Remah Harian

APAKAH TUHAN MENGHUKUM KITA?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 23 Maret 2025, Minggu Prapaskah III Tahun C
Bacaan: Kel. 3:1-8a,13-15Mzm. 103:1-2,3-4,6-7,8,111Kor. 10:1-6,10-12Luk. 13:1-9.

“Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa.”

(Luk 13: 3. 5)

Hari ini kita rayakan Minggu Prapaskah III. Masa prapaskah terdiri dari 5 minggu sebelum memasuki Pekan Suci. Maka sekarang ini kita sudah berada di tengah-tengah Masa Prapaskah. Tentu kita masih ingat akan pesan pokok yang kita terima saat kita mengawali masa prapaskah pada Hari Rabu Abu yang lalu, yakni “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Di tengah perjalanan Prapaskah ini, Injil mengundang kita untuk merenungkan bagaimana kita memandang penderitaan dan peran Tuhan di dalamnya. Dalam Lukas 13, Yesus berbicara tentang kematian tragis orang-orang Galilea “yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan,” dan orang-orang yang tertimpa menara yang runtuh dekat Siloam. Orang-orang bertanya-tanya apakah tragedi-tragedi tersebut merupakan hukuman ilahi, sebuah pertanyaan yang terus bergema selama berabad-abad. Ketika dihadapkan pada penderitaan, kita juga mungkin bertanya: Apakah Tuhan sedang menghukum kita? Mengapa Dia mengizinkan penderitaan seperti itu?

Yesus dengan tegas menolak gagasan tentang Allah yang pendendam. Kejahatan dan penderitaan tidak datang dari Allah, karena Dia adalah Bapa yang penuh belas kasihan yang selalu mencari kebaikan kita. Pemazmur mengingatkan kita, “Ia tidak membalaskan kepada kita sesuai dengan dosa-dosa kita” (Mazmur 103:10), sebab “Pada Tuhan ada kasih setia dan penebusan berlimpah.” Musuh yang sebenarnya adalah dosa – keegoisan dan pilihan-pilihan yang salah yang merusak hubungan kita dan dunia di sekitar kita. Masa Prapaskah mengajak kita untuk berbalik dari dosa dan merangkul logika Injil, di mana kasih dan persaudaraan menang atas kejahatan.

Namun, pertobatan tidaklah mudah. Kita mungkin menjadi kecil hati karena kegagalan kita yang berulang-ulang. Untuk menyemangati kita, Yesus memberikan perumpamaan tentang pohon ara yang mandul. Meskipun pohon itu tidak menghasilkan buah, pemiliknya tidak menebang pohon itu, tetapi memberinya lebih banyak waktu untuk berkembang. Perumpamaan ini mengungkapkan kesabaran Allah yang tak terbatas. Dia adalah Allah yang memberi kesempatan kedua, selalu menawarkan kita kesempatan lain untuk kembali kepada-Nya.

Allah percaya kepada kita, berjalan di samping kita, dan memelihara pertumbuhan kita dengan belas kasihan dan kelembutan. Pandangan-Nya tidak tertuju pada kesalahan kita di masa lalu, tetapi pada buah-buah yang masih dapat kita hasilkan.

Di masa Prapaskah ini, marilah kita merangkul kesabaran Tuhan, memohon pengampunan-Nya, dan percaya pada rencana-Nya yang penuh kasih. Semoga Santa Perawan Maria menemani kita dalam perjalanan ini, memenuhi kita dengan harapan dan keberanian saat kita berjuang untuk pertobatan sejati.

* * *

Seorang nenek tua di desa diceritakan kerap memperoleh penampakan dari Tuhan. Imam setempat minta bukti kesungguhannya. Dia berkata kepada nenek itu, “Kalau Tuhan nanti menampakkan diri lagi padanya, tanyakanlah pada-Nya dosa-dosaku, yang hanya diketahui oleh Dia. Itu akan menjadi bukti cukup.”

Satu bulan kemudian nenek itu datang dan imam bertanya, apakah Tuhan sudah menampakkan diri lagi. “Sudah,” jawab nenek itu. “Lalu, apakah pertanyaan saya sudah nenek sampaikan kepada-Nya?”

“Ya, sudah.”
“Dan apa jawabannya?”
“Ia berkata: “Katakan pada imammu, Aku sudah lupa dosanya.”

* * *

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mzm 51: 11)

Author

Write A Comment