Sabda Hidup
Kamis, 13 Juni 2024, Kamis Pekan Biasa X, Peringatan St. Antonius Padua
Bacaan: 1Raj 18:41-46; Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13; Mat 5:20-26;
Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”
MAT 5: 21 – 22
Kata yang punya cerita, ada kebiasaan unik dan menarik di Kepulauan Solomon. Penduduk yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan “meneriaki pohon”.
Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan, apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat. Pohon yang kuat dan sulit untuk ditebang dengan kapak, atau benda tajam lainnya.
Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.
Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu, perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu, dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau diperhatikan, apa yang dilakukan oleh penduduk Solomon ini sungguhlah aneh. Namun, kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, makhluk hidup itu akan mati.
Nah. Sekarang, yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali kita berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka kita sedang mematikan rohnya.
Injil hari ini berbicara tentang kemarahan. Sementara perintah “Jangan membunuh” telah diajarkan sebelumnya, Khotbah di Bukit mengajak kita melangkah lebih jauh ke akar tindakan kekerasan, yaitu kemarahan. Yesus menunjukkan bahwa ada bentuk-bentuk kemarahan yang dapat semakin meningkat dan mereka layak mendapatkan hukuman.
Kemarahan itu kontraproduktif. Kemarahan menyebabkan rasa sakit dan luka bagi diri kita sendiri dan orang lain. Apalagi bila kemarahan itu kita ungkapkan dengan berteriak-teriak. Kita sedang “membunuh” roh sesama. Yang jelas, kita membunuh relasi kita. Memelihara permusuhan terhadap orang lain membuat kita tidak layak untuk datang ke hadapan Tuhan. Dengan mengenal Yesus, kita menjauh dari dosa dan berusaha untuk tetap berada dalam semangat pengampunan, mengikuti teladan Yesus yang mengajarkan pesan ini bahkan dari kayu salib.
Injil hari ini memberikan contoh yang jelas tentang perbedaan antara tuntutan Sepuluh Perintah Allah dan tuntutan pemuridan Kristen. Pembunuhan yang tidak adil dianggap sebagai dosa besar dalam tradisi Ibrani, seperti halnya dalam kepercayaan Kristen saat ini. Namun, ajaran Kristiani melangkah lebih jauh dengan membahas salah satu akar penyebab pembunuhan: roh permusuhan.
Bahaya dari kemarahan mencakup potensinya untuk meningkat dan membahayakan orang yang memendamnya serta targetnya. Seperti yang dinyatakan dalam Surat Yohanes, jika kita tidak mengasihi orang-orang yang kita lihat, bagaimana mungkin kita dapat mengaku mengasihi Allah yang tidak kita lihat? Oleh karena itu, memendam kebencian membuat persembahan kita kepada Tuhan menjadi sia-sia.
Kasih adalah ratu dari segala kebajikan, dan dampaknya sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita memang tidak boleh membunuh, tetapi jika kemarahan tidak segera ditangani, akan berpotensi meningkat menjadi tindak kekerasan yang merusak. Kalaupun tidak menjadi tindak kekerasan, kemarahan “membunuh” kedamaian hati kita.
Tuhan, semoga kami bersama dapat mencari kehendak-Mu, saling menerima satu sama lain, saling menghormati kebebasan satu sama lain dan menjadi saksi kebaikan-Mu di manapun kami berada. Amin.
