Sabda Hidup
Rabu, 5 Juni 2024, Rabu Pekan Biasa IX, Peringatan St. Bonifasius
Bacaan: 2Tim 1:1-3.6-12; Mzm 123:1-2a.2bcd; Mrk 12:18-27
Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.”
MRK 12: 27
Kehidupan setelah kematian adalah sebuah kenyataan yang lebih mudah kita akui daripada menjelaskannya. Kita memperbincangkannya dengan menggunakan bahasa masa kini, yang merupakan satu-satunya cara yang kita miliki. Pertanyaan tentang perkawinan yang diangkat dalam Injil hari ini adalah contoh klasik dari hal tersebut.
Dalam hukum Yahudi, jika seorang pria meninggal tanpa anak, saudaranya diwajibkan untuk menikahi jandanya dan memiliki anak atas nama saudaranya yang telah meninggal. Situasi ini tercermin dalam kisah Tobit dalam Perjanjian Lama, di mana Sarah menjadi bahan ejekan para pelayannya sendiri. Bingung setelah kematian tujuh suaminya, dia memohon kepada Tuhan untuk mengambil nyawanya.
Pertanyaan ini bersifat hipotetis dan diajukan oleh orang-orang Saduki, yang tidak percaya pada kebangkitan. Mereka bertanya siapakah suami seorang perempuan pada saat kebangkitan, jika dia telah menikah dengan tujuh laki-laki. Pertanyaan ini mencerminkan jenis penghindaran yang dilakukan oleh para pengajar Israel. Namun, Yesus mengubah fokus pembicaraan dengan menjelaskan bahwa di surga, tidak akan ada perkawinan dan tidak akan ada kelahiran anak. Kehidupan setelah mati adalah cara hidup yang sama sekali baru.
Kita sering berspekulasi tentang kehidupan setelah kematian, berdasarkan pengalaman kita saat ini. Namun, kenyataannya adalah bahwa kehidupan setelah kematian adalah misteri dari rencana Tuhan, dan kita ditakdirkan untuk menjadi bagian darinya. Tantangan yang kita hadapi sekarang tidak ada artinya dibandingkan dengan keagungan yang sedang dinyatakan dalam diri kita. Kita diselamatkan bukan karena kemampuan kita sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah. Maut telah kehilangan kuasanya, dan jalan menuju kehidupan dan keabadian telah terbuka bagi kita. Hal ini telah dimungkinkan melalui Yesus, Juruselamat kita.
Kita perlu menjalani kehidupan orang-orang yang telah dibangkitkan: Artinya, kita tidak boleh berbaring terkubur di dalam kuburan dosa-dosa dan kebiasaan-kebiasaan jahat kita. Sebaliknya, kita harus menjalani kehidupan yang penuh sukacita dan damai, terus-menerus mengalami kehadiran nyata dari Tuhan yang telah Bangkit yang memberi kita jaminan bahwa tubuh kita juga akan dibangkitkan. Pemikiran yang bermanfaat tentang kebangkitan dan kemuliaan kekal kita sendiri hendaknya juga mengilhami kita untuk menghormati tubuh kita, menjaganya tetap kudus, murni, dan bebas dari kebiasaan-kebiasaan jahat, dan menghormati mereka yang berhubungan dengan kita, dengan memberikan pelayanan yang penuh kasih dan kerendahan hati kepada mereka.
Allah yang hidup, Engkaulah Allah perjanjian dan kasih yang setia. Peliharalah kami dalam kasih-Mu dan penuhilah janji kehidupan yang telah Engkau berikan kepada kami melalui Anak-Mu, Yesus Kristus. Biarlah hidup-Nya memancar keluar dari diri kami, sepenuhnya dan kaya, hingga mekar menjadi kehidupan yang tak berkesudahan.
