk diri kita di tahun yang baru. Di sana kita melihat bahwa Maria siap melakukan hal yang perlu untuk mewujudkan tujuan ini. Apa yang dia lakukan? Kita membaca bahwa para gembala, ketika mereka pergi untuk menyembah Anak Yesus di palungan, mengatakan semua yang dikatakan para malaikat kepada mereka. “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (Lukas 2:19). Lagi setelah Anak Yesus ditemukan di Bait Suci, juga dikatakan “ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” (Lukas 2:51). Maria adalah seorang yang menghargai firman Allah, ia menghargainya dan meluangkan waktu untuk merenungkannya. Memang benar bahwa kekudusan Maria berhubungan erat dengan rahmat Allah, tetapi itu tidak membuat kita lupa bahwa dia perlu melakukan upaya untuk bekerja sama dengan rahmat Allah. Dia merenungkan firman Tuhan untuk memahami apa yang Tuhan katakan kepadanya di setiap tahap dalam hidupnya sebagai hamba Tuhan.
Dua contoh di atas menunjukkan bahwa Maria menemukan firman Allah dalam wahyu ilahi (kata-kata para malaikat kepada para gembala) dan dalam pengalamannya sendiri (perjumpaannya dengan Putranya di bait suci). Demikian pula Allah berbicara kepada kita hari ini melalui wahyu ilahi (mis. Kitab Suci, pengajaran dan khotbah di Gereja) serta melalui pengalaman pribadi kita, jika saja kita meluangkan waktu untuk merenungkannya seperti Maria.
Apa pun situasi di mana kita menemukan kesulitan, kekecewaan, harus membuat keputusan, Tuhan punya solusi, jawaban yang tepat untuk kita. Kita sampaikan hal itu kepada Tuhan dalam doa tetapi kita juga mendengarkan apa yang Tuhan katakan kepada kita tentang hal itu. Mari kita hari ini bertekad untuk lebih mendengarkan suara Tuhan, untuk menghargai firman Tuhan dan merenungkannya dalam hati kita. Maka kita akan dapat mewujudkan resolusi tahun baru kita akan kehidupan baru dalam persatuan dengan Allah.
Mari mengawali Tahun yang baru dengan niat baik untuk menjadi murni dan kudus seperti Maria, Bunda kita. Setiap ibu ingin agar anak-anaknya mempunyai karakter dan kualitas-kualitas yang baik. Maka, kita hormati Maria, Ibu kita bersama, dengan menghidupi keutamaan-keutamaannya: iman, ketaatan terhadap Sabda Allah, kemurnian, kerendahan hati, dan pelayanan yang tulus dan tak ingat diri.
Terima kasih telah menjadi saluran berkat Tuhan dalam hidup saya melalui doa-doa Anda yang berharga dan dukungan yang membesarkan hati untuk pelayanan saya di tahun yang lalu. Saya akan ingat anda di Tahun Baru 2025 dalam doa-doa dan Ekaristi yang saya rayakan. Kiranya Roh Kudus Tuhan terus menguatkan dan membimbing Anda dalam pelayanan dan menguatkan Anda dalam perjuangan Anda. Semoga Tuhan memberkati Anda setiap hari di Tahun Baru ini! Selamat Tahun Baru!
