Sabda Hidup
Senin, 26 Mei 2025, Senin Pekan paskah VI, Peringatan St. Filipus Neri
Bacaan: Kis. 16:11-15; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Yoh. 15:26-16:4a.
“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”
(Yoh 15: 26 – 27)
Saat kita merenungkan karunia Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus – Roh yang menguatkan kita dalam pencobaan dan menghibur kita dalam kesedihan – Gereja juga memperingati Santo Filipus Neri, seorang yang menghayati janji ini dengan sukacita dan keberanian.
Lahir di Florence pada tahun 1515, Filipus Neri tidak tertarik pada kekuasaan atau prestise, tetapi pada bisikan Roh Kudus. Pindah ke Roma sebagai seorang pemuda, ia hidup sederhana dan menghabiskan hari-harinya dalam doa dan pelayanan. Meskipun masih sebagai seorang awam, ia mengumpulkan orang lain untuk peduli pada orang miskin, terutama para peziarah yang terabaikan dan anak-anak jalanan di kota itu. Ketika ia kemudian ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1551, pelayanannya semakin berkembang – bukan dalam gerakan besar, tetapi dalam tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi. Ia meminta bantuan kepada orang-orang kaya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang-orang miskin. Ia mempermalukan dirinya sendiri, tetapi tidak pernah membicarakannya. Dia mengenakan pakaian biasa, namun memancarkan rahmat yang luar biasa.
Santo Filipus adalah seorang yang penuh sukacita, lemah lembut, dan memiliki kekuatan batin yang dalam. Kekuatan itu bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari Roh Kudus – Parakletos, yang berdiri di sampingnya. Di zaman reformasi Gereja dan ketegangan-ketegangan yang mendalam, ia menolak untuk mengutuk; sebaliknya, ia mendengarkan, mengampuni, menguatkan. Ia disebut sebagai “Rasul Ketiga dari Roma” karena, seperti Petrus dan Paulus, ia bersaksi tentang Kristus – bukan dengan kekerasan, tetapi dengan belas kasihan.
Hari ini, kita membutuhkan orang-orang kudus seperti Filipus. Di dalam dunia – dan terkadang Gereja – yang ditandai dengan perpecahan dan kekecewaan, kita diingatkan bahwa Roh Kudus tetap datang. Ia menguatkan, menghibur, dan membuat kita tetap setia. Seperti Santo Filipus, semoga kita menyambut-Nya dengan hati yang terbuka dan sukacita yang berseri-seri.
Yesus “mengharuskan” kita bersaksi. “Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku,” (Yoh 15: 27). Cara kita bersaksi adalah dedikasi kita sehari-hari yang kita berikan sebagai murid-murid Kristus yang setia, melalui cara kita bekerja, berdoa dan beraktivitas apa saja. Bahkan juga melalui kesetiaan kita melaksanakan hal-hal yang biasa, hal-hal yang kecil, seperti St. Filipus Neri.
Saksi yang baik tidak seperti salesman yang menawarkan sebuah produk. Saksi yang baik itu seperti sebuah rambu-rambu. Sebuah rambu-rambu, entah masih baru dan mulus, entah sudah tua dan karatan, mempunyai fungsi yang sama, yaitu menunjukkan arah yang harus diikuti. Demikian juga kita, entah sudah tua, atau masih muda, entah tampan, cantik, atau biasa-biasa saja, punya gelar doktor atau hanya lulusan SD, seperti rambu-rambu kita menunjukkan arah yang benar dan harus dapat dipahami. Kita adalah saksi Kristus, kita menunjukkan arah kepada Dia. Kita harus menghantar sesama kepada Kristus.
Ya roh Kudus, Roh Kebenaran, kuatkanlah kami untuk menjadi saksi-saksi Kristus yang sejati. Amin.
