Sabda Hidup
Sabtu 7 September 2024, Sabtu Pekan Biasa XXII
Bacaan: 1Kor 4:6b-15; Mzm 145:17-18.19-20.21; Luk 6:1-5.
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6: 1 – 5)
Kitab Ulangan menetapkan, “Hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan” (Ul. 5:14). Seiring berjalannya waktu, para rabi mulai merinci secara lebih detail kegiatan-kegiatan yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat. Mereka mengidentifikasi 39 jenis pekerjaan, masing-masing dengan 39 spesifikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, 39 x 39 menghasilkan 1521 kegiatan yang dilarang.
Inilah yang menjadi latar belakang pertanyaan tentang murid-murid Yesus yang melanggar hari Sabat, dengan “berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Lukas menggunakan peristiwa ini untuk mendidik komunitasnya tentang arti penting yang sebenarnya dari menghormati “Hari Tuhan.” Tujuan awal dari hari Sabat adalah untuk menjadi hari yang penuh dengan sukacita. Di pagi hari, seluruh komunitas akan berkumpul di sinagoga untuk berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan. Setelah ibadah, mereka akan bersosialisasi dan kemudian makan siang bersama teman-teman dan sahabat-sahabat. Pada dasarnya, hari itu dimaksudkan untuk menjadi hari yang dikhususkan untuk Tuhan, dihabiskan dalam doa dan meditasi.
Oleh karena itu, Hari Tuhan adalah waktu yang sakral untuk digunakan bersama Tuhan. Inilah yang dilakukan oleh para murid. Mereka mendedikasikan waktu mereka untuk Tuhan, mendengarkan Firman-Nya. Sebuah hari menjadi kudus hanya ketika hari itu mengedepankan kesucian manusia dan bukan kebencian dan kemarahan. Saat ini, ada bahaya bahwa “Hari Tuhan” dipandang sebagai pemulihan dari tekanan dalam seminggu, waktu untuk mengumpulkan energi untuk minggu yang akan datang. Instilah kerennya: “healing”. Sebuah siklus yang tidak mengarah ke mana-mana. Hari Tuhan haruslah menjadi waktu yang dikhususkan untuk Tuhan, untuk merenungkan sabda-Nya, berdoa, dan karya amal.
Apa artinya bagi anda perintah, “Kuduskanlah hari Tuhan”?
Tuhan semoga kami menghormati Engkau dalam pekerjaan dan istirahat kami serta memperlakukan sesama dengan hormat. Amin.
