Sabda Hidup
Jumat, 28 Februari 2025, Jumat Pekan Biasa VII
Bacaan: Sir. 6:5-17; Mzm. 119:12,16,18,27,34,35; Mrk. 10:1-12.
Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” [Mrk 10: 5 – 9]
Mengetahui pergumulan dan ketidakpastian hidup, Yesus tidak mengharapkan kita untuk memiliki semua jawaban, dan Dia juga tidak mengutuk kita karena kelemahan kita. Sebaliknya, Dia dengan sabar mengajar dengan penuh belas kasih, mengingatkan kita bahwa kita semua membutuhkan bimbingan-Nya. Hidup ini penuh dengan tantangan yang tak terduga, dan tak seorang pun kebal terhadap kegagalan. Sebelum menghakimi orang lain, baiklah kita ingat bahwa kita juga pernah gagal. Jalan iman membutuhkan kerendahan hati, keterbukaan untuk belajar, dan kepercayaan pada hikmat Tuhan.
Ketegaran hati adalah penghalang terbesar bagi komitmen yang tulus. Ketika kesombongan, egoisme, atau rasa sakit menjadi tembok dalam hubungan-hubungan kita, cinta akan tercekik. Hal ini terutama terjadi dalam pernikahan, di mana dialog dan saling pengertian sangatlah penting. Hubungan yang beracun (toxic), tanpa kasih dan rasa hormat, dapat menghancurkan citra Allah dalam keluarga. Kekerasan hati akan membawa kepada keterasingan dan kepahitan, sedangkan kasih, kerendahan hati, dan hadirat Tuhan akan menjaga hubungan tetap hidup. Kita dipanggil untuk mengembangkan hati yang mau mendengarkan, mengampuni, dan mencari persatuan di atas kepentingan pribadi.
Dalam dunia yang sering kali mendistorsi cinta menjadi kesenangan atau kenyamanan semata, kita harus berjuang untuk menghayati cinta yang memberi diri dan memberi kehidupan. Cinta sejati bukanlah tentang kepuasan pribadi, tetapi menghadapi kenyataan hidup bersama dan mempersembahkan segalanya kepada Tuhan. Komitmen tidak selalu mudah, tetapi ketika hati kita berakar pada kasih karunia Tuhan, kita belajar untuk mengasihi dengan kesabaran, pengorbanan, dan pengharapan.
Tuhan, lembutkanlah hati kami, kuatkanlah komitmen kami, dan tolonglah kami untuk mengasihi seperti Engkau mengasihi – dengan setia, murah hati, dan dengan hati yang terbuka. Amin!
