Sabda Hidup
Kamis, 1 Mei 2025, Kamis Pekan Paskah II, Peringatan Fakultatif St. Yusuf Pekerja
Bacaan: Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.
“Bukankah Ia ini anak tukang kayu?”
[Mat 13: 55]
Tanggal 1 Mei, Gereja menghormati Santo Yusuf Pekerja. Hari peringatan ini ditetapkan oleh Paus Pius XII pada tahun 1955 sebagai tanggapan atas pengaruh komunisme ateis yang semakin meningkat. Dengan perayaan ini Gereja hendak mengingatkan dunia bahwa bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga sebuah panggilan suci, sebuah jalan menuju kekudusan, pembangunan martabat dan komunitas manusia.
Santo Yusuf, seorang tukang kayu yang rendah hati, bekerja dengan tangannya dalam keheningan dan ketekunan. Injil menyebutnya dengan kata Yunani tekton, yang berarti lebih dari sekadar “tukang kayu” – kata ini berarti pembangun, pengrajin, dan pekerja. Yesus sendiri mempelajari pekerjaan ini dan dikenal sebagai “anak tukang kayu” (Mat. 13:55). Melalui kehidupan tersembunyi dari pekerjaan sehari-hari ini, Allah menguduskan pekerjaan biasa dan mengungkapkan nilai rohaninya yang mendalam.
Hari ini marilah kita ingat semua pekerja, khususnya mereka yang bekerja dalam kondisi yang berbahaya, mereka yang tidak memiliki upah atau perlindungan yang adil, para pengangguran, dan terutama anak-anak yang dirampas waktu bermainnya dan dipaksa bekerja keras. Realitas-realitas ini masih ada sampai sekarang. Dalam diri mereka ketidakadilan berseru ke surga.
Pekerjaan lebih dari sekadar penghasilan – pekerjaan adalah partisipasi dalam karya penciptaan Allah yang sedang berlangsung. Pekerjaan membentuk identitas, memupuk komunitas, dan menjunjung tinggi martabat. Ketika seorang pria atau wanita kehilangan pekerjaan yang berarti, martabat mereka menderita. Seperti yang diingatkan oleh Paus Fransiskus, “Pekerjaan adalah pengurapan martabat.”
Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk membangun masyarakat di mana semua orang dapat mencari nafkah dengan bermartabat. Mari kita mendukung upaya penanganan ketenagakerjaan yang adil, mendukung mereka yang mencari pekerjaan, dan tidak pernah melupakan bahwa Kristus sendiri bekerja dengan tangan yang tidak berperasaan. Semoga Santo Yusuf Pekerja menjadi perantara bagi semua pekerja, dan semoga kita belajar dari teladannya tentang kekuatan dalam diam, pelayanan yang setia, dan kepercayaan yang dalam akan penyelenggaraan Allah.
Santo Yusuf Pekerja, doakanlah kami. Amin.
