Remah Harian

KESABARAN, PENGHARAPAN DAN BELAS KASIH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu 27 Juli 2024, Sabtu Pekan Biasa XVI
Bacaan: Yer. 7:1-11Mzm 84:3.4.5-6a.8a.11Mat. 13:24-30.

Dalam Injil hari ini, nampak dua sikap yang kontras – manusia yang mudah merasa jengkel dan kesal, dan Tuhan yang menunjukkan kesabaran. Dalam perumpamaan tentang ilalang dan gandum, hamba-hamba pemilik ladang sangat ingin segera bertindak dan menunjukkan ketidaksabaran, sementara pemilik ladang itu sendiri bersedia menunggu dengan tenang. Oleh karena itu, melalui sikap sabar dari pemilik ladang, Yesus mengungkapkan gambaran Allah, yang senantiasa sabar menunggu.

Paus Fransiskus dalam salah satu homilinya menjelaskan perumpamaan tersebut dan berkata, “Tuhan tahu bagaimana menunggu. Dengan lembut dan penuh belas kasih, Dia mengamati “ladang” kehidupan setiap orang; Dia melihat kotoran dan kesalahan jauh lebih jelas daripada kita, tetapi Dia juga mengenali potensi kebaikan dan dengan sabar manantikan pertumbuhannya. Allah kita adalah Bapa yang sabar, yang selalu menanti kita dan menunggu dengan hati yang penuh belas kasihan untuk menyambut kita, untuk mengampuni kita.”

Sikap pemilik ladang itu adalah sikap pengharapan, yang didasarkan pada kepastian bahwa kejahatan tidak akan menjadi yang pertama maupun yang terakhir. Karena pengharapan yang kekal dari Allahlah kita diberi kesempatan untuk bertumbuh, meskipun kita memiliki kecenderungan untuk berdosa, selalu ada kesempatan menjadi baik. Tetapi ingat, kesabaran Injili bukanlah membiarkan kejahatan; kita tidak boleh menjadi bingung antara yang baik dan yang jahat!

Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya jahat atau sepenuhnya buruk. Meskipun menunjukkan perilaku yang jahat, ada kebaikan di dalam diri kita masing-masing. Perilaku negatif yang kita tunjukkan itu seperti ilalang yang dipengaruhi oleh kejahatan dalam hidup kita. Namun, sikap dan perilaku yang tidak diinginkan akan dilalap oleh api cinta dan pengampunan Tuhan. “Every saint has a past, and every sinner has a future,” kata Oscar Wilde. Setiap orang kudus punya masa lalu, dan setiap pendosa punya masa depan.

Patutlah kita bersyukur atas kesabaran dan belas kasih Tuhan dan mohon roh-Nya membantu kita bertumbuh dalam kesabaran, pengharapan dan belas kasihan kepada sesama kita. Semoga kita tidak terlalu mudah untuk melihat diri kita sebagai gandum dan kemudian mengidentifikasi orang lain sebagai lalang. Santo Paulus mengatakan, “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati,” (1 Kor 4: 5). Tuhan yang akan menghakimi adalah Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah  kasih dan setia, (Mzm 86: 15).

Tuhan yang terkasih, terima kasih karena Engkau telah menerima dan mengasihi saya, bahkan dengan segala kelemahan dan dosa-dosa saya. Tolonglah aku untuk menjadi kudus. Amin.

Author

Write A Comment