Sabda Hidup
Minggu, 29 Desember 2024, Pesta Keluarga Kudus
Bacaan: 1Sam. 1:20-22,24-28; Mzm. 84:2-3,5-6,9-10; 1Yoh. 3:1-2,21-24; Luk. 2:41-52.
Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia,” (Luk 2: 51 – 52).
Suatu hari, ketika ayahnya pulang dari pekerjaannya, Joni yang masih kecil bertanya: “Ayah, berapa penghasilan ayah dalam satu jam?” Sang ayah terkejut dan berkata: “Dengar, nak, bahkan ibumu pun tidak tahu. Jangan ganggu ayah sekarang, ayah capek.” “Tapi Ayah, tolong beritahu saya! Berapa penghasilan Ayah dalam satu jam?” anak itu bersikeras. Sang ayah akhirnya menyerah dan asal menjawab untuk memuaskan si Joni: “Seratus ribu.” “Baiklah, Ayah,” lanjut si Joni, ”Bolehkah saya pinjam lima puluh ribu?” Sang ayah menjawab dengan suara keras: “Oooo jadi itu alasan kamu bertanya berapa penghasilan ayah, kan? Sekarang, pergilah tidur dan jangan ganggu ayah lagi!” Di malam hari, sang ayah memikirkan apa yang dikatakannya dan mulai merasa bersalah. Mungkin anaknya perlu membeli sesuatu. Akhirnya, dia pergi ke kamar anaknya. “Apakah kamu sudah tidur, nak?” tanya sang ayah. “Belum, Ayah. Kenapa?” jawab sang anak. “Ini uang yang kamu minta tadi,” kata sang ayah. “Terima kasih, Ayah!” jawab si Joni dengan mata berbinar-binar sambil menerima uang itu. Lalu si Joni merogoh di bawah bantalnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. “Sekarang sudah cukup! Sekarang aku punya seratus ribu!” katanya kepada ayahnya. Lalu Joni berkata, ”Ayah, bisakah aku memberli waktumu satu jam untukku?” Ayahnya tertegun. Matanya berkaca-kaca ketika dengan diam memeluk anaknya.
Injil hari ini memiliki pesan untuk ayah itu dan untuk kita semua, dan pesannya adalah bahwa kita perlu menginvestasikan lebih banyak waktu kita dalam kehidupan keluarga kita.
Injil menceriterakan kepada kita Yesus pada usia dua belas tahun. Dua belas tahun adalah usia menjelang upacara bar mitzvah bagi setiap anak laki-laki Yahudi. Dengan upacara itu, ia menjadi subjek yang bertanggung jawab atas hukum. Itu adalah upacara kedewasaan secara hukum dan mulai bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Sejak saat itu, ia diharuskan untuk menaati hukum dan melakukan ziarah tahunan ke Yerusalem seperti pria Yahudi lainnya. Salah satu cara remaja merayakan kedewasaan mereka adalah dengan pergi keluar dan melakukan hal-hal yang sampai saat ini dilarang oleh hukum Taurat. Kita tahu bahwa seorang anak telah beranjak dewasa ketika ia berhenti bertanya dari mana ia berasal dan mulai tidak lagi bertanya ke mana ia akan pergi. Seperti yang dapat kita lihat, Yesus pun demikian. Untuk merayakan kedewasaannya, ia menghadiri kelas Kitab Suci di Bait Allah tanpa memberi tahu orang tuanya. Ketika orangtuanya menyusulnya setelah dua hari mencarinya kemana-mana, yang dia katakan kepada mereka adalah, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:49). Bahkan keluarga yang kudus pun tidak lepas dari ketegangan dan kesalahpahaman.
Namun, bagian yang paling membingungkan dari kisah ini adalah bagaimana kisah ini berakhir: “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka,” (ay.51). Yesus yang berusia dua belas tahun sudah mengetahui bahwa misi-Nya adalah untuk berada di rumah Bapa-Nya dan melakukan urusan Bapa-Nya. Dari “uji coba” yang Ia lakukan di Yerusalem pada hari itu, jelaslah bahwa Ia telah mampu melakukannya dengan sangat baik, karena “semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya,” (ay.47). Yang menjadi teka-teki adalah ini: Jika Yesus, pada usia dua belas tahun, sudah siap untuk memulai misi publiknya, dan jelas-jelas telah dipersiapkan dengan baik untuk itu, mengapa Ia harus pergi bersama orang tua-Nya dan menghabiskan delapan belas tahun berikutnya dalam waktu yang tersembunyi di gudang tukang kayu hanya untuk memulai pelayanan publik-Nya pada usia tiga puluh tahun? Apakah delapan belas tahun itu adalah tahun-tahun yang sia-sia? Tentu saja tidak! Dengan cara yang sulit untuk kita pahami, kehidupan tersembunyi Yesus di Nazaret merupakan bagian dari misi-Nya di dunia seperti halnya kehidupan-Nya di depan umum. Kita diingatkan bahwa pada masa inilah “Yesus bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia,” (ay.52). Dan ketika kita merenungkan fakta bahwa untuk setiap satu tahun kehidupan publiknya, Yesus menghabiskan sepuluh tahun dalam kehidupan keluarga, maka kita akan mulai memahami pentingnya dan prioritas yang Dia berikan kepada kehidupan keluarga.
Kita memiliki dua kehidupan, kehidupan pribadi atau keluarga dan kehidupan publik atau profesional. Kedua kehidupan ini seharusnya selaras, namun seringkali keduanya saling bertentangan. Sementara Yesus menyelesaikan ketegangan dengan mengutamakan kehidupan pribadi-Nya, kita, sayangnya, sering kali mencoba menyelesaikannya dengan mengutamakan kehidupan profesional kita, dan membiarkan kehidupan keluarga kita menderita. Seorang penulis bercerita tentang seorang pria yang tidak bahagia yang berpikir bahwa satu-satunya cara untuk membuktikan cintanya kepada keluarganya adalah dengan bekerja keras. “Untuk membuktikan cintanya pada sang istri, ia berenang di sungai terdalam, menyeberangi padang pasir terluas, dan mendaki gunung tertinggi. Apa hasilnya? Isterinya menceraikannya. Sebab dia tidak pernah pulang ke rumah.”
Perayaan, Pesta Keluarga kudus Yusuf, Maria dan Yesus mengingatkan dan menantang kita untuk menghargai dan berinvestasi pada kehidupan pribadi kita dengan keluarga kita sebelum kehidupan profesional kita di tempat kerja atau kehidupan publik kita, bahkan ketika pekerjaan kita adalah menyelamatkan dunia.
Hari ini di Gereja-Gereja Lokal, dipromulgasikan Tahun Yubileum yang bertema: “Peziarahan Pengharapan.” Dengan tinggal di dalam keluarga kudus, Yesus juga tinggal di keluarga kita masing-masing, dalam suka dan duka, dalam jatuh dan bangun. Bersama-Nya, peziarahan kita, peziarahan keluarga-keluarga kita, menjadi peziarahan penuh pengharapan.
Masih Ingat sinetron “Keluarga Cemara”? Lirik lagunya berkata:
Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga.
Benarkah menurut anda?
Allah Bapa kami, kami mengucap syukur dan pujian kepada-Mu bahwa Engkau telah memilih bagi Putra-Mu sebuah keluarga manusia. Melalui doa dan teladan Maria dan Yusuf, semoga kami juga belajar untuk memberi ruang bagi Yesus dalam hidup kami, sehingga Ia dapat tumbuh di dalam diri kami hari demi hari dan menjadikan kami semakin serupa dengan-Nya. Amin
