Remah Harian

KITA ADALAH DOMBA DAN GEMBALA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 10 Desember 2024, Selasa Pekan Advent II
Bacaan: Yes. 40:1-11Mzm. 96:1-2,3,10ac,11-12,13Mat. 18:12-14.

Yesus mengatakan hal itu setelah Ia memberikan perumpamaan tentang domba yang hilang. Sang gembala meninggalkan yang 99 dan pergi mencari 1 ekor domba yang hilang. Yesus berkata: “Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat,” (Mat 8: 13). Lho, koq Bapa di surga lebih gembira atas seekor domba yang hilang daripada 99 ekor yang tidak sesat? Tidak adil dong kalau begitu? Nampaknya tidak adil dan Bapa nampak lebih gembira atas seekor yang hilang, jika kita tidak pernah menyadari bahwa kita masing-masing lah seekor yang hilang itu.

Mari kita perhatikan betapa besar keinginan sang Gembala itu untuk menemukan kita. Betapa besar usaha-Nya yang tanpa lelah untuk menemukan kita. Seorang gembala meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba di lereng bukit untuk mencari seekor domba yang tersesat. Bagi pikiran praktis, keputusan ini tampak gegabah. Namun, seperti yang sering diingatkan oleh Paus Fransiskus, perumpamaan ini menyingkapkan kasih Allah yang radikal dan tak terukur – kasih yang menentang logika manusia.

Sering kali kita menjadi domba yang hilang. “Hilang” karena dosa-dosa kita menyebabkan ketakutan, kekhawatiran, kebingungan, kemarahan, keresahan, kegalauan…… Tetapi ketika kita menyadari bahwa Sang Gembala tiada henti berusaha untuk menemukan kita, kita boleh berpengharapan. Kita punya pengharapan karena Allah sangat peduli terhadap kita masing-masing sehingga tiada henti mencari kita. Dan ketika Ia menemukan kita, Hati-Nya penuh dengan suka-cita.

Selain kita melihat diri kita sebagai domba yang hilang, perlulah juga kita melihat diri kita sebagai gembala. Sebagai domba yang hilang, kita diingatkan akan kebutuhan kita akan belas kasihan Tuhan dan jaminan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita, tidak peduli seberapa jauh kita tersesat. Dia lebih bersukacita atas kembalinya kita daripada orang lain yang tetap selamat – sebuah kasih yang disebut Paus Fransiskus sebagai “luar biasa” dan “tak terselami.”  

Sebagai domba yang hilang, mari kita kembali kepada-Nya. Kita perlu mengakui dosa-dosa kita agar kita berdamai kembali dengan-Nya. Perlulah kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita membutuhkan pengampunan-Nya untuk menjadi utuh. Ia tidak akan membiarkan kita hilang dan selalu siap sedia menerima kita kembali.

Sebagai gembala, kita didorong untuk merangkul absurditas ilahi ini. Seberapa sering kita menahan belas kasih kepada mereka yang tidak kita sukai, mereka yang berada di luar kelompok kita, atau mereka yang menantang kita, hanya karena hal itu terasa tidak nyaman atau tidak masuk akal? Paus Fransiskus memperingatkan kita untuk tidak memiliki iman yang suam-suam kuku dan tidak memiliki keberanian. Dia mendesak kita untuk memiliki hati seorang gembala – yang mencari, berkorban dan bersukacita dalam pemulihan mereka yang terhilang.

Kiranya kita belajar untuk bersukacita dalam menemukan yang terhilang dan belajar memiliki kasih tanpa batas seperti Sang Gembala Agung.

Terima kasih, Tuhan, karena tidak pernah meninggalkanku, karena selalu mengikuti dan menemukanku di mana pun aku berada, apa pun yang telah aku lakukan. Berilah aku pula hati seorang gembala, yang mencari dan menemukan mereka yang hilang dan membawa mereka kembali kepada-Mu. Amin.

Author

Write A Comment