Sabda Hidup
Selasa 30 Juli 2024, Selasa Pekan Biasa XVII
Bacaan: Yer. 14:17-22; Mzm 79:8,9,11,13; Mat. 13:36-43.
Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” [Mat 13: 37 – 42]
Penginjil sedang menerangkan sebuah penerapan dari perumpamaan-perumpamaan Yesus. Yesus sudah kembali ke rumah bersama murid-murid-Nya. Penjelasannya tidak diberikan kepada orang banyak, tetapi kepada kelompok kecil murid-muridnya.
Ketika adegan berpindah dari perumpamaan asli tentang benih dan lalang ke penjelasannya, ada perbedaan pada fokusnya. Ketika Yesus mengatakan perumpamaan tersebut, benih dipahami sebagai nilai-nilai Kerajaan Allah dan rumput liar adalah nilai-nilai dunia – si jahat. Namun dalam penjelasannya, benih dan rumput liar digambarkan sebagai orang yang baik dan jahat. Pada hari penghakiman – akhir zaman, kata Matius – orang jahat akan dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Matius melanjutkan dengan menjelaskan kengerian yang menanti para pelaku kejahatan – akan ada ratapan dan kertakan gigi.
Penjelasan ini adalah pemahaman orang-orang Kristen purba – sebuah katekese yang ditujukan kepada komunitas Matius pada akhir abad pertama. Mungkin, setelah beberapa dekade pertama mengikuti ajaran Yesus dengan penuh semangat, orang-orang Kristen mulai sedikit lebih santai dan tidak menganggap serius iman mereka. Penginjil berusaha untuk “mengguncang” mereka, dengan menggunakan bahasa pengkhotbah pada masanya.
Untuk membuat dirinya dimengerti oleh para pendengarnya yang beragama Yahudi, ia menggunakan gaya bahasa para rabi Yahudi dan menggunakan gambaran-gambaran yang sangat dimengerti oleh bangsanya, seperti api, perapian yang menyala-nyala, tangisan, kertak gigi, tuaian, malaikat, dan iblis.
Satu hal yang pasti: barangsiapa melakukan kejahatan, akan menghancurkan hidupnya. Tetapi penghakiman dan hukuman di dalam dapur api itu bukanlah pekerjaan Allah. Paulus mengajarkan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa “yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan” (1Tim. 2:4). Injil Yohanes membuat pernyataan yang mutlak: “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh. 3:17).
Lalu bagaimana dengan api? Satu-satunya api yang Allah miliki adalah Roh-Nya, yang turun ke atas para murid pada hari Pentakosta (Kis. 2:3). Tuhan yang Bangkit telah menyerahkan api Roh-Nya sebagai kekuatan yang menghancurkan dosa (Yoh. 20:22-23). Ingatlah kata-kata Yesus: “Aku datang untuk membawa api ke atas bumi dan Aku ingin agar api itu menyala” (Luk. 12:49). Api yang tidak dapat dibendung itulah yang akan membakar semua sisa-sisa ilalang di dalam hati setiap orang, dan hanya menyisakan benih yang baik di dalam diri setiap orang. Api Tuhan, Roh Kudus suatu hari nanti akan memusnahkan segala bentuk kejahatan.
Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia, semoga kami semakin serupa dengan-Mu. Amin.
