Sabda Hidup
Kamis, 3 April 2025, Kamis Pekan Prapaskah IV
Bacaan: Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47.
“Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar.”
(YOH 5: 31 – 32)
Menjelang Pekan Suci, Gereja memanggil kita untuk menyegarkan hati dan menegaskan kembali komitmen kita pada janji yang kita buat pada hari Rabu Abu: bertobat dan percaya kepada Injil. Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara kepada mereka yang masih meragukan-Nya meskipun ada banyak bukti. Dia memberikan empat saksi: Yohanes Pembaptis, karya dan mukjizat-Nya sendiri, Allah Bapa, dan Kitab Suci. Meskipun demikian, banyak orang yang terus menolak untuk percaya.
Puluhan tahun setelah kebangkitan Yesus, jemaat Kristen awal menghadapi penganiayaan. Yohanes menulis untuk menguatkan dan meneguhkan mereka untuk terus percaya kepada Yesus, bahkan ketika iman harus menghadapi tantangan.
Yesus menunjukkan alasan sebenarnya mengapa banyak orang menolak Dia: ketakutan dan kesombongan. Para pemimpin Yahudi pada zaman-Nya takut kehilangan kekuasaan dan status. Menerima Yesus berarti melepaskan kemuliaan mereka sendiri untuk mencari kemuliaan yang berasal dari Tuhan. Pergumulan yang sama masih terus berlanjut hingga saat ini. Banyak orang menutup diri kepada Kristus karena takut akan perubahan yang dituntut oleh Injil. Bahkan kita, yang telah mengimani-Nya dan tahu akan perintah-perintah-Nya sering kali gagal untuk menghidupi perintah-perintah-Nya secara konsekuen karena takut akan perubahan yang dituntutnya! Kita gagal memperjuangkan kebenaran karena takut terhadap kesulitan-kesulitan yang akan kita hadapi: karier mandeg, usaha dipersulit, dalam pergaulan dijauhi, disingkirkan.
Pada masa Prapaskah ini, kita dipanggil untuk membaca kembali Kitab Suci dalam terang hidup, wafat, dan kebangkitan Yesus. Ia hadir dalam penderitaan dan jatuh bangun kita menghidupi iman secara konsekuen. Ia hadir dalam diri mereka yang ditolak, dalam diri mereka yang berjuang untuk kebenaran, perdamaian dan keadilan. Beranikah kita menyatakan iman kita kepada Tuhan, bukan hanya pada saat-saat kita merasa aman dan nyaman? Dapatkah kita setia pada iman kita setiap hari?
Iman bukanlah sebuah pekerjaan paruh waktu. Itu adalah sebuah cara hidup. Janganlah kita takut untuk membuka hati kita dan bersaksi tentang kebenaran kasih Kristus.
Tuhan, teguhkan iman kami dan tolonglah kami untuk hidup sebagai saksi-saksi yang setia akan kasih-Mu. Amin.
