Remah Harian

AMPUNILAH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 11 November 2024, Peringatan Wajib St. Martinus dari Tours
Bacaan: Tit 1:1-9Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6Luk 17:1-6

Hari ini, Injil menyajikan kepada kita tiga pesan yang berbeda dari Yesus. Yang pertama membahas tentang bagaimana mencegah terjadinya penyesatan terhadap orang lain, yang kedua menekankan pentingnya pengampunan, dan yang ketiga menyoroti iman kita kepada Allah.

Menyesatkan orang lain berarti menjadi alasan bagi mereka untuk berpisah dengan Tuhan dan menyebabkan mereka kehilangan iman kepada-Nya.

Siapa pun yang menyentuh mereka yang lemah berarti menyentuh Yesus! Meskipun kita mengaku beriman kepada Allah, tetapi tindakan-tindakan kita yang tidak pantas dan cara hidup kita yang memalukan menyebabkan orang lain, terutama yang lemah,  menjauh dari Gereja, membuat mereka kehilangan kemampuan untuk percaya. Sampai di titik manakah kita bersalah? Apakah perlu batu batu kilangan diikatkan di leher kita dan dilemparkan ke laut?

Pesan kedua yang diberikan oleh Yesus adalah perlunya menegor sesama yang berbuat dosa dan kesediaan mengampuni. Yesus menekankan perlunya teguran persaudaraan [correctio fraternal]. Tak jarang kita merasa senang “memaklumkan” kesalahan orang lain di depan umum dengan tujuan membuat mereka malu. Apakah dengan itu kita memberikan efek jera? Atau apakah ini dimaksudkan untuk membuat kita merasa senang dan memuaskan hawa nafsu kita? Yesus cukup langsung dan jelas dalam pernyataan-Nya tentang bagaimana menghadapi saudara atau saudari yang bersalah: jika mereka berDosa terhadap anda, beritahu mereka secara langsung dan secara pribadi tentang hal itu – tak perlu mempermalukan mereka di depan umum. Ketika mereka bertobat, ampunilah mereka, bahkan jika mereka bersalah terhadap kita tujuh kali sehari dan tujuh kali pula mereka menyesal! Tidak ada proporsi antara pengampunan yang kita terima dari Allah dan pengampunan yang harus kita berikan kepada sesama kita. Ini tidak berarti bahwa kita tidak meminta pertanggungjawaban mereka atas kesalahan yang telah mereka lakukan atau tidak ingin mereka melakukan perbaikan untuk hal yang sama. Ini hanya berarti bahwa kita tidak merampas hak mereka atas martabat dasar manusia, tetapi bertindak dengan belas kasih, bahkan ketika kita meminta pertanggungjawaban mereka.

Pengampunan bukanlah tugas yang mudah. Hanya melalui iman yang dalam kepada Allah, kita dapat menumbuhkan kasih yang begitu besar sehingga memampukan kita untuk mengampuni saudara kita yang bersalah kepada kita Tujuh Kali, atau “Tujuh puluh kali tujuh kali” [Mat 18: 21 – 22]. Artinya, seperti kita telah diampuni oleh Allah secara tak terbatas, kita juga mengampuni secara tak terbatas. Itulah sebabnya para Rasul berkata kepada Tuhan, “Tambahlah iman kami.” Bagi dunia, pengampunan seperti itu mungkin terlihat bodoh dan memalukan. Namun, bagi kita orang Kristen, sikap ini melambangkan hikmat ilahi, yang mengaruniakan pengampunan yang tak terhingga kepada kita. “To err is human, to forgive, divine,” kata Alexander Pope. “Semua orang berbuat dosa dan membuat kesalahan. Tuhan mengampuni mereka, dan kita bertindak atas cara ilahi ketika kita mengampuni.”

Tuhan, tambahkanlah iman kami agar kami dapat mengampuni.

***

Santo Martinus dari Tours, Uskup dan Pengaku Iman

Hari ini kita peringati St. Martinus dari Tours. Martinus lahir di Sabaria, Pannonia (sekarang: Szombathely, Hungaria Barat) pada tahun 335 dan dibesarkan di Italia. Ayahnya seorang perwira tinggi Romawi yang masih kafir. Sulpicius Severus, pengikut dan penulis riwayat hidupnya, mengatakan bahwa Martinus pada umur 10 tahun diam-diam mengikuti pelajaran agama Kristen tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ayahnya sangat mengharapkan dia menjadi perwira Romawi seperti dirinya. Oleh karena itu pada usia 15 tahun, ia memasukkan Martinus dalam dinas militer.

Dalam suatu perjalanan dinas ke kota Amiens, pada musim dingin tahun itu, Martinus berpapasan dengan seorang pengemis malang yang sedang kedinginan di pintu gerbang kota. Pengemis itu mengulurkan tangannya meminta sesuatu dari padanya. Kasihan ia tidak membawa uang sesen pun pada waktu itu. Apa yang dilakukannya? Tergerak oleh belaskasihannya yang besar pada pengemis malang itu, ia segera menghunus pedangnya dan membelah mantelnya yang indah itu: sebagian untuk dia dan sebagian diberikan kepada pengemis itu. Ketika memasuki kota Amiens, banyak orang menertawakan dia karena mantelnya yang aneh itu.

Pada malam itu juga, Yesus bersama sejumlah malaekat Allah menampakkan diri kepadanya. Dalam penglihatan itu Martinus melihat Yesus mengenakan mantel setengah potong yang sama dengan bagian mantel yang diberikan kepada pengemis malang tadi. Kepada para malaekat itu Yesus berkata: “Martin, seorang katekumen memberikan Aku mantel ini.” Tak lama kemudian ia dipermandikan dan segera mengajukan permohonan pengunduran diri dari dinas ketentaraan. Kepada atasannya ia berkata: “Saya ini tentara Kristus, karena itu saya tidak boleh berperang.” Atasannya dan perwira-perwira lainnya mencerca dan menuduhnya pengecut. Tetapi dengan tegas Martinus menjawab: “Saya berani pergi berperang dan bersedia berdiri di front terdepan tanpa membawa sepucuk senjata pun.” Akhirnya permohonannya dikabulkan dan ia secara resmi berhenti dari dinas militer Romawi.

Sesudah itu ia menjadi murid Santo Hilarius, Uskup Poiters. Setelah beberapa lama dididik oleh Santo Hironimus, ia ditahbiskan menjadi imam dan diutus ke Illirikum, Yugoslavia untuk mewartakan Injil di sana. Tetapi karena ia mendapat banyak tantangan dari para penganut aliran sesat Arianisme, maka ia mengundurkan diri dan hidup bertapa di sebuah pulau dekat pantai selatan Prancis. Kemudian ia bergabung lagi dengan Santo Hilarius dan mendirikan sebuah biara di Liguge, Prancis. Inilah biara pertama di Prancis. Di dalam biara ini ia menjadi pembimbing bagi rahib-rahib lain yang ingin mengikuti jejaknya.

Kemudian pada usia 55 tahun, ia ditahbiskan menjadi Uskup Tours. Ia tidak mempunyai istana yang istimewa, hanya sebuah bilik sederhana di samping sakristi gereja. Bersama rahib-rahibnya, Martinus giat mewartakan Injil. Kotbah-kotbahnya diteguhkan Tuhan dengan banyak mujizat. Dengan berjalan kaki, naik keledai atau dengan perahu layar ia mengunjungi semua desa di keuskupannya. Ia tak gentar menghancurkan tempat-tempat pemujaan berhala, dan tanpa takut-takut menentang praktek hukuman mati yang dijatuhkan kaisar terhadap tukang-tukang sihir dan penyebar ajaran sesat. Itulah sebabnya ia tidak disukai oleh orang-orang Kristen yang fanatik. Tetapi Martinus tetap pada pendiriannya: menjunjung tinggi keadilan dan menentang sistim paksaan. Martinus adalah salah seorang dari para kudus yang bukan martir. Ia meninggal dunia pada tanggal 8 Nopember 397. **

Author

Write A Comment