Sabda Hidup
Kamis, 17 Oktober 2024, Peringatan Wajib St. Ignatius dari Antiokhia
Bacaan: Ef 1:1-10; Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4.5-6; Luk 11:47-54
“Celakalah kamu!” (Luk 11: 47)
Bacaan Injil hari ini masih melanjutkan kecaman Yesus terhadap para Ahli Taurat dan para Farisi. Kecaman Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi, para pemimpin agama Yahudi, dicatat dalam tiga Injil Sinoptik. Bahkan kemarahan dan kesedihan Yesus tercermin dalam bagian ini. Jika pemimpin menjadi korup dan mengalami disorientasi, maka masyarakat akan mengalami kehancuran. Oleh karena itu, Yesus berbicara dengan keberanian kenabian tanpa peduli dengan konsekuensinya. Konsekuensi dari mengkritik pemimpin sering kali sangat berbahaya bagi orang yang mengkritik.
Suatu ketika dalam mata kuliah Kitab Suci, saya minta para siswa untuk membaca ayat di mana Yesus mengkritik para ahli Taurat dan orang Farisi dan menuliskan alasan mengapa Yesus mengutuk mereka. Mereka juga diminta untuk menuliskan buah-buah dari orang yang menghidupi spiritualitas yang baik. Mereka menuliskan alasan utama Yesus menegur ahli Taurat dan orang Farisi yaitu: 1) kurangnya integritas, 2) pamer, 3) ritualisme, 4) legalisme, 5) eksploitasi terhadap orang miskin, 6) tuntutan untuk mendapatkan pengakuan dan penghormatan, 7) skandal bagi orang lain, 8) tidak membantu orang lain menjadi dewasa dan 9) mengabaikan belas kasih, keadilan dan iman.
Kemudian, buah-buah dari orang yang menghidupi spiritualitas dengan baik adalah: 1) kepekaan terhadap orang lain dan alam sekitar, 2) penerimaan diri dan menerima kesalahan sendiri, 3) kesiapan untuk mengampuni dan berdamai, 4) jujur dan adil, 5) berpikir positif dan kreatif, 6) mengakui keunikan orang lain, 7) menghargai kemajemukan, 8) kesediaan untuk mengambil risiko dan 9) bahagia dan bersyukur.
Setelah melakukan latihan, kepada para siswa ditanyakan apakah ahli Taurat dan orang Farisi itu beragama. Jawabannya selalu “Ya”. Ahli Taurat dan orang Farisi sangat taat beragama; tetapi mereka tidak menghasilkan buah-buah yang baik. Bahkan karena itu Yesus mengkritik mereka.
Negeri kita dikenal dengan negeri di mana penduduknya sangat taat beragama. Bahkan tidak sedikit yang dapat disebut sebagai “mabok agama”. Namun, pada saat yang sama telah terjadi peningkatan kejahatan, terutama terhadap wanita, korupsi, kecanduan narkoba, bunuh diri dll. Grafik kejahatan meningkat. Fenomena koeksistensi antara meningkatnya kejahatan dan meningkatnya praktek hidup beragama menunjukkan bahwa hidup beragama saja tidak membawa perubahan pada masyarakat. Terkadang orang terlibat dalam kejahatan setelah melakukan ibadah keagamaan.
Dengan mengutuk ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus sebenarnya mengutuk hidup beragama yang tidak membuat orang menjadi sungguh-sungguh rohani. Kita tidak menemukan dalam Injil bahwa Yesus mempraktekkan ritual keagamaan apa pun. Isi dari ajarannya adalah sikap, nilai, perilaku dan relasi. Khotbah di Bukit mencerminkan spiritualitas Yesus.
Sebagai pribadi dan anggota masyarakat, para pengikut Yesus mungkin harus mengikuti praktik-praktik keagamaan tertentu. Namun, praktik-praktik keagamaan ini seharusnya membantu kita untuk menjadi rohani dan membawa perubahan positif dalam diri kita dengan mempraktikkan nilai-nilai yang diberikan oleh Yesus. Mengikuti ritual dan tradisi secara membabi buta adalah perbudakan. Sebagaimana Yesus memiliki keberanian untuk melawan para pemimpin agama pada masanya, para pengikut Yesus juga harus memiliki keberanian untuk mempertanyakan ritual dan praktik-praktik keagamaan yang memperbudak manusia dan menghancurkan martabat dan kreativitas manusia.
Tuhan yang terkasih, terima kasih telah bersabar denganku. Jalanku masih panjang dalam menjalani kehidupan yang berintegritas. Amin.
