Remah Mingguan

BERSABAR DAN PERCAYA KEPADA TUHAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 16 Juni 2024, Minggu Biasa XI Tahun B
Bacaan: Yeh. 17:22-24Mzm. 92:2-3,13-14,15-162 Kor. 5:6-10Mrk. 4:26-34.

MRK 4: 31 – 32

* * *

Seorang muda bermimpi bahwa ia sedang berjalan masuk ke sebuah toko. Para pelayan dalam toko tersebut adalah para malaikat. Maka ia bertanya kepada salah seorang malaikat itu, “Apa yang dijual di toko ini?” Malaikat itu menjawab: “Apa saja. Anda tinggal mengatakan apa yang ingin anda beli.

Maka orang muda itu mulai mengatakan apa yang ingin dia beli, “Baiklah, saya ingin membeli berikut ini: pemerintahan yang bebas korupsi, akhir dari segala macam peperangan di dunia ini, kemakmuran bagi negara-negara yang terpinggirkan, perumahan bagi semua gelandangan, rejeki bagi para pengemis, eee…. “

Sebelum orang muda itu melanjutkan, malaikat itu memotong: “Maaf orang muda, anda tidak mengerti apa yang saya maksud. Kami tidak menjual buah-buah dan produk yang sudah jadi. Kami hanya menjual benih-benihnya.

Saya ajak anda semua merenungkan 3 hal berikut ini:

Pertama, Kerajaan Allah bukanlah produk yang sudah jadi. Allah telah menaburnya dalam diri kita masing-masing. Ia mulai dari benih yang kecil, seringkali tersembunyi, bahkan melalui proses yang menyakitkan – seperti biji sesawi yang harus ditanam dalam tanah. Namun janganlah putus harapan karena kekecilannya, atau karena proses yang menyakitkan, melalui “kematian”, kegagalan, dan proses yang menyakitkan itu Kerajaan Allah bertumbuh. Barangkali kita tidak melihat atau menikmati hasilnya saat ini, tetapi kita boleh bersyukur dan berbangga bahwa kita sudah mengambil peran dalam menumbuhkannya.

Kedua, nilai-nilai Kerajaan Allah itu menghasilkan perubahan dalam diri kita oleh Karya Roh. Pada gilirannya, kita juga harus menjadi agen perubahan. Kita harus menjadi benih Kerajaan Allah bagi dunia. Seperti biji sesawi itu adalah yang terkecil kita tak perlu khawatir dengan “kekecilan” kita. Yesus memanggil murid-murid-Nya sebagai “kawanan kecil” (Luk 12: 32). Ia juga menyebut kita, murid-murid-Nya sebagai garam dunia (Mat 5: 13). Ia juga memberi makan lima ribu orang dari sejumlah kecil roti (Mat 14: 13 – 21; Mrk 6: 30 – 43; Luk 9: 10 – 17; Yoh 6: 1 – 15).

Oleh sebab itu, kita sebagai kawanan kecil, minoritas, tak perlu berkecil hati. Ibu Theresa tidak mengurus seluruh orang miskin di India. Ia mulai dari Mojtihil di Calcutta tetapi efeknya mendunia. Ada banyak orang-orang di sekitar kita yang membawa perubahan melalui hal-hal kecil. Kita ini kecil, tapi mesti kecil-kecil cabe rawitkecil tapi “menggigit”. Untuk itu diperlukan kegigihan, ketekunan dan kesungguhan menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah.

Ketiga, dalam Kerajaan Allah, apa yang kecil dapat menjadi sangat signifikan. Bahkan perbuatan baik yang sangat kecil pun dapat mempunyai dampak jauh melebihi yang kita bayangkan. Inisiatif-inisiatif kecil dalam melayani Tuhan dapat membuka jalan untuk Tuhan berkarya dan menyempurnakannya. Kita dapat tergoda untuk berpikir bahwa untuk mendapatkan dampak yang besar, kita harus membuat sesuatu yang besar, spektakuler, dan mengesankan mata dunia. Perumpamaan kita hari ini menunjukkan bahwa tindakan-tindakan kecil, inisiatif-inisiatif kecil, bahkan yang sering kurang diperhatikan atau tidak nampak di mata dunia, dapat menjadi benih Kerajaan Allah.

Little things are indeed little, but to be faithful in little things is a great thing. Hal-hal kecil memang kecil, tetapi untuk setia dalam hal-hal kecil adalah hal yang luar biasa,” kata Ibu Theresa dari Calcutta.

Tidak semua orang dapat melakukan hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

Mari tetap tekun, bersabar dan berpengharapan. Dengan rendah hati terbuka terhadap karya Roh yang menumbuhkan benih Kerajaan Allah dalam diri kita masing-masing. Tekun mengusahakan pertumbuhan benih Kerajaan Allah. Kontribusi kita walau kecil akan membuka jalan bagi karya Tuhan. Tetap teguh dan berpengharapan dalam mempersembahkan diri demi semi, mekar dan berkembangnya benih-benih Kerajaan Allah.

Tuhan,  ajarlah kami bersabar ketika kami mencoba untuk memaksakan kebenaran, keadilan dan damai-Mu kepada Gereja dan dunia yang belum siap untuk menerimanya. Di dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan kami, kiranya kami belajar untuk menerima bahwa semua pertumbuhan sejati berasal dari-Mu. Kami hanya dapat menanam benih, dan Engkaulah yang membuatnya mekar menjadi sebuah pohon yang besar yang memungkinkan kami untuk memberikan naungan kepada semua orang. Amin.

Author

Write A Comment