Sabda Hidup
Sabtu, 18 Januari 2025, Sabtu Pekan Biasa I, Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen
Bacaan: Ibr. 4:12-16 ; Mzm. 19:8-9,10,15; Mrk. 2:13-17
Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.” [Mrk 2: 14]
Injil kemarin menyajikan konflik pertama mengenai kuasa Yesus untuk mengampuni dosa. Hari ini, kita menghadapi kontroversi kedua, yakni keputusan-Nya untuk makan bersama dengan orang-orang berdosa (Mrk. 2:13-17). Hal ini menantang batas-batas budaya dan agama, dan memberikan kita pelajaran tentang pemuridan, pengampunan, dan komunitas.
Tindakan Yesus sangat kontras dengan norma-norma masyarakat waktu itu. Ketika Dia memanggil Lewi, seorang pemungut cukai – profesi yang dibenci karena korupsinya – Yesus tidak hanya mengampuninya, tetapi juga mengundangnya masuk ke dalam lingkaran murid-murid-Nya yang paling dekat. Lewi meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus, melambangkan respons radikal terhadap anugerah ilahi.
Kontroversi meningkat ketika Yesus makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Bagi para pemimpin agama, tindakan makan bersama ini merupakan sebuah skandal. Mereka percaya bahwa makan bersama menandakan penerimaan dan persaudaraan dengan orang-orang berdosa, yang menurut mereka bertentangan dengan kekudusan. Namun, misi Yesus adalah untuk menyembuhkan yang hancur, mencari yang terhilang, dan memulihkan hubungan antara Allah dan manusia.
Injil hari ini mengundang kita untuk merenungkan kehidupan kita sendiri. Yesus memanggil kita masing-masing, sebagai orang berdosa, ke meja anugerah-Nya. Pengampunan-Nya adalah sebuah anugerah, tetapi bagaimana kita menanggapinya? Apakah kita, seperti Lewi, meninggalkan cara-cara lama kita dan mengikut Dia dengan sepenuh hati? Dan setelah diampuni, apakah kita berusaha untuk menghindari dosa dan mewujudkan belas kasihan yang telah kita terima dengan mengulurkannya kepada orang lain?
Tindakan Yesus mengingatkan kita bahwa tidak ada seorang pun yang berada di luar panggilan Tuhan. Kasih karunia-Nya menjangkau ke tempat-tempat yang paling tak terduga, menarik kita ke dalam persekutuan dengan-Nya dan satu sama lain. Di dalam Kristus, kita menemukan kesembuhan dan tujuan – sebuah undangan untuk hidup sebagai murid-murid-Nya, membagikan kasih dan belas kasihan-Nya kepada dunia yang membutuhkan.
Selain itu, bagaimana sikap kita terhadap sesama? Siapakah yang ingin anda hindari dan singkirkan dari kehidupan anda? Sebagai pengikut Kristus, dapatkah kita berjalan dan hidup bersama dengan orang-orang yang ingin kita hindari dan singkirkan?
Bapa, semoga kami, kumpulan orang-orang yang baik dan berdosa, tidak membangun tembok pemisah satu terhadap yang lain, tetapi mengusahakan jembatan, membangun persatuan sebagai anak-anak-Mu yang telah Kauampuni. Amin.
