Remah Harian

HIDUP DALAM TERANG JANJI KEBANGKITAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 23 November 2024, Sabtu Pekan Biasa XXXIII
Bacaan: Why. 11:4-12Mzm. 144:1,2,9-10Luk. 20:27-40.

Injil hari ini mempertemukan kita dengan orang-orang Saduki, para pemimpin berpengaruh yang menolak gagasan kebangkitan. Mereka mengajukan kepada Yesus sebuah skenario yang tampaknya tidak masuk akal: seorang perempuan menikahi tujuh orang bersaudara, yang masing-masing meninggal tanpa meninggalkan seorang anak pun. Mereka bertanya, “Pada saat kebangkitan, siapakah yang akan menjadi suaminya?” Mereka bermaksud mengejek konsep kebangkitan, menggambarkannya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan mustahil.

Tetapi Yesus memahami pertanyaan mereka dan menjawab dengan jelas dan penuh kuasa. Dia menjelaskan bahwa kehidupan setelah kebangkitan melampaui realitas duniawi kita. Dalam kebangkitan, hubungan-hubungan akan berubah; kita tidak akan terikat oleh adat istiadat duniawi seperti pernikahan. Sebaliknya, kita akan sepenuhnya hidup sebagai anak-anak Allah, berbagi kehidupan baru yang sepenuhnya dipenuhi dengan kasih Allah yang kekal. Yesus mengundang kita untuk melihat kebangkitan bukan sebagai perpanjangan hidup di dunia ini, tetapi sebagai cara hidup yang sama sekali baru untuk hidup bersama Allah.

Yesus mengingatkan kita akan hubungan Allah yang kekal dengan umat-Nya. Dia menyoroti ikatan yang melampaui kefanaan dengan menyebut diri-Nya sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Meskipun para bapa leluhur ini telah pergi dari kehidupan duniawi, mereka tetap ada di hadirat Allah. Yesus menyingkapkan sebuah kebenaran yang mendalam: kasih Allah itu abadi dan berkuasa sehingga melampaui kematian, menanamkan kehidupan di tempat di mana kita hanya melihat kematian dan akhir.

Sebagai sebuah komunitas, pesan ini memperbaharui iman kita akan kuasa Tuhan untuk membawa kehidupan dari kematian. Pesan ini meyakinkan kita bahwa pengharapan kita bukan pada janji yang bersifat sementara, melainkan pada kasih ilahi yang tak berkesudahan. Di dalam Kristus, kita dijanjikan kehidupan yang kekal, kehidupan di mana kita akan tinggal bersama Allah selamanya. Kiranya kita berpegang teguh pada pengharapan ini, memeluk kasih yang menang atas segala sesuatu, bahkan kematian itu sendiri.

Dengan pengharapan itu, kita perlu mengarahkan diri pada kehidupan kekal mulai dari sekarang. Sesungguhnya kalau kita tahu bahwa Tuhan telah menyatakan kepada kita jalan kehidupan dan jalan kematian, maka sudah seharusnya kita memilih jalan kehidupan yang akan membawa kita kepada kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini tidak bisa kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri, namun merupakan pemberian Allah, yang harus kita tanggapi secara bebas oleh iman, dengan terus bekerjasama dengan rahmat-Nya, senantiasa berharap kepada janji-Nya, dan terus bertumbuh dalam kasih. Marilah, sekali lagi kita mengarahkan pandangan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu kehidupan kekal. Kapan harus kita mulai? Sekarang juga!

Tuhan, Engkau memberikan hidup kekal kepada mereka yang percaya dan mengasihi Engkau. Aku percaya kepada-Mu, Tuhan. Pimpinlah aku, juga orang-orang yang aku kasihi dan mereka yang paling membutuhkan-Mu, ke dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Author

Write A Comment