Sabda Hidup
Selasa, 23 Juli 2024, Selasa Pekan Biasa XVI
Bacaan: Mi 7:14-15.18-20; Mzm 85:2-4.5-6.7-8; Mat 12:46-50.
Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku,” [Mat 12: 50]
Kita sangat menghargai hubungan darah dan sangat menyayangi anggota keluarga kita, terutama orang tua dan saudara-saudara kita. Namun, dalam perikop Injil hari ini sebagai bahan renungan kita, Yesus menunjuk sekelompok orang yang lebih penting bagi-Nya daripada anggota keluarganya.
Sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, Ia berkata, ‘Inilah ibu-Ku, saudara-saudara-Ku laki-laki dan perempuan’. Yesus menantang para pendengarnya untuk menjadi keluarga-Nya dan menetapkan kriteria baru untuk menjadi Keluarga Allah: “Barangsiapa melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (ayat 50).
Konsep Keluarga Allah ini menjadi kekuatan pengikat bagi komunitas para murid, terutama setelah pengalaman Pentakosta. Mereka hidup bersama sebagai sebuah keluarga, berbagi segala sesuatu dan rela mengorbankan segala sesuatu demi saudara-saudari mereka – keluarga yang baru mereka temukan.
Yesus makan bersama orang-orang berdosa, meyakinkan mereka bahwa mereka juga memiliki tempat di perjamuan bersama Bapa. Dia menyentuh mereka yang dianggap najis, dan dengan membiarkan diri-Nya disentuh oleh mereka, Dia membantu mereka menyadari bahwa Allah menyertai mereka.
Paus Fransiskus, dalam kunjungannya ke Thailand pada tahun 2019, berbicara tentang “keluarga Yesus, yang juga mencakup anak-anak dan perempuan yang menjadi korban prostitusi dan perdagangan manusia, kaum muda yang diperbudak oleh kecanduan narkoba dan kurangnya makna hidup, para migran, yang kehilangan rumah dan keluarga mereka, para nelayan yang dieksploitasi, dan para pengemis yang terabaikan. Mereka semua adalah bagian dari keluarga kita. Mereka adalah ibu kita, saudara dan saudari kita. Janganlah kita menghalangi mereka untuk merasakan sentuhan kasih Allah yang menyembuhkan luka dan rasa sakit mereka.”
Apakah Anda sungguh-sungguh anggota keluarga Yesus? Siapa saudara-saudari Anda?
Tuhan, semoga kami menjadi putera dan puteri-Mu yang sejati dengan melaksanakan kehendak-Mu dalam hidup sehari-hari. Amin.
