Remah Harian

BUKAN UNTUK BIKIN KONTEN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 19 Juni 2024, Rabu Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Raj 2:1.6-14Mzm 31:20.21.24Mat 6:1-6.16-18.

MAT 6: 1

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan hari Rabu Abu. Setiap kali kita mengawali 40 hari masa Prapaska, kita membaca dan merenungkan sabda Yesus ini.

Pada zaman Yesus, desa-desa Yahudi memiliki orang-orang yang bertugas mengumpulkan dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan: orang miskin, yatim piatu, janda, dan musafir. Itu adalah tradisi kebaikan yang indah, meskipun terkadang, orang kaya melihatnya sebagai kesempatan untuk show off, pamer.

Selama perayaan Sabat, para dermawan yang murah hati dipuji di depan umum, diberi tepuk tangan, dan duduk bersama para rabi sebagai orang-orang yang patut diteladani. Yesus menyebut orang-orang yang mencari perhatian seperti itu sebagai “orang munafik”, karena mereka menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan perbuatan baik tanpa diketahui.

Apa yang dikatakan oleh Yesus lebih dari sekadar soal beramal, berpuasa dan berdoa – yang merupakan tiga pilar kesalehan orang Yahudi. Di antara kata-kata yang diucapkan-Nya kita temukan desakan Yesus bahwa para murid-Nya harus memiliki “kebaikan dari dalam”. Kebaikan alamiah. Kebaikan yang tak dibuat-buat. Orang Papua bilang bukan baku tipu. Kebaikan yang tulus. Kebaikan yang adalah karakter kita.

Keinginan untuk show off tetap ada di tentah-tengah kita. Apalagi masyarakat kita “membiasakan” kita untuk memiliki dan melakukan kebaikan untuk konferensi pers, untuk diliput, untuk “bikin konten” dan dipajang di media sosial, kebaikan yang instagramable, kebaikan TikTok-able, untuk promosi, untuk jaga image, untuk public relations yang baik. Dengan itu, kita lebih memperhatikan apa kata orang, apa yang orang lain lihat dan dengar.

Orang yang sungguh beriman hanya memegang satu hal yang berharga di hatinya: bagaimana ia berdiri di hadapan Allah yang Mahatahu.

Bersama dengan St. Ignasius Loyola kita berdoa:

“Tuhan, ajarilah agar aku memiliki kemurahan hati sejati,
agar aku melayani Engkau sepantasnya,
agar aku memberi tanpa menghitung biaya,
agar aku berjuang tanpa memperhatikan luka,
agar aku bekerja tanpa mencari istirahat,
agar aku mengorbankan diri tanpa memikirkan imbalan,
asalkan aku tahu bahwa aku melakukan kehendak-Mu.
Amin.”

Author

Write A Comment