Sabda Hidup
Minggu, 28 Juli 2024, Minggu Biasa XVII, Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia
Bacaan: 2Raj. 4:42-44; Mzm. 145:10-11,15-16,17-18; Ef. 4:1-6; Yoh. 6:1-15.
Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan” (Yoh 6: 11 – 13).
Suatu ketika, di sebuah kota diselenggarakan sebuah galla dinner untuk menghimpun dana bagi karya misi di pedalaman. Tamu-tamu elit papan atas datang dengan pakaian mewah dan berkilau untuk acara tersebut. Mereka sama sekali tidak keberatan membeli tiket yang mahal untuk acara tersebut. Puncak acara tersebut adalah dansa di ballroom yang mewah itu. Oleh sebab itu tema acara tersebut adalah: “Dansa untuk Orang Miskin.” Tentu sebelum datang ke acara tersebut para tamu sudah mengorbankan waktu juga untuk berlatih dansa, agar tidak memalukan.
Setelah acara yang penuh dengan gebyar gegap gempita dan menyenangkan itu, seorang ibu berdiri di luar hotel menunggu mobil yang menjemputnya. Sekelompok pengemis mendatanginya dan minta sedekah. Ia cuek saja, tidak memperhatikan mereka sama sekali, hingga salah seorang dari para pengemis itu, untuk menarik perhatiannya menarik pakaian ibu itu. Ibu itu menjadi marah dan sambil mengusir mereka ia berkata: “Pergi! Pergi! Bisa robek bajuku yang mahal ini nanti! Tidak tahukah kamu, berapa banyak uang yang baru saja saya sumbangkan untuk kalian orang-orang miskin ini!!??”
Suatu sikap selektif dalam berbagi. Mungkin kita bertanya, apakah ibu itu memang sungguh-sungguh tulus berbagi? Jika memang sikap dasar kita ingin berbagi, tentu kita berbagi, di manapun dan kapanpun dibutuhkan. Jika memang karakter dasar baik, tentu di manapun kita akan berbuat baik. Kita cenderung untuk mempertahankan apa yang kita miliki dan menyimpan untuk diri sendiri. Ekonomi kan lagi sulit. Kita cenderung untuk menimbun sebanyak kekhawatiran kita akan masa depan, dan bukan menurut apa yang kita sungguh-sungguh butuhkan. Hasilnya, makanan membusuk dalam kulkas, ngengat dan kecoa berpesta pora dan pakaian-pakaian tertumpuk lapuk di lemari. “Tidak ada musibah yang lebih besar daripada keinginan yang berlebihan. Tidak ada rasa bersalah yang lebih besar daripada ketidakpuasan. Tidak ada bencana yang lebih besar dari keserakahan,” kata Lao Tzu. “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”
Dalam Injil hari ini Yesus memberi makan lebih dari 5.000 orang dengan melipatgandakan lima roti jelai dan dua ekor ikan dari seorang anak yang memberi dari kekurangan mereka. Roti jelai adalah makanan orang miskin. Persembahan yang sedikit dan sederhana tetapi dari hati yang tulus berkenan kepada Tuhan dan dari-Nya Tuhan memberi makan begitu banyak orang.
Apa yang Tuhan inginkan agar kita lakukan adalah rela dan mau berbagi, memberi dari apa yang kita miliki, terutama bagi mereka yang berkekurangan, mereka yang benar-benar elit – ekonomi sulit – mereka yang secara emosional, spiritual berkebutuhan.
Saya yakin bahwa Tuhan memang menghendaki bahwa sebagian dari kita menerima rahmat lebih dari-Nya, lebih banyak dari yang lain. Itu bisa berupa bakat-bakat, kemampuan, waktu dan kekayaan. Namun Tuhan juga ingin mengetahui, seberapa besar hati kita. Mereka yang menerima karunia Tuhan lebih dari yang lain mempunyai tanggungjawab untuk memberi kepada mereka yang berkekurangan, bukan hanya secara material tetapi juga bantuan-bantuan lain secara politis, ekonomi, kesejahteraan emosional dan rohani.
Sahabat-sahabat, sudah sering kita mendengar kisah Injil hari ini. Dan mungkin, karena sudah hafal ceritanya, kita tidak terlalu memperhatikannya lagi. Kita tidak dapat membuat mukjizat seperti Nabi Elisa dan Yesus. Tetapi kita dapat mempergunakan apa yang kita miliki untuk membantu mereka yang berkekurangan. Yang sedikit, jika kita persembahkan dengan tulus, di tangan Tuhan akan menjadi berkelimpahan.
Tuhan mengundang kita semua untuk saling membantu, berbagi apa yang kita miliki. St. Teresa dari Calcutta berkata: “Ia menggunakan kita agar cinta dan belas-kasih-Nya nyata di dunia kendati kelemahan dan keringkihan kita.” Berdoalah, agar kita berani mengambil risiko untuk memberi, bahkan yang sedikit yang kita punya.
Hari Minggu, 28 Juli 2024 juga dirayakan Hari Kakek Nenek dan Lansia IV. Perayaan ini berdekatan dengan Peringatan St. Yoakhim dan Anna. Tema Perayaan IV ini adalah “Janganlah membuang aku pada hari tuaku” (Mzm.71:9). Kardinal Kevin Farrell, Prefek Dikasteri untuk Awam, Keluarga dan Kehidupan, menjelaskan bahwa dalam pesannya Bapa Suci menekankan bagaimana – karena krisis rasa kebersamaan dan munculnya mentalitas yang semakin individualistis – kesepian para lansia sering tidak dianggap sebagai masalah. Tetapi Gereja dipanggil untuk membangun sesuatu yang berbeda, untuk menemukan kembali rasa persaudaraan, dan untuk membangun ikatan antar generasi.
“Pada Hari Kakek-Nenek dan Lanjut Usia IV ini, marilah kita tunjukkan kasih sayang kita kepada kakek-nenek dan anggota keluarga kita yang sudah lanjut usia. Marilah kita meluangkan waktu bersama mereka yang berkecil hati dan tidak lagi berharap pada kemungkinan masa depan baru. Sebagai ganti dari sikap mementingkan diri sendiri yang mengarah pada kesepian dan pengabaian, marilah kita tunjukkan hati yang terbuka dan wajah yang penuh sukacita dari orang-orang yang memiliki keberanian untuk mengatakan, “aku tidak akan meninggalkanmu.”
Saat ini banyak yang mengatakan bahwa situasi masyarakat kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak yang untuk makan sekali sehari saja mengalami kesulitan. Apa yang dapat saya perbuat? Apa yang dapat saya bagikan meski sekecil apapun? Dalam kaitannya dengan Hari Kakek Nenek dan Lansia, apa yang dapat kita berikan agar mereka tidak sendirian, tidak ditinggalkan?
Bapa, semoga kau semakin murah hati seperti Engkau murah hati. Amin.
