Remah Harian

MARIA BUNDA GEREJA, JALAN MENUJU KEKUDUSAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 9 Juni 2025, Senin Sesudah Pentakosta, Peringatan Wajib Maria Bunda Gereja.
Bacaan: Kej 3:9-15, 20 atau Kis 1:12-14Mzm 87:1-2,3,5,6-7, R:3; Yoh. 19:25-34.

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”
(Yoh 19: 25 – 27).

Hari ini, Senin setelah Pentakosta, kita merayakan Peringatan Santa Perawan Maria, Bunda Gereja — sebuah gelar yang mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat menghibur: Yesus tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Dari salib, Ia mempercayakan Maria tidak hanya kepada Yohanes, tetapi kepada kita semua. Ia adalah Bunda Gereja, Bunda kita masing-masing.

Peringatan ini ditetapkan pada tanggal 3 Maret 2018 oleh Paus Fransiskus. Peringatan ini menandakan peran penting Maria dalam iman kita. Ia hadir bersama para murid, berdoa bersama komunitas Kristen pertama, dan dengan penuh harap menantikan karunia Roh Kudus. Dan Maria, Bunda kita yang terkasih, terus mendoakan kita dalam doa.

Sebenarnya, gelar Maria Bunda Gereja bukanlah gelar yang baru. Santo Paus Paulus VI memaklumkannya pada tahun 1964. Santo Yohanes Paulus II juga mendorong devosi kepada Maria dengan gelar ini. Namun baru pada tahun 2018, gelar ini menjadi perayaan liturgi, berakar pada kebenaran yang indah: pada hari Gereja dilahirkan, Ibunya sudah hadir — diam, berdoa, berani, berkumpul bersama para Rasul di Ruang Atas.

Bacaan Injil menampilkan Maria berdiri di kaki salib Yesus. Sungguh, ia berdiri di kaki setiap salib. Dia tidak lari dari penderitaan. Dia berdiri. Dan itulah yang dilakukan seorang ibu. Dia tinggal. Dia berharap. Dia percaya — bahkan ketika semuanya tampak hilang.

Darinya kita belajar bagaimana menjadi Gereja: bukan menjadi kelompok tertutup atau tempat berlindung orang-orang yang takut, tetapi komunitas yang berdamai dan misioner. Ketika kita tergoda untuk mundur, fokus pada diri sendiri, menjadi Gereja yang hanya mempertahankan diri ketimbang Gereja yang bermisi, Maria berkata kepada kita: pergilah! cintailah! layanilah! percayalah pada Roh Kudus!

Dia membantu kita hidup sesuai Injil Sabda Bahagia — bukan sebagai teori, tetapi sebagai jalan. Kesucian bukan tentang tindakan besar. Tetapi tentang langkah-langkah kecil setiap hari — menjadi miskin dalam roh, lemah lembut, pengasih, dan murni hati. Para kudus, terutama “orang-orang kudus di sekitar kita,” orang-orang yang kita cintai, sedang menyemangati kita.

Jadi hari ini, mari kita berjalan bersama Maria, Bunda Gereja, menuju rumah sejati kita. Dia yang adalah Pintu Surga kini berjalan di samping kita — untuk mengajar kita, membimbing kita, dan, ketika waktunya tiba, untuk menyambut kita pulang.

Ya Allah, Bapa yang penuh belas kasih, ketika Ia tergantung di salib, Putera Tunggal-Mu memilih Maria yang Terberkati, Ibu-Nya, untuk menjadi Ibu kami juga. Semoga dengan pertolongan kasih-Nya, Gereja-Mu semakin berbuah setiap hari dan, bersukacita dalam kekudusan anak-anak-Nya, dan dapat menarik ke dalam pelukan-Nya semua keluarga bangsa-bangsa. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama-Mu dalam kesatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Author

Write A Comment