Sabda Hidup
Sabtu 31 Agustus 2024, Sabtu Pekan Biasa XXI
Bacaan: 1Kor. 1:26-31; Mzm. 33:12-13.18-19. 20-21; Mat. 25:14-30.
Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka… masing-masing menurut kesanggupannya.” [Mat 25: 14. 15b].
Paus Fransiskus membuat perbandingan antara perumpamaan tentang talenta yang kita dengar dalam Injil hari ini dan kehidupan setiap orang, dengan menekankan bahwa struktur perumpamaan tersebut mencerminkan awal, tengah, dan akhir dari kehidupan kita.
Semuanya dimulai dengan kasih karunia Allah, yang mempercayakan talenta yang berbeda-beda kepada kita masing-masing: “masing-masing menurut kesanggupannya” (Mat. 25:15). Nilai dari satu talenta sangat besar, setara dengan pendapatan yang dapat menopang hidup seseorang seumur hidupnya. Awal hidup kita tidak didasarkan pada usaha kita sendiri, tetapi pada kasih karunia Allah, yang menganugerahkan talenta yang unik kepada kita masing-masing. Kehidupan yang telah dikaruniakan kepada kita, hal-hal positif yang kita miliki, dan keindahan abadi yang ditanamkan dalam diri kita oleh gambar Allah… Semua talenta ini adalah jumlah yang sangat besar yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita, cukup untuk seumur hidup kita.
Sayangnya, lebih mudah bagi kita untuk berfokus pada apa yang kurang dari diri kita dan mengungkapkan ketidakpuasan dengan situasi kita saat ini. Kita begitu terobsesi dengan kalimat, “Seandainya…” Seandainya saya memiliki pekerjaan itu, seandainya saya memiliki rumah itu atau seandainya saya tidak memiliki masalah ini atau itu. Sikap ini menghalangi kemampuan untuk menghargai hal-hal positif di sekitar kita.
Yesus memuji hamba-hamba-Nya yang bersedia mengambil risiko, dengan menyebut mereka sebagai “baik dan setia” (ayat 21, 23). Jika kebaikan tidak dimanfaatkan, maka kebaikan itu akan hilang, sama seperti hamba ketiga yang mengubur talentanya. Setia kepada Tuhan berarti menyerahkan kendali atas hidup kita dan membiarkan rencana-rencana kita “terganggu” oleh kewajiban kita untuk melayani.
Hamba yang ketiga mengatakan bahwa “ia takut”. Ketakutan adalah permainan iblis, yang menunjukkan kurangnya iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan takut mengambil risiko.
Bapa, tolonglah aku untuk melakukan yang terbaik dalam segala sesuatu yang telah Kaupercayakan kepadaku, sehingga orang lain dapat melihat dan memuliakan Nama-Mu. Amin.
