Sabda Hidup
Minggu, 23 Februari 2025, Minggu Biasa VII Tahun C
Bacaan: 1Sam. 26:2,7-9,12-13,22-23; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10,12-13; 1Kor. 15:45-49; Luk. 6:27-38
Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Luk 6: 27 – 28)
Seorang biksu sedang berdoa di bawah pohon di samping sungai. Saat dia berdoa, air pasang datang dan sungai mulai naik. Kemudian dia melihat seekor kalajengking di kaki pohon dan sedang berjuang untuk menyelamatkan diri saat ombak besar mencoba menenggelamkannya. Biksu itu mengulurkan tangannya untuk menarik kalajengking itu ke tempat yang aman, tetapi setiap kali tangannya mendekat, kalajengking itu mencoba menyengatnya. Seorang pejalan kaki melihat apa yang sedang terjadi dan berkata kepada biksu itu: “Apa yang kamu lakukan? Tidakkah kamu tahu bahwa sudah menjadi sifat alami kalajengking untuk menyengat?” “Ya,” jawab biksu itu, ”Dan sudah menjadi kodrat saya untuk menyelamatkan. Haruskah saya mengubah sifat saya karena kalajengking menolak untuk mengubah sifatnya?”
Injil hari ini mendorong kita, orang-orang Kristen, untuk tetap setia pada kodrat kita untuk mengasihi bahkan ketika orang-orang di sekitar kita tetap bersikukuh pada kodrat mereka untuk membenci.
Injil hari ini adalah kelanjutan dari Khotbah Agung Yesus yang telah kita renungkan pada hari Minggu yang lalu. Setelah berbicara tentang penganiayaan dan kekerasan yang akan menimpa para murid, seperti yang dialami oleh para nabi di zaman dahulu, Yesus sekarang berbicara kepada para murid tentang bagaimana mereka harus merespons permusuhan tersebut. Dia memulai: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Dengarkanlah…” (Lukas 6:27). Apa yang dikatakan selanjutnya bukanlah kode etik umum untuk semua orang, melainkan standar perilaku bagi mereka yang mengikut Yesus dan mendengarkan ajaran-Nya. Jika Kekristenan adalah agama yang unggul, cara untuk menunjukkannya bukanlah dengan argumen dan perdebatan yang tak berujung tentang agama yang benar, tetapi dengan perilaku moral yang unggul dari orang-orang Kristen.
“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu,” (Luk 6:27-30).
Apa yang Yesus maksudkan dengan “kasihilah musuhmu”? Apakah maksudnya kita harus memiliki musuh dan kemudian, dengan cara yang misterius, mengasihi mereka pada saat yang sama? Atau kita tidak boleh memiliki musuh sama sekali? Dengan mempertimbangkan bahwa Yesus berbicara tentang murid-murid dan para penganiaya mereka, kita melihat bahwa “musuh” di sini berarti mereka yang membenci murid-murid, bukan mereka yang dibenci oleh murid-murid. Murid-murid tidak boleh membenci siapa pun. Jika yang dimaksud dengan musuh adalah mereka yang kita benci, maka orang Kristen seharusnya tidak memiliki musuh. Tetapi jika yang dimaksud dengan musuh adalah mereka yang membenci kita, maka kita tidak bisa tidak memiliki musuh. Kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan kita, kita hanya dapat mengendalikan bagaimana kita memperlakukan mereka.
Para murid hidup di tengah-tengah masyarakat yang membenci mereka dan memperlakukan mereka dengan penuh permusuhan. Apa yang Yesus minta dari mereka dalam Injil hari ini adalah agar mereka tidak membalas kebencian dengan kebencian atau permusuhan dengan permusuhan. Ini adalah sikap yang hampir tidak dipahami oleh gereja selama lebih dari 2000 tahun keberadaannya. Dibutuhkan orang-orang saleh seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King, Jr untuk menyadarkan orang Kristen akan pentingnya anti-kekerasan sebagai norma tanggapan Kristiani terhadap penganiayaan, penindasan, pelecehan, dan ketidakadilan. Yesus tetap menjadi guru dan teladan terbesar dalam hal anti-kekerasan, karena bahkan ketika mereka menggiring-Nya ke tempat yang memalukan di kayu salib, Ia masih bisa berkata, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Lukas 23:34).
Kita dapat lebih mudah mengampuni dan bertindak tanpa kekerasan kepada “musuh-musuh” kita – mereka yang membenci kita, bukan mereka yang kita benci – dengan mengingatkan diri kita sendiri bahwa mereka hidup dan bertindak dalam ketidaktahuan dan bahwa suatu hari nanti kebenaran akan mengalahkan mereka. Anti-kekerasan tidak terbatas pada gerakan sosial; hal ini juga diperlukan dalam hubungan keluarga dan interpersonal di mana kita dapat menjadi korban kekerasan verbal dan fisik. Bukankah dalam keluarga kita, dengan orang-orang terdekat kita pun, tak jarang terjadi kekerasan?
Meskipun kita harus melakukan semua yang kita bisa untuk mengakhiri situasi yang penuh kekerasan, Injil mengingatkan kita hari ini bahwa, dalam kata-kata Gandhi dan Martin Luther King, mata ganti mata akan membuat semua orang buta. Jika ada kalajengking kebencian dalam hidup kita yang senang menyengat kita, marilah kita, seperti biksu itu, tetap setia pada komitmen kita untuk mengasihi.
Kita diingatkan hari ini bahwa untuk menjadi murid-murid Kristus yang sejati, kita tidak hanya menjadi manusia yang benar-benar baik. Kita juga harus berpikiran terbuka dan murah hati dalam hubungan kita dengan orang lain. Bukankah kita diciptakan menurut gambar Allah yang penuh belas kasih? “Hendaklah engkau murah hati seperti Bapamu murah hati!” (Luk 6: 36). Dengan kata lain, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” (Mat 5: 48).
Tuhan, semoga aku mengasihi seperti Engkau mengasihi, mengampuni seperti Engkau mengampuni, menjadi sempurna seperti Engkau sempurna. Amin.
