Sabda Hidup
Senin, 3 Maret 2025, Senin Pekan Biasa VIII
Bacaan: Sir. 17:24-29; Mzm. 32:1-2,5,6,7: Mrk. 10:17-27.
Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mrk 10: 21)
Seorang muda yang kaya – dalam istilah sekarang “a young crazy rich” – datang kepada Yesus mencari hidup yang kekal dan menyatakan maksudnya agar dapat diterima oleh Yesus sebagai murid-Nya. Dalam hal melaksanakan perintah agama, orang muda itu adalah juaranya! Ia sendiri mengatakan: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Wow….!!! Tetapi Yesus menantang orang muda itu: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Orang muda itu tidak menyadari bahwa kekayaannya sungguh telah menjadi tembok antara dia dan Allah. Hartanya telah “memiliki”-nya, menguasainya. Tantangan Yesus menyatakan satu hal yang masih kurang dalam hidupnya, belas kasih dan belarasa bagi orang miskin, dan apa yang menghalanginya dari kebaikan/kemuliaan yang ia cari yakni keengganannya berbagi berkat yang ia terima dengan mereka yang berkebutuhan.
Maka jelaslah bagi Yesus, bahwa seorang pengikut-Nya yang sejati, yang ingin memperoleh hidup yang kekal tidak hanya menjadi seorang yang terhormat, yang tidak menyakiti orang lain, tetapi juga seorang yang rela berbagi harta milik, bakat dan anugerah-anugerah lainnya dengan mereka yang berkebutuhan. Sayangnya, the crazy rich young man, enggan menerima tantangan Yesus, bahwa harta milik adalah untuk dibagikan kepada sesama, bukan hanya untuk dimiliki.
Sampai-sampai Yesus menggambarkannya dengan mengatakan bahwa lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk kerajaan Allah. Para murid terkejut ketika Yesus menantang kepercayaan orang Yahudi bahwa harta benda dan kekayaan adalah tanda berkat Allah, dengan menyatakan bahwa hidup beragama yang sejati mencakup juga berbagi berkat dengan sesama dengan rela hati dan tanpa kelekatan.
Melalui tantangan-Nya kepada orang muda dalam Injil hari ini, kita diingatkan kita sebenarnya tidak memiliki apapun dalam hidup kita jika kita merasa berat hati untuk mempersembahkannya kepada Tuhan. Sebaliknya, harta milik itu “memiliki” kita, menguasai kita, kita terpenjara oleh harta milik. Dapatkah kita menomorsatukan Yesus?
Kemuridan kita mengikuti Yesus haruslah total dan tanpa syarat. Kelekatan kita mungkin tidak terhadap uang atau materi, tetapi terhadap orang tertentu, pekerjaan, kesehatan, atau reputasi. Kita harus siap untuk melepas kelekatan kita itu untuk menjadi murid Kristus yang sejati, berani berbagi anugerah dengan sesama.
Ibu Teresa dari Calcuta pernah berakata: “Do something Beautiful for God.” Do it with your life. Do it every day. Do it in your own way. But do it!”
Bersama St. Ignatius Loyola kita berdoa:
Tuhan yang terkasih, ajarlah aku untuk bermurah hati… untuk bekerja keras dan tidak mengharapkan imbalan, asalkan aku tahu bahwa aku melakukan kehendak-Mu yang maha kudus. Amin.
