Remah Harian

BERDOA DENGAN GIGIH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 10 Oktober 2024, Kamis Pekan Biasa XXVII
Bacaan: Gal 3:1-5; MT Luk 1:69-70.71-72.73-75Luk 11:5-13.

Perumpamaan dalam Injil hari ini sering ditafsirkan sebagai sikap bertekun atau gigih dalam doa. Perumpamaan tentang seorang sahabat yang meminta bantuan di tengah malam dapat juga dimengerti sebagai suatu jaminan bahwa doa kita selalu dijawab. Perumpamaan itu juga menjadi dorongan untuk berdoa. St Alfonsus Liguori juga pernah memberikan jaminan bahwa Allah, begitu mendengar doa kita, tergerak hati-Nya oleh belas kasih. Hal itu dikatakan oleh nabi Yesaya: “Engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab,” (Yes 30: 19).

Namun, terkadang Allah menunda untuk mengabulkan doa kita, atau bahkan “tidak mengabulkannya” sama sekali. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika Ia menunda, itu karena Ia mengasihi kita dan ingin menguji kepercayaan kita pada-Nya; atau apa yang kita inginkan sebenarnya bukan yang kita butuhkan. Atau, Ia ingin mengabulkan permohonan kita atas cara yang jauh melampaui harapan kita.

Anda tentu mengenal Santa Monika. Ia terus menerus berdoa untuk pertobatan puteranya, Agustinus. Doanya tidak serta merta dikabulkan dan Tuhan memberikan jauh melebihi yang ia harapkan. Hanya sesudah 33 tahun lamanya ia berdoa dengan bercucuran air mata, Allah menjawabnya. Allah menghendaki lebih dari sekedar pertobatan, Ia menghendaki Agustinus menjadi seorang imam, dan kemudian menjadi seorang uskup, bahkan menjadi seorang pujangga Gereja, seorang santo yang besar…. Untuk itu Allah memerlukan doa bukan hanya seminggu dua minggu tapi bertahun-tahun.

Ketika kita bertekun dalam doa, itu tidak berarti bahwa Allah perlu diingatkan akan kebutuhan kita; doa dengan tekun tidak berarti bahwa kita dapat mengubah rencana Allah. Namun, dengan bertekun dalam doa kita menjadi lebih arif memahami rencana-Nya dan bertumbuh dalam kepercayaan kita sebagai anak-anak Allah. Dengan itu kita akan mampu melihat bahwa apa saja yang datang dari tangan-Nya adalah untuk kebaikan kita.

Bagaimanakah dengan anda? Apakah anda cepat menyerah dan berpikir bahwa Allah tidak mendengarkan doa anda? Atau anda terbuka terhadap apa saja yang Allah kehendaki, terhadap segala rencana-Nya melalui doa-doa kita yang kita lakukan dengan tekun?

Tuhan, aku berpaling kepada-Mu dalam doa yang sungguh-sungguh. Kubuka hatiku dan memohon agar Engkau menolongku: untuk memuji Engkau, memohon kepada-Mu, berterima kasih kepada-Mu, dan terutama belajar untuk mendengarkan-Mu. Amin.

Author

Write A Comment