Sabda Hidup
Jumat 14 Februari 2025, Peringatan St. Sirilus dan St. Metodius
Bacaan: 1Raj. 11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37.
Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah!”
(Mrk 7: 33 – 34).
Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana Yesus dengan menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap, memenuhi nubuat Yesaya tentang Sang Juruselamat: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka,” (Yes 35: 5).
Orang bisu-tuli [tuli dan gagap dalam terjemahan kita] ini adalah gambaran manusia pada umumnya, justru karena menjadi tuli dan dengan demikian tidak dapat mendengarkan suara dan kata-kata maka dia tidak dapat belajar membuat suara dan kata-kata, dan orang itu menjadi bisu/gagap. Inilah kondisi manusia yang tuli terhadap Firman Tuhan; ketidakmampuan mereka untuk mengerti, memahami, dan menerima Firman, dan dengan demikian manusia memiliki ketidakmampuan untuk berkomunikasi, untuk berbicara tentang Firman yang telah diterimanya.
“Efata!” kata yang Yesus ucapkan dengan tegas: “Bukalah!” (Terbukalah!). Ada seorang yang tertutup, dan Yesus memberikan perintah kepadanya: “Bukalah.”
Dia memerintahkan orang ini, yang menutup diri, untuk membuka diri. Telinganya terbuka, pengikat lidahnya terlepas. Ini adalah gambaran yang nampak konyol. Orang itu memiliki lidah yang terikat. Kata-kata Yesus melepaskannya. Ritus ini telah dipertahankan dalam perayaan pembaptisan dan kita terus melakukannya dengan anak-anak juga. Setelah tindakan-tindakan simbolis lainnya seperti pengurapan, pemakaian pakaian/kain putih, cahaya (pemberian lilin bernyala), imam atau petugas pembaptis lainnya menyentuh telinga dan mulut orang yang dibaptis, sambil berkata: “Engkau telah membuka mulut dan telinga orang-orang bisu-tuli, maka sudilah membuka mulut dan telinga anak ini agar ia dapat mendengarkan Sabda-Mu dan mengakui imannya demi keselamatan manusia serta kemuliaan-Mu.”
Dengarkanlah dan akuilah. Dengarkanlah Firman dan akuilah iman. Inilah rencana perjalanannya, program hidupnya. Orang bisu-tuli ini menjadi prototipe dari katekumen, yaitu orang yang mengikuti masa persiapan untuk menerima baptisan, terbuka untuk mendengarkan Firman dan terbuka untuk mewartakan imannya. Sesungguhnya, kita ingin Tuhan terus membisikkan perintah ini ke dalam hidup kita, “Efata”, sehingga kita menjadi terbuka terhadap Firman-Nya dan mewartakan iman kita.
Tuhan, bukalah telinga dan lepaskan kekeluan lidah kami, agar kami mendengar Sabda-Mu dan mewartakannya, agar kami mendengar suara mereka yang terpinggirkan dan mampu menyuarakan mereka yang tak mampu menyuarakan kebutuhan mereka akan kasih dan keadilan. Amin.
