Sabda Hidup
Minggu, 1 Juni 2025, Minggu Paskah VII, Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-59
Bacaan: Kis. 7:55-60; Mzm. 97:1,2b,6,7c,9; Why. 22:12-14,16-17,20; Yoh. 17:20-26.
“Aku berdoa, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
[Yoh 17: 20 – 21]
Sidik jari telah lama diakui sebagai bentuk identifikasi pribadi. Sejak masa pemerintahan Raja Babilonia Hammurabi (1792-1750 SM), narapidana telah diambil sidik jarinya. Di Tiongkok sejak tahun 246 SM, sidik jari digunakan untuk “menandatangani” kontrak hukum. Pada tahun 1788, seorang ahli anatomi Jerman, Johann Christoph Andreas Mayer, menerbitkan sebuah temuan yang membuktikan bahwa sidik jari unik bagi setiap individu. Ide ini menyebar dengan cepat sehingga pada pertengahan abad ke-19, bank data sidik jari mulai dikumpulkan di seluruh dunia untuk tujuan identifikasi. Kini, seperti yang kita ketahui, mikroprosesor bekerja dengan kecepatan tinggi untuk memproses jutaan sidik jari guna menangkap penjahat atau membebaskan orang yang tidak bersalah.
Ilmu pengetahuan telah mengungkapkan cara lain di mana kita unik dan berbeda. DNA kita adalah milik kita masing-masing. Setiap sel tubuh kita secara genetik dikodekan khusus untuk kita. Allah menciptakan kita dengan cara yang sepenuhnya berbeda satu sama lain. Namun, saat Yesus mengucapkan doa pribadi-Nya, “Doa Imam Agung,” seperti yang dikutip sebagian dalam Bacaan Injil hari ini, Ia menutupnya dengan berdoa untuk “kesatuan” di antara semua yang mengikuti-Nya sebagai murid. Apakah ini berarti Yesus berdoa agar kita semua menjadi sama? Apakah ini panggilan untuk “Kristen kloning”? Iman franchise? Hidup seperti lemming (kawanan tikus kutub yang dikenal karena melakukan “bunuh diri” massal atas cara konyol)? Misi yang monoton?
Apakah setiap pengikut Yesus diharapkan untuk menjaga kecepatan yang sama, langkah yang sama, dan ritme yang sama? Yesus berdoa untuk pelbagai generasi orang-orang beriman. “Kesatuan” yang Yesus doakan adalah kesatuan hati dan kesatuan cinta. Kesatuan bagi Yesus adalah tanda kasih hati yang telah mengalami kesatuan kasih Ilahi – kesatuan Bapa, Putera, dan Roh Kudus yang dituangkan ke dalam hati setiap murid. Sebagai orang-orang Kristen, DNA kita sama: kita semua adalah bagian dari Tubuh Kristus!
Yesus berdoa untuk kesatuan hubungan pribadi. Kesatuan adalah tema utama doa Yesus bagi Gereja universal. Tiga kali Ia berdoa agar semua pengikut-Nya menjadi satu seperti Ia dan Bapa adalah satu, memohon kesatuan Gereja. Perhatikan tingkatan intensitas kesatuan yang diminta oleh Yesus: pada ayat 21 Ia berdoa, “agar mereka semua menjadi satu”; pada ayat 22, “agar mereka menjadi satu seperti Kita adalah Satu”; dan pada ayat 23, “agar mereka menjadi satu secara sempurna.”
Permohonan Kristus tidak berkaitan dengan kesatuan organisasional atau institusional di antara 34.000 denominasi Kristen yang ada sekarang. Yesus ingin Gereja menjadi satu dalam arti yang sama seperti kesatuan antara Yesus dan Bapa. Jelas sekali, kesatuan antara Yesus dan Bapa adalah kesatuan dalam Keberadaan, yang diungkapkan sebagai kesatuan tujuan dan kasih yang sempurna. Tentu Yesus berpikir bahwa kita tidak dapat memiliki kesatuan dengan orang lain kecuali kita terlebih dahulu memiliki kesatuan di antara kita sebagai murid-murid-Nya, dan bahkan lebih mendasar lagi, bahwa kita tidak dapat memiliki kesatuan ini kecuali kita memiliki kesatuan dengan Allah Bapa kita dalam Kristus oleh Roh-Nya. Ini berarti Yesus berdoa untuk kesatuan kasih di antara orang Kristen, kesatuan yang sepenuhnya didasarkan pada kesatuan kita dengan-Nya, hidup dalam Hidup-Nya, dan hubungan dari hati ke hati – Allah dengan kita dan kita dengan satu sama lain. Yesus menginginkan kesatuan umat Kristen melampaui semua perbedaan denominasi saat ini dan mempersatukan pengikut-Nya dalam kasih.
Gereja harus bersatu dalam Roh dengan anggotanya, bersatu dalam kasih dan kekudusan. Selain perbedaan teologis dan doktrinal yang nyata, penyebab utama perpecahan umat Kristen saat ini adalah bahwa pengikut Yesus lebih mencintai organisasi gerejawi, kredo, dan ritual mereka daripada mencintai Kristus. Hanya kasih Kristen yang sejati, yang ditanamkan oleh Allah dalam hati orang Kristen, yang dapat mendamaikan perbedaan-perbedaan ini dan meruntuhkan tembok-tembok yang selama berabad-abad telah dibangun di antara denominasi-denominasi yang ada. Menurut Kitab Suci, rancangan Allah bagi umat manusia adalah agar kita menyadari bahwa kita semua adalah anak-anak Allah dan saudara satu sama lain. Hal ini berarti kita hidup sesuai dengan wawasan ilahi ini—yaitu hidup dalam damai, harmoni, dan kesatuan. Kesatuan rohani yang sejati ini hanya mungkin terwujud melalui karya Roh Kudus.
Persatuan di antara umat Kristen sangat diperlukan untuk meyakinkan dunia akan kebenaran Kristiani. Persatuan sejati di antara umat Kristen akan memiliki nilai kesaksian yang kuat. Yesus sebenarnya menjadikan persatuan ini sebagai salah satu tanda paling penting dari misinya. Di hadapan keterpecahan umat Kristen, dunia tidak dapat melihat nilai tertinggi dari iman Kristen. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk menunjukkan persatuan kasih dengan semua saudara seiman kita, terlepas dari denominasi mereka dan meskipun ada perbedaan doktrinal. Kemuliaan Allah harus terlihat bukan dalam bangunan megah atau struktur kekuasaan, tetapi dalam kasih yang mempersatukan pengikut Yesus di antara mereka sendiri dan dengan Allah.
Doa Yesus tentang kasih dan persatuan ini menginspirasi Paus Santo Yohanes XXIII untuk memanggil Konsili guna membantu menghilangkan perpecahan di antara pengikut Yesus pada masa kini. Dalam ensikliknya tentang ekumenisme, Ut Unum Sint (1995), Paus Santo Yohanes Paulus II mengutip Yoh. 17:21-22 setidaknya lima kali, menekankan bahwa persatuan “yang telah diberikan Tuhan kepada Gereja-Nya dan di mana Ia ingin memeluk semua orang…berada dalam inti misi Kristus” (No. 9), dan ia mendesak doa bersama untuk mengatasi “kenyataan yang menyakitkan” dari perpecahan umat Kristen (No. 22). Dalam ensiklik yang sama, Paus Santo Yohanes Paulus II juga memberikan tiga alasan untuk kesatuan Kristen – pertama, semua orang Kristen harus taat pada doa Kristus agar “semua menjadi satu”; kedua, penting untuk menghormati panggilan Konsili Vatikan II, dan ketiga, pewartaan Injil yang efektif di dunia bergantung pada kesaksian yang bersatu dari orang-orang Kristen, karena perpecahan di antara orang-orang beriman Kristen merusak kredibilitas kita. Paus juga memperingatkan tentang bahaya kompromi demi persatuan, karena “kompromi bertentangan dengan Allah yang adalah Kebenaran [70.1].”
Maka, kita perlu berdoa untuk persatuan dan saling melayani dalam persatuan. Kita harus berdoa untuk persatuan dan mendiskusikan kesamaan yang kita miliki dengan orang lain serta perbedaan kita. Sejalan dengan doa itu, kita harus mengimplementasikan kata-kata kita menjadi tindakan. Ini berarti kita harus melayani satu sama lain dan mencintai satu sama lain sebagai saudara dan saudari dalam Tuhan. Walter, Kardinal Kasper, Presiden Dewan Kepausan untuk Promosi Persatuan Umat Kristen, menulis: “Banyak hal telah dicapai dalam beberapa dekade terakhir. Umat Kristen yang terpisah tidak lagi menganggap satu sama lain sebagai orang asing, pesaing, atau bahkan musuh, tetapi sebagai saudara dan saudari. Mereka telah menghilangkan sebagian besar ketidakpahaman, kesalahpahaman, prasangka, dan ketidakpedulian yang dulu ada; mereka berdoa bersama, mereka bersaksi bersama tentang iman mereka yang sama; di banyak bidang mereka bekerja bersama dengan penuh kepercayaan. Mereka telah mengalami bahwa ‘apa yang mempersatukan kita lebih besar daripada apa yang memisahkan kita.’
Perubahan semacam itu hampir tidak terbayangkan setengah abad yang lalu; menginginkan kembali ke masa itu berarti ditinggalkan tidak hanya oleh semua roh baik tetapi juga oleh Roh Kudus.” Dalam gerakan ekumenis, pertanyaannya adalah menghantar semua orang kepada Yesus Kristus. Semakin kita mendekati Yesus Kristus, dalam-Nya kita semakin mendekati satu sama lain. Persatuan semacam itu pada akhirnya adalah anugerah Roh Allah dan bimbingan-Nya.
Inti dari gerakan ekumenis, pada dasarnya, adalah gerakan spiritual. Hanya melalui pembaruan spiritual, melalui doa bersama dan mendengarkan bersama Firman Allah, kita dapat berharap untuk mengatasi kebuntuan dan kesulitan ekumenis yang ada saat ini.
“Seiring dengan semakin dekatnya umat Kristen yang terpecah belah dan secara jujur berusaha menyembuhkan luka-luka yang telah mereka timbulkan satu sama lain selama berabad-abad, mereka memberikan kesaksian tentang iman kepada Kristus sebagai sumber damai…. Dalam konteks dunia yang dilanda perang ini, perjalanan kita yang berkelanjutan dalam penyembuhan dan memperdalam persaudaraan memiliki peran yang sangat penting, karena semakin bersatu umat Kristen, semakin efektif pula kesaksian kita bagi Kristus, Raja Damai, dalam membangun peradaban yang didasarkan pada perjumpaan yang penuh kasih.” – Paus Leo XIV dalam pesannya yang disampaikan kepada peserta Mennonite World Conference (MWC), 29 Mei 2025.
Akhirnya, untuk membangun kesatuan diperlukan komunikasi yang baik. Hari ini kita rayakan juga Hari Minggu Komunikasi Sosial ke-59. Dalam pesan untuk Hari Minggu Komunikasi Sosial ke-59 Paus Fransiskus berkata: “Saya memimpikan sebuah komunikasi yang membuat kita mampu menjadi sahabat seperjalanan bagi begitu banyak saudara-saudari kita, untuk menyalakan kembali harapan dalam diri mereka pada masa penuh pergulatan ini. Sebuah komunikasi yang mampu berbicara ke dalam hati, tidak membangkitkan reaksi defensif dan kemarahan yang menggebu-gebu, tetapi sikap terbuka dan bersahabat. Sebuah komunikasi yang mampu fokus pada keindahan dan harapan bahkan di tengah situasi yang tampaknya membuat kita putus asa. Komunikasi yang menghasilkan komitmen, empati, dan kepedulian pada orang lain. Sebuah komunikasi yang membantu kita dalam “mengakui martabat setiap manusia, dan bekerja sama merawat rumah kita bersama (Dilexit Nos, 217). Saya memimpikan sebuah komunikasi yang tidak menjajakan ilusi atau ketakutan, tetapi mampu memberikan alasan untuk berharap.”
Ya Bapa, semoga dengan tekun kami mengusahakan kesatuan, menghidupi rancangan-Mu bagi umat bagi kami, bahwa kita semua adalah anak-anak-Mu dan saudara satu sama lain.
