Remah Harian

JANGANLAH KUATIR AKAN HIDUPMU!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 21 Juni 2025, Peringatan Wajib St. Aloysius Gonzaga
Bacaan: 2Kor. 12: 1-10Mzm. 34:8-9,10-11,12-13Mat. 6:24-34

“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu….”
[Mat 6: 24 – 25]

Kita menutup pekan ini dengan merenungkan ajaran Yesus yang jelas dan kuat tentang kepercayaan pada kasih karunia Allah. Ia memberi peringatan yang tegas: Janganlah kuatir akan hidupmu! Khawatir adalah gejala dari masalah yang lebih dalam, yaitu kurangnya kepercayaan pada Allah atau lemahnya iman. Ketika kita menyerah pada kekhawatiran, kita secara tidak langsung meragukan bahwa rencana Allah untuk kita mungkin tidak cukup baik. Kita merasa takut bahwa segala sesuatu mungkin tidak akan berjalan dengan baik, jadi kita mencoba untuk merencanakan sebelumnya apa yang harus kita lakukan jika segala sesuatu tak berjalan semestinya – ketika Allah gagal melindungi kita. Kita mencoba mengendalikan segalanya, sehingga “kegagalan” Allah tidak mengganggu rencana kita….. terdengar absurd, tetapi itu karena kekhawatiran adalah hal yang absurd bagi seorang Kristen. Siapa yang dapat merawat kita dengan lebih baik selain Bapa kita di surga?

Yesus menyebut beberapa hal yang sering kita khawatirkan: uang, pekerjaan, makanan, pakaian. Kita masih cenderung khawatir tentang hal-hal ini. Namun, di zaman modern, orang-orang lebih khawatir daripada sebelumnya. Era informasi telah melahirkan era kecemasan. Orang-orang khawatir tentang segala hal yang mereka dengar di berita – harga minyak, kelangkaan makanan, pajak, terorisme, perubahan iklim….. apa yang dicapai oleh semua kekhawatiran ini? Tidak ada!

Tuhan menunjuk pada contoh-contoh sederhana dari alam sekitar kita. Lihatlah burung-burung di langit. Lihatlah bunga-bunga di padang. Jika Bapa menyediakan bagi mereka dengan begitu indah, “tidakkah Ia akan menyediakan yang lebih baik lagi bagimu, hai orang yang kurang percaya?” Tentu saja Ia akan melakukannya! Yesus tidak mengatakan kepada kita untuk hidup seperti orang-orang yang tidak percaya, yang “selalu mengejar ini dan itu”. Kita memiliki Bapa di surga yang tahu segala yang kita butuhkan, jadi kita memiliki dasar untuk tidak menyerah pada kecemasan yang sia-sia.

Akar kecemasan dapat merasuk ke dalam hati kita tanpa disadari ketika kita mulai mencari jaminan rasa aman di luar Allah, sehingga menciptakan perpecahan batin dalam diri kita. Yesus menyebut ini sebagai usaha untuk “mengabdi dua tuan.” Tidak mungkin menemukan damai dengan hati yang terpecah. Kita tidak dapat memberikan diri kita kepada baik Allah maupun uang. Bagian dari diri kita yang percaya pada Allah aman, tetapi bagian dari diri kita yang bergantung pada uang selalu resah, dan kekhawatiran mulai mengisi celah-celah dan akhirnya mengambil alih seluruh kehidupan batin kita. Tidak ada yang salah dengan uang. Poin Yesus adalah bahwa uang [dan anak cucunya] adalah pengganti yang sangat buruk untuk Allah.

Mengandalkan Allah, mengandalkan kasih karunia-Nya, inilah yang ditunjukkan oleh Paulus ketika ia mengamini apa yang dikatakan oleh Tuhan kepadanya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Paulus tidak berani memegahkan diri, “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Kita tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah kita hanya dengan mengandalkan cara-cara manusiawi semata. Obat penawar kekhawatiran adalah doa – bukan sekadar rangkaian kata-kata, tetapi doa dari hati, di mana kita membuat keputusan batin yang teguh untuk menerima kehendak Allah dengan iman. Kita membuat keputusan iman seiring dengan pertumbuhan kepercayaan kita bahwa Bapa sudah mengetahui segala yang kita butuhkan. Ketika kita mencari kerajaan-Nya di atas segalanya, kita menemukan bahwa segala yang kita butuhkan telah disediakan bagi kita. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Bapa akan menyelenggarakan hidup kita hari esok, sama seperti Dia mengurus kita hari ini.

Dalam hal apa saja saya melayani dua tuan? Apa yang sering saya khawatirkan? Apakah saya percaya pada Allah, Bapa saya? Bagaimana saya dapat tumbuh dalam kepercayaan? Apakah saya berdoa untuk kepercayaan yang lebih besar pada Allah?

Tuhan, ajarlah aku untuk tidak membebani diri dengan kekhawatiran yang tidak perlu dan kebutuhan palsu, tetapi belajar untuk menyerahkan diri ke dalam tangan-Mu yang penuh kasih. St. Aloysius Gonzaga, doakanlah kami. Amin.

Author

Write A Comment