Sabda Hidup
Rabu, 16 Oktober 2024, Rabu Pekan Biasa XXVIII
Bacaan: Gal 5:18-25; Mzm 1:1-2.3.4.6; Luk 11:42-4
Celakalah kamu!” (Luk 11: 42)
Kita lanjutkan membaca dari Lukas bab 11, di mana Yesus melanjutkan kritik-Nya terhadap orang-orang Farisi. Seperti yang telah kita renungkan kemarin, Lukas menggunakan ajaran-ajaran Yesus ini untuk memperingatkan anggota komunitasnya sendiri agar tidak menghakimi orang lain. Orang-orang Farisi menekankan ketaatan pada Hukum Musa. Ketaatan yang cermat terhadap hukum dan berbagai tradisi yang terakumulasi selama berabad-abad tidak dapat dihindari oleh seorang Yahudi yang saleh.
Para ahli Taurat dan orang Farisi – para pemuka agama – dianggap sebagai penjaga dan penafsir Taurat.
Yesus nampak kesal dan marah kepada para pemimpin agama ini karena mengkhotbahkan pengajaran yang salah dan menampilkan wajah Tuhan yang salah kepada umatnya. Para pemimpin agama itu mengajarkan kepada orang-orang untuk menerima perintah-perintah Allah, agar mereka tidak dihukum. Menurut tradisi dan penafsiran mereka, menjaga kesucian diri mereka dengan mengikuti ritual penyucian, memelihara hari Sabat, dan membayar persepuluhan adalah cara-cara untuk menyenangkan Tuhan dan menghindari hukuman-Nya.
Hal ini terdengar tidak asing lagi bahkan di zaman kita sekarang ini. Bahkan saat ini, ada orang-orang yang percaya bahwa Allah itu menghukum. Ada banyak orang yang berpegang teguh pada ketaatan pada tradisi-tradisi sebagai bagian terpenting dari kehidupan iman mereka. Terkadang para pemimpin gereja lebih ingin melestarikan praktik-praktik tradisional daripada membawa orang-orang kepada kasih yang lebih dalam kepada Kristus dan satu sama lain. Tradisi dan ritual keagamaan memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan perintah Yesus yang paling utama: Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.
Semakin kita memperbanyak aturan, semakin kita berusaha mengendalikan hidup orang lain. Dengan adanya kendali atas orang lain, muncullah godaan untuk menghakimi mereka. Pada saat yang sama, kita sendiri berada dalam bahaya berpikir bahwa kita lebih suci dari yang lain karena kita mengikuti aturan. Dan ini adalah penghalang terbesar bagi kekudusan! Yesus menyerang orang-orang Farisi karena sikap mereka yang haus perhatian dan haus kekuasaan.
Di masa lalu, para imam di Gereja mengharapkan penghormatan yang sama diberikan kepada mereka. Orang-orang sering kali dengan sukarela melakukannya karena mereka benar-benar menghormati uskup atau imam mereka. Namun, seperti yang biasa dikatakan, habit tidak menjadikan seseorang biarawan, jubah tidak menjadikan seseorang imam, atau mitra tidak menjadikan seseorang uskup.
Farisiisme masih hidup dan berkembang dalam masyarakat kita, tetapi orang pertama yang harus kita periksa adalah diri saya sendiri. Dalam upacara Penahbisan Diakon, Uskup akan memberikan sebuah instruksi yang sangat penting kepada orang yang ditahbiskan sebagai Diakon: ‘Percayalah pada apa yang engkau baca. Ajarkanlah apa yang engkau percayai. Laksanakanlah apa yang engkau ajarkan.
Tuhan, semoga kami tidak hanya mementingkan tampilan luaran saja, tetapi memperhatikan hal-hal yang penting: kejujuran, keadilan, dan kasih. Amin.
