Remah Harian

LA MORTAJA NO TIENE BOLSILLOS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 17 Juni 2022, Jumat Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Raj. 11:1-4,9-18,20Mzm. 132:11,12,13-14,17-18Mat. 6:19-23.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

(Mat 6: 19 – 21)

Perikop Injil hari ini yang merupakan bagian dari Khotbah di Bukit mengajak kita untuk mengumpulkan harta yang sejati dan abadi di Surga, dengan menghidupi kebenaran di bumi, melakukan kehendak Tuhan dan berbagi berkat dengan mereka yang membutuhkan. Yesus menggunakan dua metafor, yang satu menjelaskan kebodohan menyimpan harta yang fana di bumi dan yang lain menunjuk pada visi gelap yang disebabkan oleh kesombongan dan prasangka.

Hati manusia mendambakan harta yang akan memberinya keamanan dan kebahagiaan abadi. Tetapi harta kekayaan sangat sering membuatnya terus-menerus khawatir karena kekayaan dapat hilang, dihancurkan atau dicuri, atau bahkan hidupnya dapat berakhir dengan tiba-tiba. Satu-satunya harta yang akan bertahan sampai kekal adalah harta di Surga. Harta seperti itu hanya mungkin diperoleh dengan berbagi berkat Tuhan dengan kasih dan pengorbanan kepada orang lain dan dengan menjalani hidup yang lurus dengan melakukan kehendak Tuhan dengan kasih karunia-Nya.

Pada bagian kedua, Yesus membandingkan mata manusia dengan pelita yang memberi tubuh cahaya. St Thomas Aquinas dalam komentarnya tentang Matius memberikan penjelasan berikut: “Mata mengacu pada motif. Ketika seseorang ingin melakukan sesuatu, pertama-tama ia membangun niat: jadi, jika niat Anda masuk akal – sederhana dan jelas – artinya, ditujukan kepada Tuhan, seluruh tubuh Anda (yaitu, semua tindakan Anda), akan sehat, dengan tulus diarahkan pada kebaikan.” Penglihatan yang buruk juga merupakan gambaran Alkitab untuk kebodohan dan kebutaan rohani. Kebutaan seperti itu disebabkan oleh kesombongan, prasangka, kecemburuan, kebencian, dll., yang akan menghancurkan penilaian kita yang adil dan benar.

Maka, sabahat-sahabat, mari kita pergunakan hidup kita di dunia ini untuk berbuat baik bagi sesama tanpa dibutakan oleh kesombongan dan prasangka. Dengan demikian, kita akan “menimbun” harta abadi di Surga.

Orang bilang, hiduplah selalu menuju akhir zamanmu! Nanti setelah mati kita akan menikmati harta yang kita kumpulkan sepanjang hidup. Jadi pertanyaannya adalah, “Apakah saya mengumpulkan harta di sorga? Atau kita mengumpulkannya untuk kita nikmati di bumi sekarang ini?” Ada ungkapan bahasa Spanyol yang berbunyi: “La mortaja no tiene bolsillos”. Tidak ada saku pada kain kafan.

***

Seorang yang kaya raya terbujur di pembaringan, mendekati ajalnya. Seluruh hidupnya terpusat pada satu hal: uang. Ketika ajal hendak menjemputnya, ia juga berpikir, bahwa dalam kehidupan sesudah mati pun, uang adalah segalanya. Maka ia berpesan agar sebuah kantong besar dipenuhi dengan koin emas dan nanti diletakkan di samping jenasahnya dalam peti. Pesan terakhirnya itu pun dipenuhi.

Di dunia sesudah mati, seorang malaikat yang memegang buku catatan kehidupan yang berisi tentang perbuatan-perbuatan baik yang telah diperbuat manusia berusaha menemukan namanya. Tetapi sudah lama sekali malaikat itu membolak-balik halaman demi halaman belum juga menemukan nama orang itu. Karena sudah terlalu lama, orang itu sudah merasa lapar dan haus. Ia melihat sekeliling. Nah, benar saja, ia melihat sebuah warung makan tidak jauh dari situ. “Aha…” katanya pada diri sendiri. “Benar seperti yang aku pikirkan… Untung saja aku membawa uang bersamaku!

Saking lapar dan hausnya, ia bergegas menghampiri warung makan tersebut. Di sana ia harus membayar terlebih dahulu sebelum ia dapat menikmati pesanannya. Ketika ia hendak membayar, kata penjaga di situ: “Pak, uang yang laku di sini hanyalah uang yang sudah pernah diberikan kepada orang lain atau disumbangkan sewaktu anda masih hidup.” Orang kaya itu tertunduk lesu. Ia berusaha mengingat-ingat kapan ia pernah memberikan atau menyumbangkan uangnya kepada orang lain…. tetapi tak satupun dapat ditemukannya…

Author

Write A Comment