Sabda Hidup
Sabtu, 25 Mei 2024, Sabtu Pekan Biasa VII
Bacaan: Yak. 5:13-20; Mzm. 141:1-2,3.8; Mrk. 10:13-16.
Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” [Mrk 10: 15].
MRK 10: 5
Sakramen pengurapan orang sakit, seperti yang disebutkan oleh Yakobus dalam bacaan pertama hari ini, memiliki konteks historis yang kaya. Pemberian pengurapan orang sakit ini menjadi awal Sakramen Orang Sakit saat ini. Di masa lalu upacara ini dikenal sebagai “ritus-ritus terakhir”. Sakramen ini dulunya diperuntukkan bagi mereka yang berada di ambang kematian. Akan tetapi, tujuannya telah berevolusi. Saat ini, sakramen ini diberikan kepada mereka yang bergulat dengan penyakit yang serius atau berkepanjangan, tak jarang juga diberikan dalam Misa yang didedikasikan untuk anggota komunitas kita yang sakit.
Yakobus menekankan pentingnya doa, tidak hanya pada saat sakit tetapi terutama pada saat-saat yang sulit. Mungkin sulit untuk berdoa ketika tampaknya tidak ada solusi manusiawi. Namun, kita harus ingat bahwa jalan Tuhan bukanlah jalan kita.
Surga tidak meminta kualifikasi akademis yang mentereng tetapi lebih menuntut semangat seperti anak kecil. Inilah pesan yang disampaikan dalam Injil hari ini. Yesus menerima anak-anak dan melihat mereka sebagai prototipe keterbukaan dan ketergantungan total. Anak-anak tidak memiliki keraguan tentang kebutuhan mereka dan peran orang tua mereka dalam memenuhinya.
Dalam otobiografinya Story of Soul, Theresia dari Lisieux berbicara tentang kepercayaannya yang tak tergoyahkan kepada Tuhan. Memiliki kepercayaan seperti anak kecil kepada Tuhan berarti menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya dan tidak hanya mengandalkan diri sendiri. Ini adalah tentang memiliki kepercayaan yang begitu besar kepada Tuhan sehingga Anda “dapat tertidur dengan damai dalam pelukan-Nya”. Santo Agustinus dengan bijak memperingatkan kita untuk berhati-hati agar tidak putus asa terhadap diri kita sendiri dan menaruh kepercayaan kita pada Tuhan dan tidak hanya mengandalkan diri kita sendiri.
Oleh karena itu, marilah kita tetap mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan, yang merupakan tempat perlindungan kita sepanjang perjalanan hidup. Kesadaran bahwa semua kebaikan mengalir dari Tuhan adalah kunci menuju kehidupan kekal.
Tuhan, bantu aku untuk semakin mempercayakan diri kepada-Mu. Amin.
