Sabda Hidup
Kamis, 13 Februari 2025, Kamis Pekan Biasa V
Bacaan: Kej. 2:18-25; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 7:24-30
Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.” (Mrk 7: 26 – 30).
Dalam Injil hari ini, kita menyaksikan kekuatan iman, kasih, dan ketekunan yang luar biasa. Dimulai dengan Yesus, yang menginginkan istirahat. Sama seperti kita yang sering membutuhkan waktu untuk diri kita sendiri, demikian juga Yesus. Namun, Yesus tidak bisa “bersembunyi”. Dia mengorbankan waktu-Nya untuk beristirahat untuk menyembuhkan, menghibur, dan memberikan kelegaan. Kemurahan hati yang memberi diri ini adalah model bagi kehidupan Kristiani kita, yang mengingatkan kita untuk mengesampingkan kebutuhan kita sendiri untuk hadir bagi orang lain. Tuhan memanggil kita untuk membawa kesembuhan dan kasih – untuk memberikan kata-kata peneguhan, tatapan penuh kasih, telinga yang mendengarkan, atau pelukan lembut yang dapat menenangkan luka yang dalam dan membawa harapan.
Kita kemudian jumpai iman yang kuat dari seorang ibu. Perempuan ini, meskipun bukan pengikut Yesus, tersungkur di kaki-Nya dengan kerendahan hati dan kasih kepada anaknya. Berapa banyak orang tua yang mengorbankan waktu, tenaga, dan harga diri mereka untuk memastikan kesejahteraan putra-putri mereka? Entah itu bekerja lembur, bertahan semalaman di rumah sakit, atau sekadar memberikan dukungan yang tetap, kasih mereka mencerminkan kasih Allah – tanpa syarat dan tanpa pamrih.
Iman ibu itu menunjukkan kepada kita pentingnya ketekunan dalam doa. Dia memohon kepada Yesus, tidak menyerah meskipun ada penolakan pada awalnya. Terlebih lagi, mendengar Yesus menyebutnya “anjing”. Pada masa itu, menyebut seseorang “anjing” berarti menganggap orang itu kotor. Anjing jalanan dipandang sebagai sesuatu yang kotor, seperti babi. Namun dengan bergurau perempuan itu menjawab kata-kata Yesus yang “kasar” itu: “Benar Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Mungkin ia sendiri menyadari bahwa kata-kata Yesus tidak ditujukan kepadanya secara personal, tetapi Ia ingin mengatakan bahwa pilihan Allah terhadap Israel sebagai Bangsa Terpilih tetap berlaku, meski ditanggapi dengan ketidaksetiaan oleh mereka.
Ketekunannya adalah sebuah bentuk kepercayaan, karena ia tahu bahwa Allah dapat melakukan apa yang tidak dapat ia lakukan. Ini adalah sebuah panggilan bagi kita semua: jangan pernah berhenti berdoa. Dalam kehidupan kita, saat kita memohon sesuatu kepada Tuhan, mungkin pada awalnya jawaban Tuhan nampak “keras” dan “tidak adil” dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Dalam proses, ketika kita dengan iman merenungkan kembali jawaban-Nya, kita akan menemukan bahwa Tuhan mempunyai maksud-maksud tertentu, yang sering kali belakangan kita memahaminya. Percayalah bahwa Tuhan mendengar kita dan bekerja pada waktu-Nya dan sesuai kehendak-Nya untuk menjadikan segala sesuatu baru.
Semoga Tuhan mengaruniakan kepada kita iman seperti ibu ini dan kemurahan hati Yesus. Melalui perantaraan Maria, Bunda kita, semoga kita bertumbuh dalam iman dan cinta tanpa pamrih.
Tuhan, tolonglah kami untuk bertekun dalam doa, dan berikanlah kami hati yang murah hati untuk membawa kesembuhan dan cinta kasih kepada orang lain. Amin.
