Sabda Hidup
Jumat, 20 Desember 2024, Hari Biasa Khusus Adven
Bacaan: Yes. 7:10-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 1:26-38.
Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” [Luk 1: 38]
Kunjungan malaikat Gabriel kepada Maria mengingatkan kita akan pola Allah dalam memilih orang-orang biasa untuk mencapai tujuan-tujuan yang luar biasa, seperti yang terlihat dalam diri Sarah, Hanna, dan ibu Samson. Para perempuan ini, seperti Maria, diundang ke dalam rencana penyelamatan Allah, yang menunjukkan bahwa kuasa Allah membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Paus Fransiskus berbicara tentang Maria sebagai murid yang sempurna yang mendengarkan, bertanya, dan menanggapi dengan penuh kepercayaan. Reaksi awal Maria – kebingungan dan kesadaran penuh akan kondisi riil – mencerminkan orisinalitas yang mendalam. Dia tidak menerima begitu saja tetapi berusaha untuk memahami. Pertanyaannya, “Bagaimana hal ini dapat terjadi?” menunjukkan imannya yang aktif dan bijaksana, bukan pasif. Demikian pula, di dunia saat ini, Paus Fransiskus memanggil kita untuk merangkul iman yang cerdas dan aktif, iman yang terlibat secara mendalam dengan Firman Tuhan dan menanggapi tanda-tanda zaman.
Jaminan malaikat – “Jangan takut” – tetap relevan saat ini. Di tengah ketidakpastian global, mulai dari krisis lingkungan hingga perpecahan sosial, jaminan ilahi ini mengundang kita untuk percaya kepada rencana Allah, bahkan ketika rencana itu berada di luar jangkauan kita. Tanggapan Maria – “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” – menantang kita untuk menyerahkan diri kita kepada kehendak Allah dengan kerendahan hati dan keberanian, sebuah sikap yang Paus Fransiskus sebut sebagai “pemuridan misioner.”
Penyebutan Elisabet mengingatkan kita akan sifat komunal dari iman. Segera sesudah ini Maria bergegas menjumpai Elisabet dan membantunya. Sebagaimana Maria melakukan perjalanan untuk melayani Elisabet, kita juga dipanggil untuk melakukan perjalanan bersama orang lain, membawa harapan dan solidaritas, terutama bagi mereka yang terpinggirkan atau membutuhkan. Dalam Gereja kita, hal ini berarti membangun jembatan pemahaman dan pelayanan di tengah-tengah perpecahan dan ketidakpastian.
Maria, hamba Tuhan, memberikan teladan hidup pelayanan. Jawaban “ya” yang diucapkannya bergema dalam setiap tindakan kasih dan misi yang kita lakukan, mengajarkan kita bahwa iman bukanlah sebuah hak istimewa melainkan sebuah pelayanan. Semoga kita, seperti Maria, mengatakan ya pada panggilan Tuhan hari ini.
Bunda Maria, ajarlah kami untuk menjawab “ya” terhadap panggilan dan tugas apapun yang Allah berikan kepada kami. Amin.
