Remah Harian

HUKUM UNTUK KEHIDUPAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup
Selasa 21 Januari 2025, Selasa Pekan Biasa 2, Peringatan St. Agnes

Bacaan: Ibr. 6:10-20Mzm. 111:1-2,4-5,9,10cMrk. 2:23-28.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan esensi sejati dari hari Sabat secara khusus dan hukum Taurat secara umum. Perikope Injil sebelum bacaan hari ini (bacaan Injil kemarin, Senin Pekan Biasa II), memberikan penjelasan bahwa murid-murid Yesus tidak perlu berpuasa karena Dia menyertai mereka. Puasa dilakukan untuk menantikan kedatangan Tuhan dan niat lain untuk meminta rahmat dari Tuhan. Karena Yesus, Mesias dan Anak Allah telah bersama dengan para murid, maka mereka dibebaskan dari kewajiban berpuasa. Tentu saja, bagi orang-orang Farisi, hal ini merupakan pelanggaran terhadap Hukum Yahudi. Injil hari ini bercerita tentang Yesus yang pada suatu hari Sabat berjalan di ladang gandum dan para murid memetik bulir gandum dan memakannya. Mereka lapar dan melakukan sesuatu yang wajar bagi mereka. Namun, orang-orang Farisi menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengkritik bahwa dengan memetik bulir gandum, para murid melanggar hukum Sabat. Bagi mereka, Yesus bukan orang Yahudi yang baik.

Benarkah? Tampaknya tidak. Yesus memanfaatkan situasi ini untuk menjelaskan kepada orang-orang Farisi tentang kesalahan yang telah mereka lakukan. Dari sepuluh perintah, diturunkan 603 perintah lainnya. Dalam prosesnya, semangat hukum Taurat telah dikesampingkan dan hukum-hukum tambahan itu menjadi masalah.

Yesus ingin mengingatkan mereka bahwa ini bukan hanya tentang mengikuti hukum Taurat, bukan juga tentang pemenuhan hukum-hukum tambahannya. Fakta bahwa Dia meringkas hukum-hukum itu hanya dalam dua hukum; kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri, menunjukkan esensi sejati dari hukum-hukum itu, yaitu rohnya. Dalam hal hukum ada sebuah adagium, “dura lex sed lex”, yang berarti, “hukum itu keras tetapi itulah hukum”. Artinya, hukum harus ditegakkan, bahkan jika hasilnya patut disesalkan. Menerapkan tepat seperti apa yang tertulis adalah cara paling gampang untuk mereka yang legalistik dan tidak dapat berdebat berdasarkan manfaat atau kegunaannya. Dalam prosesnya, sering orang dibebaskan oleh hal-hal teknis. Oleh karena itu, keadilan menjadi terampas.

Inilah yang ditentang oleh Yesus. Hukum dibuat untuk manusia dan bukan sebaliknya. Hukum seharusnya bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Tidak semua situasi tercakup dalam hukum. Akan selalu ada pengecualian. Yesus mencontohkan saat Daud dan anak buahnya memakan roti yang sebenarnya hanya untuk para imam. Pada saat itu, roti tersebut dibutuhkan untuk makanan bagi anak buahnya yang kelaparan. Apakah Daud harus membiarkan anak buahnya mati kelaparan ketika roti tersedia?

Intinya adalah kebaikan bersama, common good. Tuhan menginginkan kebaikan bagi semua orang. Kebaikan di sini lebih dari sekadar rezeki secara fisik atau materi. Kebaikan ini berhubungan dengan iman dan keselamatan. Daud dan anak buahnya sedang berperang di jalan Allah. Karena memakan roti yang disediakan untuk para imam, mereka melanggar hukum Taurat, tetapi mereka memenuhi semangat hukum Taurat.

Sejauh mana kita cenderung membatasi kehidupan beriman kita sekadar pada kepatuhan terhadap hukum? Marilah kita menyadari bahwa inti dari hidup beriman adalah cinta dan pelayanan: untuk mengasihi dan melayani Tuhan di atas segalanya dan untuk mencintai saudara dan saudari kita seperti diri kita sendiri.

Tuhan, lebih mudah bagi kami untuk mencari keselamatan dalam menaati hukum dan adat istiadat daripada bertanggung jawab secara pribadi untuk orang-orang di sekitar kami dan melayani Engkau dengan kebebasan kasih. Utuslah Roh Kudus untuk memenuhi kami dengan kasih-Mu yang penuh daya cipta dan kreatif, sehingga kami dapat mencari cara-cara baru untuk mengasihi Engkau dan satu sama lain. Amin.

Author

Write A Comment