Sabda Hidup
Selasa, 28 Januari 2025, Peringatan Wajib St. Thomas Aquinas
Bacaan: Ibr.10: 1-10 ; Mzm. 40:2,4ab,7-8a,10,11; Mrk. 3:31-35
Inilah Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku. Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mrk 3: 34 – 35)
Sudah hampir 25 tahun saha melayani sebagai seorang imam. Selama itu saya telah bertemu dengan banyak keluarga. Ada banyak keluarga yang sungguh-sungguh menginspirasi. Mereka adalah keluarga-keluarga yang secara serius menjalankan panggilan mereka untuk menjadikan keluarga sebagai Gereja domestik – sebuah Gereja di dalam rumah tangga. Mereka benar-benar memiliki visi-misi untuk membentuk keluarga mereka sesuai dengan tuntunan Kitab Suci tentang sebuah keluarga: bertumbuh bersama dalam kasih karunia, kedewasaan, dan kebijaksanaan di hadapan Allah dan manusia.
Ada salah satu keluarga yang saya kenal memiliki visi-misi yang berbunyi (sejauh yang saya ingat) seperti ini: “Menjadikan keluarga kami sebagai keluarga yang menyebarkan warta Injil Kristus ke seluruh dunia.” Mereka melakukannya dengan serius, namun keceriaan dalam keluarga mereka terlihat jelas dan menginspirasi. Mereka secara teratur mengevaluasi kehidupan keluarga mereka sesuai dengan visi tersebut dan mereka menjalankan visi-misi tersebut dengan penuh semangat dan sukacita.
Kristus ingin kita menjadi lebih dari sekadar keluarga yang “kebetulan”. Yang saya maksud dengan “kebetulan” adalah orang-orang yang terikat bersama oleh nasib yang sama yaitu mereka dilahirkan di dalamnya. Mereka kebetulan memiliki hubungan darah, mereka kebetulan tinggal bersama dalam satu rumah, dan mereka tidak memiliki pilihan selain menanggung keberadaan satu sama lain dalam kesibukan sehari-hari. Betapa mandul dan dangkalnya keluarga seperti ini. Ada bersama tapi tanpa makna.
Kristus ingin setiap keluarga menjadi keluarga yang “intensional”. Keluarga yang intensional adalah keluarga yang setiap anggotanya dengan sadar berusaha untuk membantu satu sama lain untuk bertumbuh ke dalam penemuan yang lebih dalam akan siapa mereka – karunia, talenta, dan panggilan hidup mereka. Keluarga yang memiliki tujuan adalah keluarga yang dengan dengan sadar dan “sengaja” membantu satu sama lain agar semakin dekat dengan Kristus dan memenuhi perintah-Nya yang membebaskan.
Saya percaya bahwa keluarga seperti inilah yang dimaksud oleh Yesus ketika Ia mengajukan pertanyaan retoris, “Siapakah ibu dan saudara-saudara-Ku?” Dan kemudian dengan segera menambahkan, “Inilah ibu dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Bagaimana Anda menggambarkan keluarga Anda: kebetulan atau intensional?
Ya Tuhan, bentuklah keluarga kami masing-masing seperti Keluarga Kudus dari Nazaret. Amin.
