Sabda Hidup
Minggu, 24 November 2024, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam
Bacaan: Dan. 7:13-14; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Why. 1:5-8; Yoh. 8:33b-37.
Kerajaan-Ku bukan dari sini.” [Yoh 18: 36]
Hari ini kita rayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Allam. Agak sulit bagi kita membayangkan seorang raja itu persisnya seperti apa, karena kita tidak diperintah oleh seorang raja. Atau, kalau kita berbicara tentang raja, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah dominasi, kekuasaan dan takhta. Tetapi Kristus? Justru saat Ia tergantung di kayu saliblah ada tulisan: Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum. Yesus dari Nasareth Raja Yudea. Lho, koq tahta-Nya kayu salib? Dalam Injil hari ini Ia menyatakan: “Kerajaan-Ku bukan dari sini”.
Bacaan pertama dari Nubuat Daniel dan bacaan kedua dari Kitab Wahyu bersifat apokaliptik. Kita dipanggil untuk menjadi pemimpi, menjadi visioner – untuk membayangkan bagaimana jadinya jika seluruh dunia fisik kita, bumi ini, Indonesia ini, paroki kita, lingkungan kita, keluarga kita, menjadi seperti yang dikatakan dalam kitab Wahyu, kita akan menjadi umat yang bebas dari dosa. Melihat kejadian sehari-hari dalam kehidupan kita, dunia tanpa dosa akan benar-benar menjadi tempat yang menakjubkan! Bayangkan berita yang kita dengar dan saksikan tanpa ada pembunuhan yang harus dibicarakan, pencurian yang harus dilaporkan, kebohongan yang harus disampaikan oleh seorang politisi… bayangkan tidak ada laporan tentang orang-orang yang menjadi korban kekerasan, tidak ada cerita tentang anak-anak yang ditelantarkan atau dianiaya… bayangkan tidak ada berita tentang “isme” apa pun yang mengacaukan dunia ini – tidak ada rasialisme, tidak ada konsumerisme… bayangkan sebuah dunia di mana tidak ada klinik aborsi, tidak ada orang yang kelaparan, tidak ada yang kehilangan tempat tinggal, dan yang paling penting, tidak ada orang yang tidak dikasihi!!!
Seperti itulah gambaran Kerajaan Allah.
Kita tidak akan pernah bisa mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini kecuali, pertama-tama, Kerajaan Allah menjadi kenyataan di dalam hidup kita sendiri. Yesus berkata: “Kerajaan Allah ada di antara kamu,” (Luk 17: 21). Sebagian terjemahan mengatakan: “Kerajaan Allah ada di dalam dirimu.” Di hatimu!
Untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dalam diri kita, kita harus:
- Berdoa – kita harus berkomunikasi dengan Allah yang tinggal di dalam jiwa kita. Kita harus memberikan hal yang kita anggap paling berharga dalam hidup kita kepada Allah – kita harus memberikan “waktu” kepada Allah. Bukan sembarang waktu, bukan hanya waktu luang saat kita tidak ada kegiatan – kita harus memberikan “waktu utama” kepada Tuhan. Bagaimana lagi kita dapat menemukan “kerajaan Allah di dalam diri kita” kecuali dengan meluangkan waktu untuk bersama dengan Allah?
- Menyembuhkan – kita mendekati masa Adven. Ada sesuatu yang menarik tentang masa-masa menjelang dan merayakan kelahiran Tuhan kita yang menyentuh hati dan jiwa sehingga banyak orang mengingat mereka yang berkebutuhan. Namun Tuhan tidak memanggil kita untuk melihat kebutuhan orang miskin sebagai kebutuhan musiman. Hubungan kita dengan Allah tidak bisa bersifat musiman. Panggilan Tuhan untuk memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, memberi tempat tinggal kepada para tuna wisma dan mengunjungi orang sakit berlaku 24 jam sehari dan 7 hari seminggu! Dalam pesannya untuk Hari Orang Miskin Sedunia, 17 November 2024, Paus Fransiskus mengulangi seruannya dalam Evangelii Gaudium 187: “Setiap orang Kristiani dan setiap komunitas dipanggil sebagai sarana Allah untuk membebaskan dan memajukan kaum miskin, dan untuk memampukan mereka menjadi bagian masyarakat sepenuhnya. Hal ini menuntut agar kita siap sedia dan penuh perhatian mendengarkan jeritan kaum miskin dan membantu mereka.”
- Mengasihi dan Mengampuni – Kerajaan Allah didasarkan pada kasih dan pengampunan. Agar kita dapat menemukannya di dalam diri kita sendiri, pertama-tama kita harus mengasihi dan mengampuni diri kita sendiri. Biasanya lebih mudah untuk mengampuni orang lain daripada mengampuni diri sendiri. Jika kita memaafkan orang lain, ada sejumlah penghargaan yang kita dapatkan dari orang tersebut. Tak mudah kita berekonsiliasi dengan diri sendiri, ketika kita hidup dalam jaman yang mengagung-agungkan diri sendiri.
Dalam Latihan Rohani menurut St. Ignatius Loyola, ada stu bagian di mana kita dihadapkan pada dua raja untuk direnungkan. Yang pertama adalah raja palsu, di atas singgasana dengan api dan asap dan orang-orang takut kepadanya, raja yang mengumpulkan kekuasaan dan menjerat orang-orang dengan rantai kekayaan materi. Yang kedua adalah Kristus, yang berdiri di tempat yang rendah, menarik setiap orang, pria dan wanita, ke dalam kehidupan yang terbebaskan, bebas dari perasaan tidak aman baik dalam hal materi maupun rohani. Raja inilah yang diminta oleh latihan-latihan rohani Ignatius untuk kita renungkan sebelum memikirkan tentang Adven dan Natal. Raja ini hanya menginginkan agar kita bersama dengan-Nya.
Yesus mengasihi mereka yang mengakui kebutuhan mereka akan Dia, mereka yang membutuhkan kesembuhan dan pengampunan. Dia mengasihi mereka yang mengakui bahwa mereka bukanlah raja atas hidup mereka sendiri dan memiliki iman bahwa Yesuslah yang berkuasa, meraja atas mereka.
Kita harus memilih: mengakui Yesus sebagai Raja atau mencoba untuk menjadi raja bagi diri kita sendiri. Kita dapat membiarkan Yesus menyembuhkan dan mengampuni. Atau kita jatuh dalam keputusasaan dan membiarkan uang atau kekuasaan atau dosa-dosa lain mempunyai kekuasaan mutlak dalam hidup kita.
Kita mulai dengan iman kepada Yesus dan apa yang Dia katakan dan lakukan. Kita berserah kepada-Nya dan berkuasa secara mutlak dalam hidup kita. Kita menjadikan perdamaian, keadilan dan kasih sebagai nilai-nilai utama kami. Kita bekerja untuk menyebarkan Kerajaan dengan mengasihi, mengampuni dan menyembuhkan. Kita mengesampingkan keinginan kita untuk dilayani agar dapat melayani. Kita meminum cawan penderitaan dan “membasuh kaki sesama” di sepanjang peziarahan kita. Lagipula, Raja kita adalah Raja yang membasuh kaki sahabat-sahabat-Nya.
Jika kita melakukan hal-hal ini, kita akan merangkul Kerajaan Allah yang ada di dalam diri kita masing-masing.
Allah Bapa kami, ketika Engkau ingin menunjukkan kepada kami bahwa Engkau adalah penguasa atas segala sesuatu dan Tuhan atas semua orang, Engkau mengutus Yesus, Putera-Mu, sebagai hamba yang rendah hati yang mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib bagi semua orang. Berikanlah kami iman yang cukup untuk belajar dari-Nya bahwa memeringah berarti melayani, dan bahwa memberikan hidup kami kepada saudara dan saudari kami berarti menemukan sukacita dan kebahagiaan yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.
