Remah Harian

KITA DIPANGGIL MENJADI KUDUS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 1 November 2024, Hari Raya Semua Orang Kudus
Bacaan: Why. 7:2-4,9-14Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-61Yoh. 3:1-3Mat. 5:1-12a.

Pada tanggal 31 Agustus 1997 Putri Diana, Princess of Wales, meninggal, akibat kecelakaan mobil di terowongan Pont de L’Alma, Perancis. Pada tahun yang sama, tidak lama sesudah Putri Diana meninggal, seorang perempuan yang namanya juga mendunia meninggal. Dia adalah Ibu Teresa dari Calcutta, yang meninggal pada tanggal 5 September 1997.

Apa perbedaan antara dua perempuan tersebut? Nama mereka sama-sama mendunia.  Yang seorang memiliki kehidupan yang sangat suci, sedangkan yang satunya lagi adalah seorang selebriti. Tentu Putri Diana melakukan banyak hal yang baik dan indah selama hidupnya. Ia memiliki kasih dan cinta untuk orang-orang yang kurang beruntung. Tetapi, kesucian lebih dari sekadar kedermawanan dan cinta sesama. Kesucian jauh melampaui kedermawanan dan cinta sesama.

Ketika seseorang dikanonisasi menjadi orang suci, Gereja menyatakan bahwa ia adalah seseorang yang menjadi teladan keutamaan luar biasa atau ‘heroik’ dalam hidupnya: punya iman yang luar biasa, harapan yang tak tergoyahkan – bahkan di tengah cobaan yang luar biasa –  dan amal kasih yang besar. Tentu ia menghidupi semangat seperti yang disebutkan dalam Injil hari ini: menghidupi Sabda Bahagia dengan cara yang radikal. Itulah sebabnya Gereja mengatakan bahwa orang-orang ini layak untuk dihormati dan diteladani. Mereka sama manusiawinya dengan kita semua, namun benar-benar miskin dalam roh, artinya, secara konsisten menaruh kepercayaan kepada Tuhan; mereka dengan yakin mencari kekuatan di dalam Tuhan di tengah semua penderitaan dan mereka benar-benar berdukacita atas dosa-dosa mereka. Mereka tulus dan rendah hati; mereka menginginkan kesucian lebih dari apapun dalam hidup; mereka menunjukkan belas kasihan kepada semua orang, bahkan musuh mereka; mereka bekerja tanpa kenal lelah untuk perdamaian; dan mereka dengan senang hati menderita penganiayaan demi Kristus dan iman mereka. Itu berarti bahwa mereka bukan hanya menjadi orang-orang baik.  Mereka jauh dari sekadar menjadi orang baik.

Dalam hal ini, kesucian dan selebritas tidak sama. Orang-orang yang sangat suci biasanya juga terkenal. Ibu Teresa tentu saja suci dan terkenal. Tapi seorang selebriti yang hebat belum tentu suci. Dan selain itu, ada banyak orang yang dalam diam menghidupi kekudusan dan sekarang berada di surga. Mereka itu adalah orang-orang suci yang tidak terkenal, tidak dikanonisasi, tidak dibeatifikasi, anonim, namanya juga tidak ditemukan dalam kalender liturgi Gereja. Orang-orang kudus ini bisa saja kakek, nenek, orang tua, suami dan istri, paman dan bibi, guru dan profesional lainnya, teman, anak, saudara laki-laki dan perempuan, keponakan, sepupu dan sebagainya dan sebagainya, yang sudah meninggal. Mereka tidak melakukan hal yang luar biasa tapi mereka tahu bagaimana mengasihi dengan sungguh-sungguh. Merekalah yang kita rayakan pestanya hari ini.

Selama kita hidup di dunia ini, kita memiliki jalan hidup yang berbeda-beda: ada yang menjadi petani, guru, pegawai pemerintah, pengusaha, dokter, pedagang; sebagian masih muda dan yang lain sudah tua; ada yang berumah tangga dan yang lain tidak menikah, dan sebagainya, namun di atas semua perbedaan itu, sebagai orang Kristiani, sebagai orang Katolik, kita memiliki tujuan yang sama; di manapun kita berada, apapun pekerjaan kita, kita dipanggil untuk menjadi Kudus! Biasanya kita akan mengatakan: “Mana bisa orang berdosa seperti saya ini menjadi kudus?” Namun itulah kehendak Tuhan sebagaimana Paulus katakan dalam suratnya kepada umat di Tesalonika bahwa Ia mau supaya kita menjadi kudus (1 Tes 4: 3). Dan Tuhan tidak mungkin meminta dari kita sesuatu yang mustahil!

Kita sangat terberkati dengan adanya orang-orang kudus jaman modern yang hidup pada masa hidup kita: di antaranya adalah Padre Pio, Ibu Teresa, Paus Yohanes Paulus II, Carlo Acutis. Mereka mengingatkan kita bahwa kekudusan itu dapat kita jangkau. Ada orang-orang kudus yang masih hidup di tengah-tengah kita, saat ini – seperti Anda, atau seseorang di samping anda! Tidak mungkin? Itu juga yang dipikirkan oleh orang-orang kudus. Kekudusan bukanlah pencapaian atau prestasi manusiawi tetapi anugerah Allah yang bersinar melalui hidup kita.

“Tuhan meminta segalanya dari kita, dan sebagai imbalannya dia menawarkan kepada kita kehidupan sejati, kebahagiaan untuk apa kita diciptakan. Dia ingin kita menjadi orang suci dan tidak tinggal dalam keberadaan yang hambar dan biasa-biasa saja,” Gaudete et Exultate, no. 1.

Tuhan, semoga benih-benih kekudusan bertumbuh dalam hati dan perbuatan kami. Amin.

Author

Write A Comment