Remah Harian

DITOLAK OLEH MILIK KEPUNYAAN-NYA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 24 Maret 2025, Senin Pekan Prapaskah III
Bacaan: 2Raj. 5:1-15aMzm. 42:2,3Mzm. 43:3,4Luk. 4:24-30.

“Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.”

[LUK 4: 28 – 29]

Di dekat Nazaret, menghadap ke Lembah Yizreel, terdapat sebuah tebing curam yang memberikan pemandangan indah Gunung Tabor. Tempat menarik ini dikenal sebagai Mons Saltus Domini dalam bahasa Latin, atau Gunung “Lompatan Tuhan”, yang juga dikenal sebagai “Gunung Jurang”. Tradisi mengatakan bahwa ini adalah tebing gunung di mana Nazaret dibangun dan di mana Tuhan melompat ketika orang-orang di kota asal-Nya hendak melemparkan-Nya untuk membunuh-Nya. Ada tradisi apokrif yang mengatakan bahwa di sana kita dapat menemukan batu tempat Yesus mendarat, di mana Dia meninggalkan jejak tangan dan kaki-Nya. Ada juga yang mengatakan bahwa seluruh sosok Yesus tercetak seolah-olah di atas lilin yang lembut di atas batu yang dilalui-Nya. Tradisi ini menunjuk pada perikope Injil Lukas yang kita dengar hari ini.

Kita menemukan peristiwa ini pada awal pelayanan Yesus. Pada saat Ia kembali ke Nazaret setelah pembaptisan dan pencobaan-Nya di padang gurun, Ia berkhotbah di rumah ibadat di mana semua orang terkesima dengan perkataan-Nya. Tetapi kesadaran bahwa Dia hanyalah salah satu dari mereka, dan perkataan-Nya bahwa tidak ada nabi yang diterima di tempat asalnya, membuat penduduk kota itu marah sehingga mereka ingin melemparkan-Nya dari atas tebing. Karena penolakan ini, karya pelayanan Yesus banyak dilakukan di Kapernaum.

Ada banyak kebenaran dalam perkataan Yesus. Dalam pelayanan-Nya, Yesus mengalami penolakan: tidak hanya dari orang-orang yang menentang-Nya, tetapi juga dari keluarga-Nya sendiri dan orang-orang di dalam lingkaran-Nya. Injil Yohanes mengatakan, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya,” (Yoh 1: 11).

Kita mungkin berada dalam posisi yang sama-ditolak oleh orang-orang terdekat kita karena keyakinan kita yang berakar pada ajaran Kristus. Saat kita melakukan tindakan kenabian, kita mesti siap menghadapi penolakan, pengkhianatan, ketidakpercayaan atau bahkan pelecehan dari orang-orang yang kita kenal: keluarga, teman, kerabat dst. Akankah kita “kalah” terhadap penolakan mereka?

Kita harus memiliki keberanian sebagai nabi. Injil hari ini menantang kita untuk memiliki keberanian atas keyakinan Kristiani kita dalam kehidupan kita sehari-hari di komunitas kita, ketika kita menghadapi kebencian dan penolakan karena iman dan kebenaran yang kita pegang.

Tuhan, semoga kami berani berpegang pada kebenaran sejati, apapun risikonya. Jadikan kami nabi-nabi masa kini.

Author

Write A Comment