Remah Harian

DI MANAKAH HARTAMU?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 20 Juni 2025, Jumat Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Kor. 11:18,21b-30Mzm. 34:2-3,4-5,6-7Mat. 6:19-23.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
(Mat 6: 19 – 21)

Yesus berbicara kepada kita hari ini dengan jelas: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi… tetapi kumpulkanlah harta di surga” (Mat 6:19–20). Kata-kata ini mengajak kita untuk merenung secara mendalam: Di manakah hartamu? Di manakah hatimu?

Seringkali kita terjebak dalam pusaran kekhawatiran — tagihan, utang, pinjol, tenggat waktu, dan pengejaran tak berujung untuk memiliki “lebih banyak.” Kita hidup dengan menghitung dan menghabiskan, bekerja bukan untuk hidup, tetapi hanya untuk membayar. Namun Yesus mengingatkan kita: kita diciptakan lebih dari itu. Kita tidak diciptakan untuk mengejar barang-barang dan harta milik, tetapi untuk hidup dalam kemerdekaan dan sukacita.

Mari kita berhenti sejenak dan bertanya: Di manakah hatiku? Apakah hatiku terikat pada apa yang aku miliki? Apakah hatiku terbuka pada apa yang benar-benar penting — cinta, belas kasihan, pengampunan, keindahan, iman? Kita lihat, hati mengikuti harta. Dan jika harta kita adalah Allah, hati kita akan bercahaya.

Yesus juga berbicara tentang mata. “Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu” (ay. 22). Bagaimana saya memandang hidup? Apakah pandangan saya bersih, terbuka, dan murah hati? Atau pandangan saya kabur oleh iri hati, kecenderungan membanding-bandingkan, dan kecemasan? Mata adalah lampu tubuh — ia adalah jendela melalui mana cahaya atau kegelapan masuk. Jika kita melihat dengan jelas — dengan kerendahan hati, dengan kebenaran — maka hidup kita akan bersinar.

Janganlah kita membuang waktu mengejar apa yang berkarat dan pudar. Mari kita “mengejar hidup kekal” dengan berinvestasi pada apa yang abadi: belas kasihan, iman, pelayanan, kebaikan, dan cinta. Waktu tidak dapat dibeli kembali. Tetapi cinta membangun apa yang abadi selamanya.

Hari ini, tanyalah diri sendiri: Di manakah harta bendaku? Di manakah hatiku? Dan mintalah kepada Tuhan anugerah untuk melihat dengan jelas — untuk berjalan dalam terang, bukan ilusi.

Tuntun aku ya Tuhan untuk mencari kebahagiaan sejati dalam Dikau. Amin.

Author

Write A Comment