Sabda Hidup
Minggu 12 Mei 2024, Minggu Paskah VII Tahun B, Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-58
Bacaan: Kis. 1:15-17,20a,20c-26; Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab; 1Yoh. 4:11-16; Yoh. 17:11b-19.
Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita….. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat….. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.”
YOH 17: 11. 15. 17.
Yesus dalam hidup dan karya-Nya selalu berdoa. Perikope Injil hari ini yang mengisahkan perjumpaan-Nya dalam perjamuan malam terakhir bersama para murid, Ia juga berdoa. Ia bagi murid-murid-Nya.
Dalam doa-Nya bagi murid-murid-Nya, juga bagi kita semua, Yesus menyebut tiga permohonan yang sangat kita butuhkan dan harus kita hayati serta laksanakan.
Pertama, Yesus berdoa supaya kita, murid-murid-Nya, bersatu. “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita,” (Yoh 17: 11). Kita semua diciptakan oleh Allah yang satu. Dan berkat baptis kita semua adalah putera-puteri Allah yang satu. Allah sendiri adalah tiga pribadi: Bapa, Putera dan Roh Kudus, namun Bapa, Putera dan Roh Kudus tetapi tetap satu. Maka kita semua juga harus bersatu. Allah Bapa, yang adalah kasih, mengutus Kristus dan Roh-Nya untuk mempersatukan semua manusia. Yesus dan Roh-Nya membongkar tembok-tembok pemisah antar bangsa, antar suku, antar sesama bahkan dalam keluarga. Gereja, yaitu kita semua, dimaksudkan oleh Yesus sebagai tanda dan sarana perdamaian dan kerukunan. Gereja harus menjadi sakramen persatuan dan perdamaian. Dapatkah Gereja kita disebut otentik, sungguh sebagai persekutuan murid-murid Yesus, apabila di dalam Gereja itu warga-warganya saling bermusuhan, terpecah belah dan hidup penuh kebencian dan dendam? Yesus berdoa, agar kita selalu bersatu.Tetapi bagi kita bukan hanya berarti, bahwa kita harus bersatu dengan orang-orang seiman atau seagama saja, tetapi dengan setiap orang, siapapun juga. Yaitu setiap orang yang berkehendak baik.
Kedua, Yesus juga berdoa: “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka, dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat”.
Kita sebagai murid-murid Kristus, tidak diminta Tuhan supaya mengundurkan diri dari dunia, dan memasuki suatu kelompok atau golongan tertutup, sebagai kelompok eksklusif dan tertutup terhadap orang-orang lain. Yesus justru mengutus kita ke tengah-tengah dunia, sama seperti Ia sendiri yang diutus Bapa bukan hanya untuk orang Yahudi. Yesus tidak mau menarik murid-murid-Nya dari dunia, sebaliknya mau menyiapkan dan memperkuat mereka, untuk diutus pergi dan memasuki dunia masyarakat untuk menghadirkan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan kepada dunia yang membutuhkannya.
Artinya, di tengah segenap kesibukan dan aneka urusan di dunia, perlulah kita sadar untuk bersikap, berpikir dan berbuat sebagai orang kristiani: menjauhkan diri dari yang jahat, dan hidup sesuai dengan pedoman hidup yang telah diberikan Yesus. Ia sendirilah teladannya! Dunia memang tempat di mana murid-murid Yesus harus hidup. Semua murid Yesus hidup di dunia ini, dengan segalanya yang baik maupun yang jahat, Yesus berdoa agar segenap pengikut-Nya dijauhkan dari yang jahat. Yesus mengajarkan doa permohonan itu juga dalam doa Bapa Kami: “Bebaskanlah kami dari yang jahat”.
Ketiga, Yesus berdoa: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran….Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran”. Dikuduskan berarti ditujukan untuk melaksanakan suatu tugas yang direncanakan Tuhan bagi kita masing-masing. Namun dikuduskan juga berarti diberi atau dilengkapi oleh Tuhan dengan rahmat dan kekuatan yang dibutuhkan, untuk melaksanakan apa yang dipercayakan kepada kita masing-masing.
Kita semua dan masing-masing dipanggil dan dikuduskan oleh Allah, untuk mengambil bagian dalam karya Kristus. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi Kristus. Artinya kita harus memperkenalkan Kristus dan cara hidup-Nya melalui cara hidup kita masing-masing maupun bersama-sama. Kristus adalah saksi Allah, padahal Allah adalah kasih. Kasih inilah yang disebut kekudusan yang sejati. Agar menjadi kudus, yaitu berhubungan erat dengan Allah, maka kita dipanggil menjadi duta kasih Allah bagi sesama.
Hari ini juga kita rayakan Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-58 dengan tema: KECERDASAN ARTIFISIAL DAN KEBIJAKSANAAN HATI: MENUJU KOMUNIKASI YANG SUNGGUH MANUSIAWI.
Mengawali pesannya, Paus Fransikus mengutip Romano Guardini: “Masalah-masalah ini bersifat teknis, ilmiah, dan politis; namun tidak dapat diselesaikan kecuali dengan mulai dari rasa kemanusiaan kita. Makhluk manusia jenis baru harus terbentuk, dikaruniai spiritualitas yang lebih dalam dan kebebasan serta kesadaran baru”. Kemajuan teknologi tak terelakkan. Namun kita tak boleh kehilangan kemanusiaan kita. Secerdas apapun sebuah teknologi tetaplah Artificial. Semua tidak dapat menggantikan hati yang bijaksana dalam berkomunikasi untuk membangun relasi yang lebih manusiawi.
Oleh sebab itu, “Segala bentuk refleksi harus dimulai dari hati. Kalau tidak, risikonya; manusia bisa kaya di bidang teknologi, tetapi miskin dalam kemanusiaan.” Dengan mengadopsi cara tertentu dalam memandang realitas; dan memulihkan kebijaksanaan hati, kita dapat menghadapi dan menafsirkan kebaruan zaman serta menemukan kembali jalan menuju komunikasi yang sungguh manusiawi.
Mengapa kembali ke dalam hati? Karena hati adalah tempat terdalam perjumpaan dengan Tuhan.
Perkembangan teknologi AI, hendaklah tidak menjerumuskan kita pada godaan primordial: menjadi sama dengan Tuhan, namun dapat membantu kita melayani dengan kasih. Kita semua dipanggil untuk tumbuh bersama, dalam kemanusiaan dan sebagai manusia. Kita ditantang untuk membuat lompatan kualitatif menuju arah yang kompleks, multietnik, pluralistik, multireligius dan masyarakat yang multikultural.
Informasi tidak dapat dipisahkan dari berbagai relasi kehidupan. Ini karena informasi melibatkan tubuh dan keterlibatan di dunia nyata. Informasi selalu terkait tidak hanya dengan data, tetapi juga dengan pengalaman manusia.
Akhirnya, semua terserah kita apakah mau menjadi makanan algoritma atau kita akan mengembangkan hati dengan kebebasan yang tanpa kebebasan itu kita tidak dapat tumbuh dalam kebijaksanaan. Kebijaksanaan seperti itu menjadi matang dengan memanfaatkan waktu secara bijaksana dan dengan memeluk kerapuhan-kerapuhan kita.
