Sabda Hidup
Minggu, 6 April 2025, Minggu Prapaskah V, Tahun C
Bacaan: Yes. 43:16-21; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Flp. 3:8-14; Yoh. 8:1-11.
“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
[YOH 8: 11]
Menjelaskan bagaimana Allah yang penuh belas kasihan mengampuni dosa-dosa umat pilihan-Nya dan membawa mereka kembali dari pembuangan di Babel, bacaan pertama (Yes 43: 16 – 21) mengingatkan kita bahwa kita pun telah diampuni, dan kita telah diselamatkan dari keberdosaan kita. Dalam bacaan kedua (Flp 3: 8 – 14), Paulus menampilkan dirinya sebagai orang berdosa yang telah diampuni yang telah diubahkan sepenuhnya oleh imannya kepada Kristus Yesus. Hidupnya adalah contoh dari nasihat Injil, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Paulus begitu mengasihi Kristus. Kristus adalah segala-galanya sehingga “segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.” Karena itu ia ingin ambil dalam bagian dalam penderitaan-Nya dan bahkan dalam kematian-Nya sehingga ia dapat ambil bagian dalam Kebangkitan Kristus.
Dalam Injil hari ini, kita menyaksikan pertemuan yang luar biasa antara belas kasihan dan penghakiman. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzinah ke hadapan Yesus. Mereka datang dengan batu di tangan, siap untuk menghukum. Tetapi Yesus tidak langsung menanggapi. Dia membungkuk dan menulis di tanah – Santo Agustinus mengatakan bahwa Dia mungkin sedang menulis dosa-dosa para penuduh. Setelah Yesus berkata, “”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu,” satu demi satu, mereka pergi, menyadari ketidaksempurnaan mereka sendiri.
Seberapa sering kita bertindak seperti para penuduh itu? Kita menuding, menghakimi, dan lupa bahwa kita juga adalah orang berdosa yang membutuhkan belas kasihan. Dalam keluarga, komunitas, dan bahkan di dunia maya, kita mudah sekali ikut mengutuk orang lain, bersembunyi di balik ilusi kebenaran. Namun, Yesus mengundang kita untuk melepaskan batu-batu yang kita genggam – batu penghakiman yang keras, gosip, dan ketidakpedulian.
Dalam keheningan di Bukit Zaitun, Yesus menemukan waktu untuk berdoa dan mendengarkan Bapa. Kita juga diundang ke dalam keheningan itu, di mana kita dapat mendengar Tuhan mengingatkan kita bahwa kita dikasihi dan diampuni. Dan ketika kita menyadari betapa kita telah diampuni, kita dipanggil untuk mengampuni.
“Akupun tidak menghukum engkau,” kata Yesus kepada perempuan itu. Kata-kata ini dapat mengubah hidup seseorang. Masa Prapaskah adalah kesempatan kita untuk mendengar kata-kata ini diucapkan kepada kita secara pribadi. Yesus mengangkat kita dari rasa malu dan kesalahan masa lalu kita dan memanggil kita untuk berjalan dengan bermartabat dan penuh pengharapan.
Tuhan, ajar kami saling menerima dengan hati berbelas kasih. Amin.
