Remah Harian

JAGALAH LIDAHMU

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 12 Juni 2025, Kamis Pekan Biasa X
Bacaan: 2Kor. 3:15-4:1,3-6Mzm. 85:9ab-10, 11-12, 13-14Mat. 5:20-26

“Orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”
(Mat 5: 22)

Injil hari ini mengajarkan bahwa siapa pun yang menyimpan kebencian di hatinya adalah seorang “pembunuh” di dalam hati. Itulah tempat Injil selalu dimulai: bukan dari luar, tetapi dari dalam hati. Tetapi di situ jugalah perang dimulai. Di situlah perpecahan berkembang. Dan ya, di situlah kata-kata kita terbentuk.

Yesus pun sangat jelas: jangan menghina, jangan merendahkan, jangan berbicara buruk tentang saudara atau saudari Anda. Dia tidak hanya berbicara tentang kekerasan fisik, tetapi juga tentang kekerasan lidah — senjata tajam dan cepat yang dengan mudah kita gunakan. Kekerasan verbal sering disamarkan sebagai lelucon, sarkasme, atau sindiran cerdas. Namun di balik itu, ada keinginan untuk merendahkan orang lain agar kita merasa sedikit lebih tinggi.

Mengapa kita melakukan ini? Karena kita lemah, bukan jahat — kita rapuh, bukan berani. Seperti Kain, ketika kita merasa tidak aman atau terluka, kita lebih mudah tergoda untuk menyerang dengan kata-kata ketimbang membuka hati dengan kebaikan. Lebih mudah bergosip daripada memberkati. Lebih mudah meruntuhkan daripada membangun.

Namun Yesus menawarkan cara yang lain. Cara yang menuntut pertobatan — perubahan hati. Ia memanggil kita kepada “hukum kasih, hukum ketaatan, hukum damai.” Itu dimulai, secara sederhana, dengan lidah kita. Seperti yang dikatakan Santo Yakobus, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya,” (Yak 1: 26).

Mari kita mohon kepada Tuhan karunia untuk mengendalikan lidah kita — mengurangi kepahitan, melunakkan nada, memilih diam daripada fitnah, memberkati daripada menghina. Ini adalah silih dosa yang kecil, tetapi menghasilkan damai berlimpah.

Semoga kata-kata kita memberi kehidupan, bukan luka. Semoga ucapan mulut kita menguatkan, bukan membebani. Dan semoga kita tidak pernah lupa: kita semua menapaki jalan yang sama — membutuhkan belas kasih, kesabaran, dan cinta.

Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk terus bertumbuh setiap hari dalam kesabaran, dalam kemampuan untuk memaafkan, dan dalam kesediaan kami untuk mengorbankan diri. Amin.

Author

Write A Comment