Remah Harian

IA LEBIH DAHULU MENCINTAI KITA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 27 Juni 2025, Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus
Bacaan: Yeh 34:11-16; Mazmur 23:1-3a,3b-4,5,6; Rom. 5:5b-11; Luk. 15:3-7.

“Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira.”
[Luk 15: 4 – 5]

Hari ini kita merayakan salah satu misteri terindah dalam iman kita: Hati Kudus Yesus — hati yang begitu mencintai dunia, dan terus mencintai masing-masing dari kita dengan kelembutan yang tak dapat padam oleh penderitaan, dosa, atau badai apa pun.

Sebelum wafatnya, Paus Fransiskus mewariskan kepada kita Ensiklik keempatnya yang berjudul Dilexit Nos, “Dia telah Mencintai Kita.” [Barangkali lebih tepat jika dikatakan bahwa Ia tidak hanya telah mencintai kita, tetapi Ia mencintai terlebih dahulu]. Kata-kata ini dari Santo Paulus (Roma 8:37) tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan Kristus, tetapi siapa Dia. Dia mencintai kita — masa lalu, sekarang, dan masa depan. Dan cinta ini bukan cinta yang teoretis, jauh, atau sentimental. Ia adalah cinta ilahi dan manusiawi. Ia adalah cinta yang pribadi. Ia adalah Hati-Nya sendiri.

Hati Kudus Yesus — tertusuk, terluka, namun tetap membara dengan cinta — adalah tanda yang paling jelas bahwa Allah tidak pernah menyerah pada kita. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa Hati Yesus bukan hanya simbol; itu adalah pusat Injil. Itu memberitahu kita: Kamu dikenal. Kamu dilihat. Kamu diperhitungkan, Kamu dicintai. Dan tidak ada apa pun, kegagalan, kehilangan, kelemahan, yang dapat memisahkan kita dari cinta itu.

Namun, seperti yang ditekankan Paus, banyak hati telah menjadi dingin di dunia saat ini. Kita melihat perang, perpecahan, dan teknologi yang memisahkan daripada mempersatukan. Kita tergoda untuk mengukur segala sesuatu dengan keuntungan atau efisiensi. Paus berkata: dunia telah kehilangan hatinya. Dan oleh karena itu, sekarang lebih dari sebelumnya, kita perlu kembali — bukan hanya ke hati sembarang, tetapi ke Hati-Nya. Karena hanya dari Hati Kudus kita dapat belajar bagaimana hidup kembali: dengan belas kasihan, kasih sayang, dan kegembiraan.

Kita tidak boleh membiarkan iman kita menjadi mekanis atau kering. Devosi kepada Hati Kudus bukanlah tradisi yang usang. Itu adalah undangan untuk menemukan kembali kegembiraan melayani, api misi, dan keindahan kelembutan. Pater General MSC dalam suratnya untuk Hari Raya ini mengajak untuk “merasakan kembali denyut nadi misi kita.” Ketika kita memandang Hati-Nya, kita ingat Gembala yang Baik yang mencari yang hilang, mengobati luka yang terluka, dan menggendong yang lelah di pundak-Nya.

Cinta sejati tidak selalu keras atau dramatis. Ia tetap. Ia bertahan. Dan ya, ia seringkali menanggung luka — luka dari pengkhianatan, kehilangan, atau penolakan. Tetapi dalam Hati Kudus Yesus, kita melihat cinta yang tidak pernah mundur, tak pernah menyerah, cinta yang tidak menjadi dingin. Ia ditusuk — bukan untuk menghukum, tetapi untuk mencurahkan belas kasihan-Nya. Dan bahkan sekarang, Ia menanti kita — bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menghibur.

Mari kita mendekat ke Hati Yesus. Mari kita taruh luka-luka kita kepada luka-Nya, hati kita kepada Hati-Nya. Karena dari Hati-Nya mengalir air Roh Kudus, api misi, dan kelembutan yang sangat dibutuhkan dunia ini.

Dia mencintai kita terlebih dahulu. Mari kita mencintai-Nya sebagai balasan. Dan mari kita tunjukkan cinta itu kepada dunia yang merindukan untuk dicintai.

Ya Hati Yesus yang Mahakudus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Author

Write A Comment