Sabda Hidup
Minggu, 27 Oktober 2024, Minggu Biasa XXX Tahun B
Bacaan: Yer. 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Ibr. 5:1-6; Mrk. 10:46-52.
Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” [Mrk 10: 51].
Tema utama dari bacaan hari ini adalah belas kasih dan kebaikan yang melimpah dari Allah yang pengasih dan pengampun bagi umat-Nya. BACAAN PERTAMA menceritakan bagaimana Allah yang pengampun dan penuh belas kasih menyembuhkan kebutaan rohani Umat Pilihan-Nya dengan menundukkan mereka dalam pembuangan di Babel, dan kemudian membebaskan mereka, membawa mereka kembali ke tanah air mereka. Perjalanan ini menjadi pertanda perjalanan Yesus ke Yerusalem yang disertai oleh orang-orang lumpuh dan buta. Kesembuhan Bartimeus yang buta, menggenapi nubuat sukacita Yeremia akan kembalinya orang-orang Yahudi yang diasingkan dari pembuangan di Babel ke tanah air mereka. Mazmur Tanggapan hari ini (Mzm. 126) menegaskan karya Tuhan yang telah memulihkan umat-Nya. “Ia telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” BACAAN KEDUA, yang diambil dari surat Ibrani, menampilkan Yesus sebagai korban yang sempurna untuk dosa dan sebagai Imam Besar yang agung. Mengidentifikasi Yesus sebagai Imam Besar yang sejati dalam Perjanjian Baru, bacaan ini juga memberi kita kepastian bahwa, sebagai Imam Besar, Yesus berbela-rasa dengan kita karena Dia memiliki sifat kemanusiaan yang sama dengan kita. INJIL hari ini menjelaskan bagaimana Yesus menunjukkan belas kasih dan cinta Bapa Surgawi-Nya dengan menyembuhkan Bartimeus, seorang yang buta. Sama seperti orang buta dan orang lumpuh yang menjadi perhatian Tuhan dalam bacaan pertama, Yesus juga memperhatikan pengemis buta, Bartimeus dari Yerikho. Ketika mendengar bahwa Yesus dari Nazaret sedang lewat, Bartimeus dengan lantang menyatakan kepercayaannya kepada kuasa penyembuhan Yesus dengan berteriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Ketika Yesus mengundangnya untuk mendekat, Bartimeus menanggalkan jubahnya, mengisyaratkan bahwa ia telah melepaskan diri dari dirinya yang lama. Pertemuan Bartimeus dengan Yesus memberinya karunia penglihatan rohani dan jasmani, dan ia pun mengikuti Yesus.
Bacaan Pertama, yang diambil dari kitab Yeremia (Yer. 31:7-9), bercerita tentang sejumlah kecil “sisa-sisa Israel ”, yang selamat dari pembuangan Asyur pada tahun 721 SM (yang kemudian digabungkan dengan pembuangan ke Babel). Yeremia menyemangati orang-orang Yahudi yang diasingkan dengan janji Allah akan kepulangan mereka yang mengingatkan kita akan sukacita dan kemenangan saat nenek moyang mereka pulang dari perbudakan di Mesir ke tanah perjanjian. Nubuat Yeremia menggambarkan kembalinya para tawanan Babel yang akan dibawa dalam perjalanan pulang yang penuh sukacita ke Yerusalem. Ayat ini menubuatkan janji Allah untuk memberikan kehidupan kepada umat-Nya dalam segala kepenuhannya. Melalui pembuangan dan penderitaan mereka, umat telah belajar untuk merendahkan diri dan berbalik kepada Tuhan dengan pertobatan yang tulus. Orang-orang yang kembali ke tanah terjanji tidak hanya terdiri dari mereka yang sehat, tetapi juga mereka yang buta, lumpuh, dan lemah. Orang-orang Yahudi yang semula buta secara rohani, melalui penderitaan, akan menerima penglihatan rohani, dan mereka akan mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Allah dengan menyanyikan kemuliaan-Nya dalam perjalanan kembali ke kota mereka. Janji perjalanan yang dinubuatkan ini akan digenapi dalam perjalanan Yesus ke Yerusalem dengan disertai oleh orang-orang lumpuh dan buta, yang dicatat dalam Injil hari ini. “Dengan menyampaikan firman kesembuhan dan keselamatan (‘imanmu telah menyelamatkan engkau’, Mrk. 10:52), kepada orang-orang miskin, sakit dan berkekurangan, Yesus merealisasikan penglihatan Yeremia. Selain itu, apa yang dijanjikan sang nabi mengenai kembalinya orang-orang buangan ke Yehuda akan dikalahkan oleh kembalinya semua orang kepada Allah, sebuah kepulangan yang akan dicapai oleh Yesus melalui kuasa salib-Nya yang menyelamatkan dan menyembuhkan.” Injil menyoroti tindakan Bartimeus yang berseru memohon kesembuhan dari hati Yesus. Injil juga menyoroti pengemis yang baru saja mendapatkan kembali penglihatannya itu mengikuti Yesus sebagai murid yang bersaksi. Bacaan pertama, di sisi lain, mengarahkan perhatian kita pada tindakan belas kasih Allah yang “membebaskan umat-Nya… membawa mereka kembali… mengumpulkan mereka… menghibur mereka… menuntun mereka… memimpin mereka.”
Bacaan kedua, Surat kepada orang Ibrani (Ibr. 5:1-6), menggambarkan Yesus sebagai Imam Besar dari Perjanjian yang baru. Bacaan ini menyamakan Yesus dengan kelas imam-imam kuno, (yang penuh simpati dan kesabaran, tidak memuliakan diri sendiri), kemudian membedakan Yesus dari yang lain (karena Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya). Orang-orang yang dituju dalam surat ini telah diusir dari rumah-rumah ibadat ketika mereka menerima Yesus. Beberapa bahkan meninggalkan Kristus untuk kembali kepada Yudaisme. Oleh karena itu, penulis surat Ibrani mencoba menghibur mereka dengan menggambarkan Yesus sebagai pengganti yang lebih unggul bagi para imam yang sebelumnya mereka andalkan, karena Yesus telah ditunjuk oleh Allah untuk misi mesianis untuk melayani umat sebagai perantara antara Allah dan manusia. Lebih jauh lagi, sebagai manusia-Allah, Yesus memiliki empati dan kesabaran yang mendalam terhadap “orang-orang berdosa yang berbuat salah”. Imam Besar Yahudi adalah orang berdosa seperti orang lain, dan perannya adalah mempersembahkan korban kepada Allah pertama-tama untuk dirinya sendiri, dan baru kemudian untuk orang-orang sebagai wakil mereka. Tetapi Yesus, yang tidak berdosa, mempersembahkan diri-Nya sebagai korban untuk semua dosa, dan akan terus bertindak sebagai pengantara kita di “takhta kasih karunia ”, sampai akhir zaman. Sekali lagi, Yesus, Anak Allah, ditunjuk secara langsung oleh Allah untuk menjadi imamat yang lebih baik (“menurut urutan Melkisedek,” Mzm. 110:4). Maka, dalam peran, pribadi, dan pengangkatan, Yesus melampaui semua Imam Besar di Israel kuno. Oleh karena itu, melalui Yesus, Imam Besar yang sejati, kita dapat menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keyakinan dan keberanian, dan kita dapat mengharapkan belas kasihan dan kemurahan Allah. Kita juga diyakinkan bahwa Imam Besar kita , Yesus, bersimpati kepada kita karena, setelah berbagi, dan terus berbagi dalam sifat manusiawi kita, Dia mampu berbelas kasih. Setelah menderita kematian untuk menyelamatkan kita, Yesus adalah seorang penyembuh yang terluka. Di sini, sekali lagi, kita melihat sifat kemurahan hati dari hubungan kita dengan Allah kita. “Aku percaya, bahwa aku akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang hidup ” (Mzm. 27:13)
Injil hari ini menggambarkan perjalanan terakhir Yesus menuju Yerusalem melalui Yerikho, sebuah kota kuno yang berjarak lima belas mil dari Yerusalem. Yerikho adalah kota pertama yang ditaklukkan oleh bangsa Israel ketika mereka memasuki Palestina. Kota ini merupakan kota yang kaya raya dan memiliki keindahan yang luar biasa, dengan banyak perkebunan kurma dan pohon ara. Sejumlah besar pedagang dan para imam Yahudi membuat rumah mereka di kota yang menyenangkan ini. Hukum Taurat mewajibkan setiap pria Yahudi yang berusia di atas dua belas tahun dan tinggal dalam jarak lima belas mil dari Yerusalem untuk menghadiri Paskah. Mereka yang karena satu dan lain hal dibebaskan dari kewajiban ini, sering kali berbaris di sepanjang jalan menuju Yerusalem untuk menyapa kerumunan peziarah yang melintas menuju kota tersebut. Para rabi yang sedang berziarah sering mengajarkan pelajaran agama kepada para peziarah dalam perjalanan mereka. Para pengemis juga memanfaatkan peningkatan lalu lintas melalui kota itu untuk meminta-minta. Salah satu pengemis tersebut adalah seorang pria buta yang dikenal sebagai Bartimeus.
Perhatian Yesus tertuju kepada si buta, Bartimeus. Kisah Bartimeus adalah mukjizat penyembuhan terakhir yang dicatat dalam Injil Markus. Nama Bartimeus dalam bahasa Aram berarti ‘anak Timaeus’, sama seperti Petrus yang dikenal sebagai Simon bar-Yona, ‘anak Yunus’. Sebagianbesar orang yang mengalami kesembuhan dalam Perjanjian Baru tidak disebutkan namanya. Namun dalam kisah ini, nama pengemis itu disebutkan sebagai Bartimeus. Rupanya ia telah mendengar hal-hal berkaitan dengan Yesus. Maka ketika ia mendengar bahwa Yesus dari Nazaret hendak melintas, ia berteriak meminta perhatian Yesus sebagai orang yang ditinggalkan oleh Tuhan dan manusia, yang hampir tidak berani memimpikan sesuatu yang lebih baik. Ia mulai meneriakkan doa imannya yang luar biasa: “Anak Daud, kasihanilah aku.” (Mungkin ada anggapan populer bahwa setiap anggota keluarga Daud telah mewarisi setidaknya sebagian dari kekuatan nenek moyang mereka yang termasyhur? Kita juga harus ingat bahwa, terutama di bawah pendudukan Romawi, gelar “Anak Daud”, dengan asosiasi kerajaan dan mesianisnya, akan memiliki nuansa politis yang kuat, dan berpotensi menjadi subversif.) Yesus mendengar satu suara yang berseru di tengah-tengah keributan orang banyak. Siapa yang menyangka salam mesianis dari seorang pengemis buta? Terlepas dari keberatan orang banyak, Yesus berhenti dan, mengakui iman Bartimeus, memanggil orang buta itu. Dalam Hukum Musa, orang buta termasuk di antara mereka yang harus diberi perlindungan atas nama Tuhan. Imamat memperingatkan orang Israel untuk tidak “mengutuk orang tuli atau meletakkan batu sandungan di depan orang buta.” Dalam Ulangan, mereka yang menyesatkan orang buta di sepanjang jalan ditempatkan di bawah kutukan yang sama dengan mereka yang menahan keadilan dari orang asing, yatim piatu, atau janda. Mazmur 146 menyatakan bahwa Allah memberikan penglihatan kepada orang buta, mengangkat mereka yang tertunduk dan mengasihi orang benar.
Orang-orang menyampaikan undangan Yesus kepada Bartimeus, yang menanggapinya dengan melompat dan berlari ke arah Yesus. Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Daud, pengemis itu secara terbuka mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias. Mendengar panggilan Yesus, Bartimeus menanggalkan jubah panjangnya, satu-satunya miliknya, yang melindunginya dari panas dan dingin. Dengan membuang jubahnya, ia melepaskan segala sesuatu yang menjadi sandaran hidupnya, dan menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan. Membuang jubahnya melambangkan sebuah pemutusan hubungan yang radikal dengan kehidupan sebelumnya, dengan cara yang sama seperti Petrus, Yakobus dan Yohanes yang meninggalkan perahu dan jala mereka ketika “dipanggil” oleh Yesus. Energi dan semangat yang dimiliki Bartimeus dalam menanggapi panggilan Yesus seharusnya menjadi ciri khas semua orang yang ingin menanggapi panggilan Yesus. Yesus kemudian bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Bartimeus menjawab dengan segera: “Guru, supaya aku dapat melihat.” Yesus menghargai imannya dengan memulihkan penglihatan jasmani dan rohaninya. Setelah menerima penglihatan jasmani dan rohani, Bartimeus mengikuti Yesus dengan penuh sukacita di sepanjang jalan. Karunia penglihatan membawa Bartimeus kepada Iman, dan Iman dinyatakan secara penuh dalam pemuridan yang berkomitmen. Ia ingin selalu dekat dengan Juruselamatnya, bersyukur, memuji, dan melayani Dia. Dengan demikian, Injil hari ini menampilkan Bartimeus sebagai model bagi kita dalam doanya dan dalam komitmennya yang sepenuh hati terhadap pemuridan yang mencakup, dan masih mencakup, penolakan dari mereka yang menolak untuk percaya. Bartimeus dihadirkan kepada kita, orang-orang beriman masa kini, sebagai model dalam cara Kristiani karena ia adalah seorang yang memiliki iman dan visi, seorang yang tidak takut untuk mengakui kebutuhannya akan kesembuhan dan berseru, “Aku ingin melihat!” Orang dari Yerikho ini juga mengundang kita untuk mengikutinya ke jalan yang benar. Mari kita ingat pepatah Persia kuno, “Orang buta yang melihat lebih baik daripada orang yang melihat tetapi buta.”
Apa pesan Sabda Tuhan bagi kita hari ini?
- Daripada tetap berada dalam kebutaan rohani, marilah kita berdoa untuk mendapatkan penglihatan rohani. Setiap dari kita menderita kebutaan rohani. Oleh karena itu, kita membutuhkan terang Roh Kudus untuk menerangi kita. Kemarahan, kebencian, prasangka, iri hati, kebiasaan jahat, kecanduan, kemalasan, dan sebagainya, membuat kita buta secara rohani dan menghalangi kita untuk melihat kebaikan di dalam diri sesama kita dan kehadiran Allah di dalam diri mereka. Kita buta akan rasa keadilan ketika kita mengambil apa yang bukan hak kita, atau ketika kita menagih upah kita meskipun kita tidak bekerja dengan jujur, atau kita melakukan korupsi. Kita dibutakan oleh keserakahan ketika kita tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki dan lupa bersyukur. Oleh karena itu, marilah kita berdoa untuk memiliki visi yang jelas tentang nilai-nilai dan prioritas Kristiani dalam hidup kita dan untuk mengakui kehadiran Allah yang berdiam di dalam diri kita dan di dalam sesama kita. Visi rohani yang jelas memampukan kita untuk melihat kebaikan dalam diri orang lain, untuk mengungkapkan penghargaan kita atas semua yang telah mereka lakukan untuk kita, dan menahan diri untuk tidak mengkritik secara sembarangan.
- Kita perlu “berseru” kepada Yesus, seperti yang dilakukan oleh Bartimeus. Seperti Bartimeus, kita harus mencari Yesus dengan kepercayaan akan kebaikan dan belas kasih-Nya. Kadang-kadang ketakutan, kemarahan, dan kebiasaan kita melakukan dosa menghalangi kita untuk menghampiri Allah dalam doa. Kadang-kadang, kita bahkan menjadi marah kepada Tuhan ketika Dia tampak lambat dalam menjawab doa-doa kita. Pada saat-saat putus asa, marilah kita menghampiri Yesus dalam doa dengan iman yang penuh keyakinan seperti yang dilakukan Bartimeus dan dengarkanlah dengan saksama suara Yesus yang bertanya kepada kita: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Marilah kita memberitahukan kepada-Nya semua maksud dan kebutuhan hati kita. Marilah kita meneladani Bartimeus, orang yang memiliki iman dan visi, orang yang tidak takut untuk mengakui kebutuhannya akan kesembuhan dan berseru, “Aku ingin melihat!” Yesus selalu menjawab doa yang dipanjatkan dalam Iman (KGK #2616), dan hal ini memberi kita pengharapan yang berkelanjutan. Kita perlu berseru dengan rendah hati memohon belas kasih untuk kebutaan rohani kita sendiri (KGK #2667).
Tuhan, sembuhkanlah aku seperti Engkau menyembuhkan Bartimeus, agar aku dapat sungguh-sungguh melihat. Amin.
