Sabda Hidup
Senin, 22 Juli 2024, Pesta St. Maria Magdalena
Bacaan: Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Yoh. 20:1,11-18.
Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” [Yoh 20: 15]
Hari ini Gereja merayakan pesta saksi pertama dari Tuhan yang Bangkit – Maria Magdalena. Dia adalah satu-satunya murid perempuan Yesus, yang disebut namanya oleh keempat penulis Injil. Sebagai saksi penyaliban, kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus, dia juga orang pertama yang melihat kubur yang terbuka. Tuhan memilihnya untuk menjadi pembawa warta kebangkitan yang pertama kepada para rasul lainnya, yang membuatnya mendapat gelar “Rasul di antara para rasul.”.
Kata-kata pertama Yesus yang dicatat dalam Injil Yohanes adalah sebuah pertanyaan yang ditanyakan Yesus kepada dua murid Yohanes Pembaptis: “Apa yang kamu cari?” Semua yang Yesus ajarkan dan lakukan kemudian dalam Injil Yohanes menjawab pertanyaan itu: Kita mencari jalan, kebenaran, hidup, dan roti dari surga yang memuaskan rasa lapar kita.
Di akhir Injil, seperti yang kita baca dalam perikop hari ini, pertanyaan ini diulang kembali: Sesuai dengan adat istiadat Yahudi, Maria Magdalena pergi untuk meminyaki tubuh Yesus pada hari Minggu Paskah pagi. Namun, ia menemukan Yesus berjalan di taman, meskipun ia tidak mengenalinya. Yesus menoleh kepadanya dan mengulangi pertanyaan yang disampaikan-Nya kepada para murid di awal karya-Nya, diajukannya kepad Maria: “Apa yang engkau cari? ”
Jawaban Maria mengungkapkan kesedihannya untuk seorang yang amat dikasihinya. Biasanya di taman adalah tempat di mana sepasang kekasih bertemu. Yesus menanggapi dengan kasih, memanggilnya dengan nama: “Maria”, dan dia tersungkur di depan kaki-Nya.
Itulah inti dari keseluruhan Injil: Apa yang pada akhirnya kita cari? Kerinduan dan kasih yang mendorong kita masuk ke dalam taman – relasi yang intim, dekat dengan Tuhan – adalah untuk mendengar Tuhan menyebut nama kita dengan penuh kasih. Untuk mendengarTuhan dengan penuh kasih memanggil kita dengan nama kita: (….. isilah dengan nama anda ….)
Berikut ini adalah sebuah puisi dari teolog terkenal Pater Ron Rolheiser tentang perjumpaan Maria Magdalena dan Yesus di taman, yang menggambarkan Maria Magdalena ingin tetap lekat pada cara relasi yang lama dengan Yesus, namun ia harus melepaskan, meninggalkan cara lama dan mengenakan cara yang baru dalam relasi dengan Yesus.
I never suspected
Resurrection to be so painful… to leave me weeping
With joy to have met you, alive and smiling, outside an empty tomb
With regret, not because I’ve lost you but because I’ve lost you in how I had you — in understandable, touchable, kissable, ‘clingable’ flesh not as fully Lord, but as ‘graspably’ human. I want to cling, despite your protest cling to your body cling to your, and my, clingable humanity cling to what we had, our past.
But I know that…if I cling, you cannot ascend and I will be left clinging to your former self …unable to receive your present spirit.
Aku tidak pernah menduga
Kebangkitan begitu menyakitkan… membuatku menangis
Dengan sukacita karena telah bertemu dengan-Mu, hidup dan tersenyum, di luar sebuah kubur kosong
Dengan penyesalan, bukan karena aku telah kehilangan-Mu, tetapi karena aku telah kehilangan cara bagaimana aku memiliki-Mu – dalam daging yang dapat dimengerti, dapat disentuh, dapat dicium, dan ‘dapat dipegang’, bukan sebagai Tuhan sepenuhnya, tetapi sebagai manusia yang ‘dapat dipegang’.
Aku ingin melekat, meski Engkau melarang, melekat pada tubuh-Mu, melekat pada kemanusiaan-Mu, dan kemanusiaanku, yang dapat melekat pada apa yang kita miliki, masa lalu kita.
Tetapi aku tahu bahwa… jika aku melekat, Engkau tak dapat naik dan aku akan tetap melekat pada diri-Mu yang dulu… tidak dapat menerima roh-Mu saat ini.
[Pater Ronald Rolheiser, Mary Magdala’s Easter Prayer in Forgotten Among the Lillies, hal. 176.]
Tuhan, seperti Sta Maria Magdalena mencari-Mu, semoga aku juga mencari Engkau sampai aku sungguh menemukan-Mu, mengasihi-Mu. Aku rindu Engkau menyebut namaku. Amin.
