Sabda Hidup
Sabtu, 26 Oktober 2024, Sabtu Pekan Biasa XXIX
Bacaan: Ef 4:7-16; Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5; Luk 13:1-9.
Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” [Luk 13: 8 – 9]
Di kebun, kompleks tempat saya tinggal, terdapat cukup banyak pohon jeruk. Ada tiga macam pohon jeruk di sana. Beberapa menghasilkan banyak buah yang manis mada musimnya. Tentu kami sangat senang dengan itu. Tetapi ada dua pohon jeruk yang hanya menghasilkan sedikit buah dan buah yang dihasilkannya sangat asam. Sebenarnya saya ingin menebang kedua pohon tersebut, tetapi ada yang mengatakan untuk tidak menebangnya. Memang, buah yang dihasilkannya tidak akan berubah menjadi jeruk yang manis, tetapi masih ada gunanya. Tak jarang anak-anak dari perumahan sekitar datang memetik buah-buahnya. Juga beberapa ibu-ibu biasa minta jeruk itu untuk mencuci ikan sebelum mereka memasak ikan tersebut. Pohon jeruk itu tidak dapat berubah menghasilkan buah yang manis, tetapi toh masih memberi manfaat.
Dalam kehidupan, kita jumpai begitu banyak orang yang sebenarnya memiliki kapasitas untuk melakukan banyak hal baik, namun tidak melakukannya. Ada begitu banyak orang yang punya banyak kemampuan, tingkat pendidikan dan pengetahuan yang luas dan mendalam sehingga mereka dapat membagikan bakat dan keterampilan mereka untuk kepentingan orang lain, tetapi mereka tidak melakukannya. Ada juga banyak orang yang karena mempunyai kelebihan harta benda memiliki kemampuan untuk meringankan beban banyak orang lain yang kurang beruntung, tetapi mereka tidak melakukannya. Pohon jeruk asam tadi mungkin masih lebih baik. Walaupun menghasilkan buah asam, masih memberi manfaat.
Kita mempunyai kecenderungan untuk membuat pemisahan terlalu sederhana antara “orang baik” dan “orang tidak baik”. Baik orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus maupun delapan belas orang yang remuk tertimpa menara di Siloam tidak ada yang lebih buruk atau lebih berdosa daripada orang lain. Tidak ada seorang pun dari kita yang benar-benar jahat atau benar-benar baik; kita semua adalah “abu-abu”, dengan berbagai tingkat kebaikan dan kejahatan dalam diri kita.
Memang lebih mudah kita melabeli orang lain, orang dengan kategori-kategori tertentu. Namun, Yesus mengundang kita untuk mengenakan kacamata Injil dan melihat potensi positif dalam diri orang-orang yang mungkin saat ini kurang produktif atau kontraproduktif – seperti tukang kebun dalam perumpamaan yang secara positif melihat potensi pohon ara yang saat ini tidak produktif dan bersedia mengambil risiko untuk memberinya kesempatan lain dan bekerja untuk membantu pohon itu mewujudkan potensinya.
Bagi kita sendiri pun, setiap hari, setiap saat adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk berbuah. Janganlah menyerah pada keadaan. Tanah kehidupan masih bisa dicangkul, dipupuk, diolah. Hati yang kering bisa dibasahi embun kasih Allah. Dosa bisa diampuni, kesalahan bisa diperbaiki, hidup selalu bisa dibaharui.
Allah memiliki alasan yang lebih besar untuk belas kasih dan pengertian-Nya yang penuh kesabaran. Mari bertobat, berubah, dan berbuah!
Tuhan, bantulah aku untuk mengubah hidupku agar hidupku berbuah bagi-Mu dan orang-orang di sekitarku. Amin.
