Remah Harian

KEWARGANEGARAAN GANDA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 12 Agustus 2024, Senin Pekan Biasa XIX
Bacaan: Yeh. 1:2-5.24-2:1aMzm. 148:1-2.11-12ab.12c-14a.14bcdMat. 17:22-27.

Pada bulan Maret 2018, Paus Fransiskus menerbitkan seruan apostolik yang berjudul Gaudete et Exsultate (Bergembiralah dan Bersorak-sorailah). Tema umumnya adalah tentang panggilan universal untuk kekudusan yang diberikan kepada semua pria dan wanita. Di dalamnya, Paus Fransiskus juga mengoreksi anggapan umum bahwa menjadi kudus berarti hanya berfokus pada apa yang disebut “dimensi spiritual” dan mengabaikan hal-hal duniawi.

Menjadi kudus, menurut Bapa Suci, berarti menjalani hidup yang integral, yaitu keseimbangan dimensi spiritual dan fisik manusiawi. Seorang pribadi yang utuh adalah seorang manusia keseluruhan. Keutuhan adalah kekudusan. Ini adalah hikmat alkitabiah.

Dalam Injil hari ini, Yesus dan murid-murid-Nya ditantang oleh penguasa duniawi untuk membayar pajak Bait Allah, sebuah masalah sekuler dan duniawi. Sebagai tanggapan, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan hipotetis kepada Petrus: “Apakah pendapatmu, Simon?” Dia bertanya. ” Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” (Mt 17: 25).

Jawaban yang logis tentu saja adalah “dari orang asing” karena anak-anak raja-raja dibebaskan dari pajak. Yesus, tentu saja, tidak tunduk pada pajak sekuler apa pun karena Dia adalah Anak Allah. Segala sesuatu tunduk kepada-Nya. Apalagi yang menjadi topik pertanyaan adalah pajak bait Allah. Bait Suci adalah tempat tinggal Allah. Dan kita semua adalah anak-anak Allah. Anak-anak Allah seharusnya dibebaskan dari kewajiban membayar pajak bait Allah. Namun, agar tidak “menjadi batu sandungan”, yaitu memberikan contoh yang buruk, Yesus memerintahkan Petrus untuk membayar pajak untuk mereka berdua (ay. 27).

Di sini Yesus mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga: Warga surga yang baik adalah juga warga negara yang baik di dunia. Surga dan dunia tidak harus saling meniadakan. Kewajiban kita kepada Allah tidak serta merta membatalkan kewajiban kita di dunia. Panggilan kita untuk menjadi warga Kerajaan Allah tidak selalu bertentangan dengan tugas kita untuk menjadi warga dunia yang baik. Bukankah kita telah menegaskan hal ini setiap kali kita berdoa Bapa Kami: “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga”? Seorang saleh sejati juga harus menjadi orang bagi sesama.

Apakah Anda memperhatikan kewarganegaraan ganda Anda dengan baik?

Bapa, semoga Kerajaan-Mu datang di bumi seperti di surga. Amin.

Author

Write A Comment